
Waktu terus berjalan, sementara Arita masih terus-terusan melafalkan doa didalam hatinya. Hari semakin sore, namun Arita masih belum mendapatkan ketenangan dalam hatinya. Ditemani oleh Arum dan suaminya, Arita masih menunggu kehadiran Riko.
"Semoga Baron tetap aman ya, Ta? Kita banyak-banyak berdoa aja," ucap Arum berusaha untuk menenangkan Arita. Meski mustahil, tak ada satupun ibu yang merasa tenang ketika anaknya tidak bersama dengannya.
"Baron anak yang baik, Allah pasti jaga dia ..." ucap Arita berusaha meyakinkan dirinya sendiri, bahwa putranya pasti mendapatkan perlindungan dari yang kuasa. Mengingat bahwa putranya adalah anak yang kuat, membuat Arita berharap semoga Baron diposisi yang aman.
Pikiran yang semula membayangkan hal yang tidak-tidak, kini teralihkan pada sebuah notifikasi yang masuk di ponselnya. Setelah membaca pesan tersebut, Arita membekap bibirnya dengan erat. Sontak, Arum yang melihat hal itupun merasa sedikit panik.
"Kamu kenapa, Ta? Ada apa?" tanya Arum dengan mendekat ke arah Arita.
Untuk sejenak, wanita yang merupakan ibu dari Baron itu pun diam membisu. Tangannya mencengkram erat ponsel miliknya, hingga kukunya memutih. Napas Arita mulai memburu, membuat dadanya bergerak naik dan turun tak beraturan.
"Ternyata dia penyebab semua ini, Mbak." Arum mengerutkan keningnya bingung, ketika mendengar Arita berujar demikian.
Dengan raut wajah yang terlihat emosi, Arita menatap kedua netra milik wanita itu. Sebelah tangannya memegangi jemari Arum, kemudian merematnya lembut berusaha untuk meminta support. Tanpa menjawabnya, Arita menunjukkan sebuah pesan yang baru saja ia terima.
"Jangan gegabah, Ta. Kita tunggu Riko dulu," cegah Arum yang tidak ingin Arita mengambil langkah yang salah. Begitu melihat pesan dari nomor asing tersebut, membuat Arum mulai berspekulasi tentang seseorang itu.
"Dia minta aku datang ke gedung itu, Mbak. Kalau aku nggak turuti, gimana sama nasib Baron?" cemas wanita tersebut, sehingga membuat Arum menganggukkan kepalanya paham. Ia mengelus pundak Arita dengan lembut.
"Sabar, kita tunggu sebentar lagi, ya?" bujuk Arum.
"Kenapa, Rum?" tanya suaminya yang baru saja muncul bersama dengan beberapa warga lainnya. Melihat hal itu, membuat Arita langsung menatap ke arah pintu dengan perasaan sungkannya.
"Baron ada di gedung tua, masih ditahan sampai Arita datang sendiri." Perkataan Arum membuat semua orang yang ada disana merasa terkejut. Mereka saling bertatap mata, berusaha memikirkan langkah yang harus Arita ambil sehingga tidak gegabah.
"Mbak Arita kenal orang itu?" tanya salah satu dari mereka.
"Saya belum tahu pasti orangnya, Pak. Hanya saja, saya sudah memperkirakan pelakunya," sahut Arita usai membaca pesan yang tadi ia baca. Pikirannya langsung tertuju pada Banu, yang selalu mengintai dirinya dan Baron.
"Dia minta tebusan atau hal lain?" tanya suami Arum.
"Dia nggak minta apapun, Mas. Dia cuma minta supaya Arita datang sendiri untuk menjemput Baron kesana," papar Arum setelah melihat pesan diponsel Arita secara langsung. Wanita itu juga merasa janggal, siapakah pelaku yang terkesan sangat kekanakan.
Tak lama setelah itu, mereka semua mulai bungkam tatkala sebuah mobil berhenti di halaman rumah Arita. Kemudian, tiga orang pria bertubuh besar dengan pakaian hitamnya keluar dari dalam. Disusul oleh seorang pria dengan jas hitamnya, lengkap dengan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya.
"Apakah dia Riko?" tanya Arum pada Arita.
