
Terus apa ini." ucap Clarissa sambil memperlihatkan sebuah kristal hijau yang bersinar.
Harrison yang melihat kristal langsung mengambilnya dari tangan Clarissa dan memegang nya dengan erat.
" Dimana kau menemukannya?" tanya Harrison bersikap tenang menyembunyikan kepanikan.
Clarissa melihat sikap aneh Harrison merasa bingung merasa bahwa kristal itu sangat penting. Juga Clarissa merasakan sihir yang sangat kuat dikeluarkan kristal hijau tersebut.
" Aku menemukannya di balik jubah mu, jadi ada alasan apa kau merasa panik begitu sepertinya kristal itu bukan milikmu?" tanya Clarissa sambil tersenyum miring menunjukkan sikap aslinya yang licik di depan Harrison.
Harrison yang melihat senyuman licik Clarissa hanya diam sebelum kemudian membalas persis senyuman itu dan matanya yang berubah menjadi merah darah serta aura gelapnya keluar ke seluruh ruangan.
" Baru pertama kali ada seseorang yang bisa tahan dengan aura gelap saya biasanya pasti ada orang pingsan atau mungkin mati." ucap Harrison sambil tersenyum mengingat dirinya dulu sangat di takuti bahkan raja nya saja orang pengecut yang tidak berani berduel dengannya.
Clarissa yang mendengar pujian tersebut hanya mempertahankan senyum miring sambil menatap mata merah membuatnya terpesona.
__ADS_1
" Saya tidak peduli dengan kehidupan mu di belka asalkan itu tak berdampak kehidupan Estelle. Kau tahu bukan Estelle merupakan penyihir yang kuat." ucap Clarissa yang mengubah topik pembicaraan dirinya lebih memilih tidak memaksa Harrison menjawab pertanyaan.
Karena tahu Harrison akan berbohong seperti tadi.
Harrison yang mengetahui Clarissa mengalihkan pembicaraannya tadi merasa lega. Sepertinya perempuan itu tipe yang tidak suka berurusan dengan orang lain.
" Estelle merupakan penyihir yang kuat suatu hari nanti dia akan menjadi kebanggaan di belka." jawab Harrison sambil membayangkan wajah Estelle puterinya yang manis itu.
Sebenarnya Harrison sama sekali tidak menyukai anak-anak entah kenapa ketika dia hanya merasa lebih senang berada di dekat Estelle mungkin karena dia adalah darah dagingnya.
Clarissa yang mendengarnya menggangguk kepalanya sambil memegang cangkir teh yang berada di tangannya.
Harrison yang mendengarnya hanya mampu menutup mulutnya seolah sedang berpikir. Jika dirinya kembali ke belka kemungkinan nyawa nya akan terancam mengingat obsesi raja itu untuk membunuhnya. Apalagi sekarang Harrison dalam kondisi yang lemah sihirnya masih berkembang setelah luka nya semalam.
Sekarang Harrison merasa ada sesuatu yang menahan nya untuk berada di dunia manusia ini yaitu Clarissa dan Estelle dia ingin mengenal mereka lebih dalam.
__ADS_1
" Jika anda mengizinkan saya akan berada di sini sementara. Lagipula saya ingin sekali menghabiskan waktu bersama Estelle." jawab Harrison yang mengambil keputusan.
Clarissa yang mendengarnya diam-diam menghela nafasnya lega. Setidaknya Harrison tidak berniat meninggalkan Estelle setelah kejujuran mereka sebelumnya.
" Itu tidak masalah sama sekali dan terima kasih karena telah memikirkan Estelle." ucap Clarissa sambil tersenyum.
Clarissa kemudian berdiri dari sofa nya menatap Harrison.
" Ayo akan aku tunjukkan kamar mu." ucap Clarissa yang di turutin Harrison berjalan mengikuti nya dari belakang.
Setelah sampai di depan pintu berwarna hitam Clarissa membuka nya dan memperlihatkan sebuah kamar sederhana yang ada ranjang sedang serta meja di sampingnya.
" Maaf sementara kamu akan berada di sini besok aku akan mencari barang-barang untuk mengisi ruangan." ucap Clarissa yang merasa tidak nyaman dengan tatapan Harrison kepadanya.
Tapi Harrison menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
" Tidak masalah, Lagipula ada sesuatu yang akan saya urus mulai sekarang....
Countine...