
"Jadi, namamu adalah Arita?" Suara bariton dengan nada rendah itu, seketika menarik atensi mereka berdua. Arita dan juga wanita di hadapannya, sama-sama menoleh ke arah sumber suara dan mendapati seorang pria tengah menatap ke arahnya.
Sontak, tubuh Arita membeku di tempatnya. Wanita itu langsung menundukkan kepala, dengan pandangan yang teralih ke objek lain. Ia masih tak menyangka, akan bertemu dengan pria yang ia jumpai beberapa saat lalu.
"Kenapa, Gib? Kau kenal dengannya?" tanya si wanita yang duduk dengan anggun di depan Arita. Besar harapan Arita, supaya pria itu tak mengaku-ngaku. Wanita itu melipat bibirnya kedalam, dengan mata yang terpejam sejenak.
Sedangkan si pria, menganggukkan kepala meski terlihat ragu akan jawabannya sendiri. Dengan santai, Gibran berjalan mendekat ke arah mereka berdua. Melihat kursi di sebelah Arita yang kosong, pria itu mendudukkan tubuhnya di sana.
"Kami masih sama-sama asing. Benar begitu kan, Nona?" tanya si pria yang menyenderkan tubuhnya dengan santai di kursi berbahan kayu jati tersebut.
Sontak, hal itupun membuat Arita sedikit terkejut. Ia berusaha mati-matian untuk menjaga jarak dengan pria asing itu. Namun berbeda dengan Gibran, yang entah mengapa ingin mendekat ke arah wanita dengan dress abu-abu itu.
__ADS_1
"Apa maksudmu, Gib? Bagaimana bisa, kalian saling kenal? Sedangkan Arita saja, baru pindahan kemarin."
Tatapan si pria langsung mengarah pada sosok yang duduk dengan kaku, di sampingnya. Alisnya saling berkerut, seolah tak paham. Kemudian tatapannya beralih pada wanita yang ada di hadapannya.
"Apakah dia warga baru disini?" tanyanya dengan menunjuk ke arah Arita. Melihat anggukkan kepala wanita tersebut, membuat Gibran menganggukkan kepalanya kecil.
Arita hanya terdiam, mendengar percakapan kedua orang tersebut. Jemarinya memainkan sebuah cincin yang ia kenakan di jari tengah, seolah untuk melampiaskan rasa tak nyamannya. Awalnya ia terasa nyaman, saat berbincang dengan Mona-calon atasan barunya.
Gibran hanya merotasikan matanya, begitu malas mendengar sindiran dari kakak satu-satunya itu. Monalisa Daniswara, kakak dari seorang pengusaha muda yang kini berprofesi sebagai pimpinan notaris. Wanita yang memiliki selisih 5 tahun dari Gibran itu, memilih sukses dengan caranya sendiri.
"Kami sempat bertemu, karena insiden kecil tadi pagi. Dan ya, akulah penyebabnya," jawab si pria dengan menumpukan kedua lengannya di pinggiran kursi.
__ADS_1
Sedangkan Arita, diam-diam mengumpat dalam hati begitu mendengar ucapan si pria. Kecil katanya? Bahkan karena insiden 'kecil' itu, dirinya harus mandi untuk yang kedua kalinya di pagi ini. Mengingat dinginnya air di kawasan rumahnya, membuat wanita itu ingin menyiramkannya di tubuh si pria.
Setidaknya, biarkan orang asing itu merasakan akibat yang diciptakannya sendiri.
"Apakah kau cidera karena ulah adikku?" tanya Mona yang nampak khawatir saat mendengar penuturan adiknya. Tatapan si wanita langsung melirik Gibran dengan sinis, begitu mengetahui sang adik membuat masalah dengan seseorang yang ia anggap penting.
"Ah tidak, Bu ... Saya baik-baik saja," kilah si wanita secepat mungkin. "Lagi pula, insiden itu tidak seburuk yang Ibu bayangkan."
Gibran lantas menatap jengah pada kakaknya itu. Sembari beranjak dari duduknya, pria itu berdiri menghadap pembatas kaca yang menampakkan langsung hamparan sawah yang begitu luas. Tangan kekarnya mengeluarkan sebungkus rokok, lengkap dengan korek apinya.
"Kau tidak usah berlebihan, Kak. Mobilku tak sengaja melintasi jalanan berlubang,"
__ADS_1