__ADS_1
"Aku juga nggak tau, Mbak," sahut Arita sembari menggelengkan kepalanya. Tatapan ibu satu anak itu, tertuju pada pria yang kini mulai mendekat ke arah pintu utama sembari mengetatkan rahangnya dengan erat.
"Sore, benar dengan Nyonya Arita?" ucap si pria dominan sembari melepaskan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya.
Melihat bola mata berwarna biru safir itu, berhasil membuat Arita merasakan aura intimidasi dari pria asing itu. Dengan bangkit dari duduknya, Arita menganggukkan kepala dengan sopan tatkala pria itu menyebut namanya.
Atensi pria yang merupakan suruhan dari Andre pun, mengalihkan pandangannya ke arah wanita yang berdiri tak jauh dari posisinya. Kemudian, Riko mulai menganggukkan kepalanya singkat, sembari melewati kerumunan beberapa warga di ambang pintu.
"Dimana terakhir kali putramu berada?" tanya Riko dengan singkat.
"Di sekolahnya, sekitar pukul sebelas siang tadi," jawab Arita dengan menatap singkat ke arah Arum, yang menganggukkan kepalanya. Sementara kini, jam sudah menunjukkan pukul setengah 6 sore. Yang berarti, putranya tak ditemukan sudah lebih dari enam jam.
"Ada yang berkata pada saya, jika Baron sudah dijemput menggunakan mobil hitam. Sementara Arita maupun Gibran, tidak menjemput Baron siang tadi," papar Arum dengan lebih rinci kepada pria itu.
"Ada lagi?" tanya Riko dengan memasukkan tangan kedalam celananya.
Teringat sesuatu, Arita langsung menunjukkan pesan yang berada di ponselnya. Melihat hal itupun, membuat Riko menatapnya layar ponsel yang menyala untuk beberapa saat. Kemudian, pria itu menyerahkan ponsel milik Arita kepada anak buahnya yang berdiri stand by dibelakang.
"Lacak nomornya," perintah Riko sehingga langsung dilaksanakan oleh pria yang menerima ponsel Arita. Tanpa menunggu lama, pria itu kembali masuk kedalam mobil untuk menjalankan tugasnya.
"Kita akan mengantarmu. Jangan khawatir, Nyonya," ucap Riko dengan memandang singkat ke arah netra teduh milik Arita. Pandangannya tertuju pada pergelangan tangannya, untuk melihat waktu agar dirinya tidak salah mengambil langkah.
"Saya harap, untuk yang lainnya bisa kembali. Saya akan mengusahakan yang terbaik," saran pria berwajah tampan itu sembari menatap ke beberapa orang yang berdiri tegang dengan tatapan yang tertuju kepadanya.
"Baik jika begitu, kami izin pamit Mbak Arita. Kami mengharapkan kabar baik secepatnya," ucap ketua RT disana, sembari membubarkan beberapa warganya yang bergerombol datang ke rumah pendatang baru tersebut.
"Terima kasih banyak, Pak ..." ucap Arita mengiyakan.
Setelah kepergian mereka semua, kini tersisa Arita yang ditemani oleh Arum dan suaminya. Sementara Riko, kini masih berdiri dengan menghadapkan tubuhnya ke arah mobil yang terparkir di halaman rumah sederhana tersebut.
"Apakah anda yang bernama Riko?" tanya Arita kepada pria yang memasukkan tangannya kedalam saku celana.
"Saya Alriko, keponakan Om Andre. Semoga saya bisa membantumu dengan sebaik mungkin," sahut pria itu dengan menganggukkan kepalanya singkat. Nada dingin yang selalu Arita tangkap setiap kali Riko berucap, membuat wanita itu dapat menyimpulkan bagaimana sifat si pria.
"Terima kasih banyak, maaf saya merepotkanmu," ucap Arita yang tidak direspon apapun oleh pria di sebelahnya.
Sementara Arum, wanita itu menggigit kukunya dengan cemas, memikirkan bagaimana nasib Baron hingga saat ini. Rasa bersalahnya tak kunjung surut, sebelum ia sendiri mengerti bagaimana kabar Baron. Sungguh, wanita itu merasa sangat menyesal atas kecerobohannya.
