Bapak Untuk Baron

Bapak Untuk Baron
BAB 59


__ADS_3

"Bagaimana Arita, apakah kau menerima lamaran dari putraku?" tanya Andre setelah terjadi keheningan beberapa saat. Sisanya mendadak sunyi, tak ada satupun yang mengucapkan sepatah kata.


Baron yang tidak mengerti apa-apa, kini hanya asik menonton sebuah film animasi yang berada di ponsel milik Gibran. Sebelah tangannya lagi, masih saja berada di genggaman Gibran sejak tadi.


"Saya hanyalah perempuan biasa ... sepertinya, tidak cocok menjadi bagian dari keluarga Anda." Arita menatap kedua netra cokelat milik Andre yang masih tertuju padanya. Nada tenang dari wanita itu, berhasil membuat Patricia tertarik.


"Kami tidak mempermasalahkan hal itu," sanggah kepala keluarga Daniswara yang ia kenal sangat bermartabat. Arita akui, keluarga Gibran sangat menjunjung tinggi moral kehidupan. Maka dari itu, dirinya merasa tidak pantas.


"Dari sekian banyaknya perempuan yang kami kenalkan pada Gibran, tak ada satupun yang berhasil meluluhkannya. Justru dengan sangat mudahnya dia jatuh hati padamu," ungkapnya menyadarkan Arita akan hal tersebut.


"Tidak semua pria memandang kasta perempuan," imbuh Patricia sehingga membuat Arita sedikit terkejut. Dalam diamnya, Arita berusaha mencerna setiap perkataan yang diucapkan oleh wanita itu. Pribadinya yang sulit ditebak, membuat Arita harus berhati-hati.


"Apakah kau berniat untuk menolak putraku?" tanya wanita itu dengan menatap lekat kedua mata Arita.


"Ma ..." peringat Mona yang terhenti oleh tatapan dari sang mama. Sontak, istri dari Edward itu kembali bungkam. Sebelumnya baik ia maupun sang papa, telah memperingatkan agar Patricia tidak bersikap seenaknya.


"Kami berbeda," sahut Arita dengan singkat.


Mendengar hal itu, Patricia mengangguk-anggukkan kepalanya seolah paham akan ucapan dari Arita. Dipandanginya sebuah pigura kecil diatas nakas, yang berisikan foto Arita dan Baron ketika melaksanakan ibadah di tanah suci umat muslim.


"Kau pernah pergi kesana?" tanya Patricia dengan arah pandang yang sama. Sontak, semuanya turut memandang kearah yang dimaksud oleh wanita paruh baya itu.


"Iya, itu adalah foto kami saat umroh satu tahun lalu," paparnya dengan mengulas senyum tipis mengingat kejadian istimewa dalam hidupnya. Didalam foto itu, Arita nampak sangat anggun dengan hijab putih yang menutupi rambutnya.


Lagi dan lagi, Patricia hanya menganggukkan kepalanya sebagai respon. Dengan raut wajah yang mulai serius, wanita itu menatap ke arah sang putra dan juga Arita secara bergantian.


"Aku tahu, mungkin tidak mudah bagimu untuk menerima putraku. Selain karena sosok dimasa lalumu, tentu saja karena perbedaan antara agama kami dan agamamu."


Semua orang terdiam membisu, mendengar perkataannya yang merupakan sebuah fakta. Begitupun dengan Gibran, yang berulang kali menarik napasnya dalam-dalam. Diusapnya jemari kecil milik Baron, berharap mengurangi rasa khawatir dalam dadanya.


"Aku ingin menjadi mualaf, Ma ..." ucap Gibran dengan nada lirihnya. Namun, tersirat keyakinan dalam ucapan pria itu, sehingga membuat semua orang merasa terkejut. Terutama Arita, yang benar-benar tidak mengetahui akan hal ini.

__ADS_1


"Apa yang kau katakan, Gib?" tanya Patricia.


Perasaan ibu 2 orang anak itu tidak bisa diutarakan. Selain terkejut, Patricia juga merasa bahwa putranya telah benar-benar jauh dari dirinya. Dengan kedua mata yang berkaca-kaca, wanita itu menatap wajah sang putra dengan syok.


"Aku memiliki niat untuk pindah keyakinan," ucap pria 25 tahun itu menegaskan kembali niat baiknya.


"Aku menjadi mualaf, bukan karena Arita. Tapi, karena aku sudah memiliki niatan sejak lama. Dengan hal ini, mungkin aku akan belajar lebih banyak dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi," paparnya berusaha meyakinkan kedua orang tua dan juga kakaknya.


Suasana kembali hening, setelah pengakuan dari pria itu. Semua tatapan mengarah padanya, sehingga membuat Gibran menundukkan kepalanya.


"Aku ingin serius dengan Arita. Dan karena hal itulah, aku juga harus melakukannya," imbuhnya berusaha menguatkan opini yang telah ia sampaikan. Namun hal itu, justru membuat Arita menatap tak percaya ke arahnya.


"Jangan menjadi mualaf, hanya dengan alasan kau ingin menikah denganku. Niat itu harus murni dari hatimu," ucap wanita berparas ayu dengan aura yang menenangkan itu.


Gibran menganggukkan kepalanya mantap, ketika mendengar saran dari Arita. Sementara kedua orang tua dan kakaknya, menyaksikan hal tersebut dalam diamnya. Selain terkejut, mereka juga tidak menyangka akan keputusan putra keluarga Daniswara tersebut.


"Apakah kau yakin, Gib?" tanya sang papa.


