Bapak Untuk Baron

Bapak Untuk Baron
BAB 40


__ADS_3

"Kak, katakan pada Arita jika putranya sudah aku jemput," ucap Gibran begitu sambungan teleponnya dengan Mona mulai terhubung. Sebelah tangannya ia gunakan untuk menggandeng tangan mungil milik Baron.


"Baiklah, jaga anak itu sebaik mungkin." Setelah itu, Gibran mengerutkan kening ketika Mona memutuskan panggilannya begitu saja. Begitu juga dengan pesan sang kakak, yang membuat Gibran merasa penasaran.


Dipandanginya bocah laki-laki yang mengenakan seragam SD itu, kemudian membuat Gibran berjongkok tepat di hadapan Baron. Ia berniat untuk menjalankan perintah sang kakak, karena ia tahu, bahwasannya hal itu pasti darurat.


"Siang ini mau kemana, boy?" tanya si pria dengan mengelus puncak kepala si bocah. Rambutnya yang halus, membuat Gibran merasa gemas dibuatnya.


"Kalau pulang ke rumah, pasti Baron sendirian. Memangnya, Om Gibran mau?" jawab si kecil sembari menawarkan pada pria dewasa yang ada di hadapannya itu. Sontak, Gibran dibuat semakin gemas oleh ucapan bocah itu.


"Gimana kalau Baron ikut om aja?" sahut Gibran dengan memilih opsi lain. Ia pun tak berani ambil risiko, jika dirinya mengikuti tawaran dari Baron.


"Tapi om nggak ada niatan buat culik Baron, kan?" curiga si kecil dengan menyipitkan mata saat menatap wajah rupawan milik om barunya itu.

__ADS_1


"Hei, pertanyaan macam apa itu? Kau tau sendiri bukan, bagaimana galaknya ibumu itu? Tenang saja, aku tidak sejahat itu," meski Baron telah memasuki kelas 1 SD tak membuat Gibran merasa keberatan ketika membawa tubuh itu ke gendongannya.


Setelah mengambil kuncinya di saku celana, Gibran membuka pintu sebelah kemudi dan mendaratkan pantat milik Baron disana. Tak menunggu lama, pria itu langsung memasuki mobilnya dan segera melesat pergi dari sekolah si bocah.


"Ikut om kerumah Paman Edward, oke? Nanti disana ada banyak ikan," ucapnya sembari mengambil selembar tisu di atas dashboard, kemudian mengelap dengan lembut kening si bocah yang basah oleh keringat.


"Eum ... kira-kira ibu bakal marah nggak, ya?" gumamnya dengan suara kecil yang dapat didengar jelas oleh Gibran.


Melewati jalan pedesaan yang tidak begitu ramai, membuat Gibran mengendarai mobilnya dengan santai. Entah mengapa, seketika ia ingin menikmati waktu bersama dengan anak laki-laki itu lebih lama.


"Paman Edward itu, siapa?" tanya Baron.


Tak berselang lama, Pajero Sport putih itu mulai memasuki sebuah gerbang berukuran besar yang dibukakan oleh satpam. Dengan halaman yang cukup luas, rumah milik Mona dan suaminya nampak sangat megah.

__ADS_1


"Dia kakak iparnya om," jawab Gibran yang membuat Baron malah semakin mengerutkan keningnya.


"Sudah, ayo kita masuk. Paman Edward pasti sudah menunggu," ajaknya yang dianggukki oleh si kecil. Dengan sebelah tangannya yang menggandeng Baron, Gibran mulai memasuki rumah berukuran besar itu.


"Aden, anak kecil siapa ini?" tanya seorang asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Mona.


"Namanya Baron, Mbok. Saya permisi sebentar, ya?" jawab Gibran yang tidak ingin terlalu membuka identitas Baron di hadapan wanita 50 tahunan itu.


Tak mendapati kakak iparnya dimanapun, membuat Gibran langsung melangkahkan kaki menuju taman yang berada di belakang rumah. Benar saja, ia melihat punggung kekar milik Edward tengah menghadap ke arah kolam.


"Kak Ed, lihatlah siapa yang aku bawa," ucap Gibran yang membuat pria blasteran Indonesia dan Spanyol itu menolehkan kepalanya. Dan benar saja, manik mata berwarna abu-abu itu nampak terkejut.


"Hei, kenapa wajahnya sangat mirip dengan Bayu?"

__ADS_1


__ADS_2