__ADS_1
"Ikuti saja petunjukku. Maka kau akan aman," ucap Riko dengan memandang ke arah. Netra hitam pekat milik pria itu, mungkin saja akan berhasil mengintimidasi siapapun yang berani menatapnya.
Rahang tegas yang mengetat, serta urat yang terlihat menonjol di pelipisnya, sangat menggambarkan bagaimana kebringasan dari pria itu. Tak lama kemudian, salah satu anak buahnya mulai keluar dengan membawakan ponsel milik Arita.
"Posisinya tidak valid dengan gedung yang dimaksud, Tuan. Bisa saya pastikan, dia tidak menyiapkan semuanya dengan proper," ungkap si pria kepada Riko, sembari menunjukkan hasil lacakannya.
Tak lama setelahnya, keponakan dari Andre itu mulai tersenyum miring. Arita yang melihatnya pun, hanya bisa meneguk ludahnya susah payah.
"Terlalu klise," respon Riko dengan sangat singkat.
"Sepertinya kita akan bersenang-senang untuk malam ini," lanjut Riko sembari menggulung lengan jasnya ke atas. Kemudian, pria itu menghadapkan tubuhnya menatap Arita dengan tatapan datarnya.
"Kau jawab saja pesan itu," perintahnya telak.
Tanpa ba-bi-bu, Arita langsung mengikuti saran dari pria itu. Setelah mengetikkan balasan di ponselnya, Arita menunjukkan pada Riko sekedar untuk memastikan. Usai mendapati anggukkan setuju dari pria itu, Arita langsung mengirimkannya.
"Tenanglah, putramu berpotensi besar untuk bisa diselamatkan," ucap Riko tanpa keraguan sama sekali. Mendengar hal itu, membuat ketiga orang yang berdiri cemas dihadapannya mulai bernapas lega.
"Tapi, jangan gegabah. Semua yang terjadi bisa diluar kendali kita," imbuh Riko yang tidak menginginkan hal buruk menghancurkan semua rencananya. Pria itu berusaha semaksimal mungkin untuk menjalankan amanat dari paman dan bibinya.
"Dia membalas," ucap Arita dengan kaget.
"Temui aku di gedung tua, tanpa siapapun. Ingat, jika kau bersama orang lain, putramu tidak akan selamat." Setelah membaca pesan itu, Arita langsung menggelengkan kepalanya dengan mata yang mulai berair.
"Ta-tapi, bagaimana jika dia benar-benar melakukannya?" tanya Arita yang mulai bimbang, ketika ia akan datang kesana ditemani oleh Riko dan anak buahnya. "Apakah aku harus datang sendiri, demi keselamatan putraku?"
"Jangan bodoh, Nyonya. Jika kau melakukan hal itu, sama saja kau menyerahkan nyawamu dan putramu pada pria bodoh itu!" sentak Riko yang tidak ingin membahayakan nyawa siapapun. Ia hadir disini, berusaha untuk melindungi Arita dan putranya.
"Tapi dia akan membunuh putraku jika aku datang dengan orang lain!" sentak Arita tepat di hadapan wajah Riko.
Mendapati hal itu, membuat si pria memejamkan kedua matanya dengan tangan yang terkepal kuat. Jika saja yang dihadapannya ini adalah seorang pria, mungkin saja tonjokan mentah sudah mendarat di pipinya.
"Gunakan kewarasanmu untuk berpikir," ucap Riko dengan mengetuk pelipis Arita menggunakan jari telunjuknya. "Jika kau bodoh, maka kalian tidak akan selamat!" tekannya sekali lagi.
Sementara Arita, wanita itu benar-benar merasa bingung. Disatu sisi, ia tidak ingin mengambil risiko jika dirinya datang dengan orang lain. Namun, ia tidak bisa melakukannya sendiri. Dengan menarik napasnya, wanita itu berusaha untuk mempercayai Riko.
"Cepat bersiap, ganti pakaianmu dengan celana dan hoodie hitam. Saya tunggu lima menit lagi," tegas Riko sehingga membuat Arita langsung menatapnya.
__ADS_1
"Saya tidak menerima bantahan darimu, Nyonya."