"Bahkan Gibran tidak pernah sekalipun merasa ragu akan hal ini," respon si pria yang membuat Andre tersenyum bangga padanya. Putra kecil yang selalu ia bangga-banggakan sejak kecil, kini tumbuh menjadi pria yang bijaksana dimatanya.


"Pa?" ucap Patricia masih tak percaya.


"Putramu sudah dewasa ... yakinlah, apapun yang dia pilih merupakan kebaikan demi dirinya sendiri," sanggah Andre yang berusaha untuk berpikir logis. Lagipula, ia selalu memegang prinsip untuk selalu mendukung apapun yang anak-anaknya pilih.


"Papa serius?" ucap Gibran memastikan.


"Apakah papamu ini terlihat bercanda, boy?" tanya pria paruh baya itu dengan senyum tipisnya. Sebagai penebusan dosa atas perlakuannya pada Gibran dimasa lalu, Andre berusaha untuk mendukung keputusan putranya.


"Pilih hal apapun yang membuatmu yakin," ucap Edward mulai membuka suara. "Aku hanyalah kakak iparmu. Tapi, apapun keputusan yang kau pilih, bisa dipastikan bahwa aku adalah orang kedua setelah papa yang akan mendukungmu."


Mona mengulas senyum bangganya dengan pandangan yang tertuju pada Edward. Dengan matanya sendiri, ia melihat ketulusan yang begitu nyata dari sang suami untuk adik satu-satunya itu. Hal tersebutlah yang membuat Mona mengelus lembut jemari Edward yang dihiasi oleh cincin pernikahan mereka.

__ADS_1


"Tidak ada satupun kepercayaan yang mengajarkan keburukan. Apapun pilihanmu, lakukan dengan dasar ketulusan. Aku mendukungmu, Gib," imbuh sang kakak sehingga membuat pria itu merasakan sebuah beban berat yang semula ia tanggung, kini menghilang entah kemana.


Seolah tak membutuhkan saran dari sang mama, Gibran nampak lebih sumringah dari sebelumnya. Hal itulah yang menarik perhatian Arita. Wanita itu bertanya-tanya, apakah alasan dibalik dinginnya sifat Gibran pada Patricia.


"Lakukan apa yang membuatmu bahagia, Gib. Mama tidak akan menghalangi kebahagiaanmu lagi," tutur seorang ibu yang berhasil membuat Andre terkejut untuk beberapa saat. Ia benar-benar tidak percaya, akankah istrinya sudah berubah demi anak-anak mereka?


"Terima kasih," jawab Gibran dengan begitu singkat. Tak ada guratan bahagia diwajahnya, ketika Patricia mengucapkan hal tersebut.


Merasa atmosfer ruangan tersebut mulai berubah, membuat Mona langsung mencairkannya dengan membuka obrolan. Sementara itu, menyaksikan raut penyesalan di wajah sang istri, membuat Andre langsung menggenggam jemari istrinya dan mengusapnya lembut.


"Tenanglah, putramu akan berubah seiring berjalannya waktu." Patricia menyandarkan kepalanya di bahu sang suami. Pandangannya mulai menunduk, kembali menyesali perbuatan buruknya kepada sang putra.


"Baron, kok asik banget. Nonton apa itu sayang?" ucap Mona dengan memperhatikan si kecil yang nampak anteng dipangkuan Gibran.


Yang menggemaskan, anak laki-laki itu langsung mengalihkan pandangannya dengan senyuman lebar. Kemudian, Baron menunjukkan layar ponsel milik Gibran sehingga membuat Mona mengerti. Lantas, wanita itu terkekeh geli akan sikap si kecil.


"Kemarilah, paman ingin melihatnya juga," panggil Edward yang membuat Baron menganggukkan kepalanya. Atas bantuan dari Gibran, anak itu mulai turun dari pangkuan si pria dan segera berjalan ke arah Edward.


"Sini," ucap Mona membopong tubuh Baron.


Ketika melihat anak dari Arita terlihat sangat nyaman dengan putri dan menantunya, membuat Andre mengulas senyumnya. Sedangkan Patricia, wanita itu merasa terkejut. Ternyata, manisnya sikap anak itu berhasil meluluhkan hati Edward dan Mona.


"Dia terlihat sangat pintar diusianya," ucap Andre sehingga membuat Arita mengalihkan pandangannya menatap pria itu.


"Saya rasa begitu, Baron lebih pandai daripada anak-anak seusianya," aku si wanita sehingga membuat pasangan suami istri itu diam mendengarkan. "Terutama saat mengandalkan logika, dia terlihat lebih dewasa daripada usianya."


Andre dapat mengakui hal itu. Dengan jelas ia memperhatikan, bahwasannya Baron merupakan anak dengan IQ yang tinggi.


"Pa, dia mirip Gibran waktu kecil, kan?" tanya sang putra yang membuat Andre terkekeh sejenak. Dari fisik dan gelagat anak itu memang sangatlah mirip dengan putranya dimasa kecil.


"Calon anak kamu, kan? Pantaslah kalau mirip," sahut Andre dengan begitu santainya. Patricia mengulas senyum miris, melihat sikap Gibran yang sangat cuek kepadanya. Sudut hatinya merasa nyeri, ketika putra kandungnya terlihat tidak mengharapkan kehadirannya.

__ADS_1


Jika sepasang suami istri yang duduk di sebelah Andre tengah asik menemani Baron, lain halnya dengan Gibran dan Arita yang saling memandang secara diam-diam. Entah mengapa, Arita membutuhkan waktu untuk berbicara dengan pria itu.


"Arita, bagaimana jika pernikahan kalian dilaksanakan 2 bulan lagi? Tentunya setelah Gibran sah menjadi seorang mualaf,"


__ADS_2