
Setelah Harrison pergi meninggalkan ruangan suasana tidak menjadi canggung lagi.
" Arrggh....Estelle mengapa kau tidak memberitahuku bahwa kau memiliki ayah yang sangat tampan. Meskipun aku pernah melihatnya lewat photo tapi ketika melihatnya secara langsung dia sangat tampan." ucap Aisha yang memekik senang mengingat dirinya terpesona dengan ayah Estelle.
Estelle hanya bisa tersenyum canggung dirinya merasa aneh melihat temannya mengidolakan ayahnya. Memang sudah tidak asing lagi banyak sekali wanita-wanita yang berusaha merebut ayahnya dari ibunya. Sayangnya ayah nya malah tidak menyukai wanita-wanita atau terkesan jijik. Menurutnya hanya ibunya saja yang mampu membuat ayahnya terpesona.
Sedangkan Arthur langsung menyyengol bahu Aisha.
" Kau tidak boleh nanti Madam Rosetra akan memarahi kita." ucap Arthur menegur Aisha untuk tidak berisik.
" Aku kan cuma mengutarakan perasaan ku saja. Kau menyebalkan Andersen." ucap Aisha sambil cemberut sambil memandang sinis Arthur.
Arthur yang ditatap sinis malah membalasnya dengan tatapan kesal.
" Kau lebih menyebalkan Zealand." ucap Arthur dengan nada mengejek.
Aisha hanya menjulurkan lidahnya sebelum kemudian memalingkan wajahnya. Merasa kesal karena Arthur mengejek nya.
Estslle yang melihatnya hanya mampu tersenyum lebar dengan hubungan Arthur dan Aisha sedikit mulai membaik. Tapi terkadang Estelle masih sedikit merindukan Jolly teman pertama di dunia mahou.
__ADS_1
Di sisi lain Harrison yang baru saja tiba di rumah langsung di sambut dimana Clarissa berlari ke arahnya dengan ekspresi khawatir.
" Bagaimana keadaan Estelle apa dia baik-baik saja?" tanya Clarissa khawatir jika terjadi sesuatu berbahaya kepada puteri kecilnya.
" Estelle baik-baik cuma dia hanya membutuhkan istirahat untuk memulihkan diri." jawab Harrison yang membuat Clarissa merasa sedikit tenang.
Dalam hati Clarissa heran siapa yang berani mencelakakan anaknya. Padahal Estelle merupakan gadis yang manis dan juga baik hati.
Harrison mengerti kekhawatiran Clarissa langsung memberikan ciuman di keningnya sebelum memeluknya dengan erat.
" Estelle baik-baik, ada seseorang yang iri kepadanya karena kepintaran nya dan nekat melakukan itu." ucap Harrison menjelaskan secara singkat kronologis Estelle jatuh.
" Aku tidak percaya anak sekecil itu bisa melakukannya hal gila mencoba membunuh teman nya. Aku harap pihak sekolah akan menghukum nya dengan setimpal." ucap Clarissa merasa marah ingin rasanya dia menerobos masuk ke akademi Emerald menemui kepala sekolah dan memaksakan nya bertemu dengan pelaku yang berani mencelakakan Estelle.
Harrison yang bisa membaca pikiran istrinya hanya terkekeh pelan.
" Tenang saja sayangku mereka akan mendapatkan balasannya. Sampai membuat mereka menyesal karena berani mencelakakan puteri kita." ucap Harrison sambil menyeringai.
Malam hari suasana di sebuah Manor terlihat gelap. Ada bercak-bercak darah yang mengotori jendela.
__ADS_1
Arggggh...
Tolong Arrggh...
Teriakan pilu beberapa orang mengisi suara di manor itu.
Di sana terdapat seorang pria berusia 40 tahun dengan ciri berambut merah dan matanya yang cokelat khawatir melihat semua pekerja nya di bunuh.
Pria itu berjalan dengan di temani oleh dua prajurit nya yang memegang tongkat dan pedang.
Pria itu melihat lokasi dimana banyak sekali bercak-bercak darah dan tubuh yang terjatuh mengotori seluruh lorong.
Di tengah-tengah mereka terdapat seorang pria berjubah yang sedang memegang belati yang dilumuri darah.
" Siapa kamu yang berani mengacau keluarga saya?" tanya pria itu kepada pria berjubah asing itu.
" Hahahaha....
Countine...
__ADS_1