Benci Menjadi Cinta

Benci Menjadi Cinta
Bab 10


__ADS_3

...🍃READING BOOK🍃...


Kedua gadis itu menatapnya dengan sengit, seakan ingin memakan Celsi hidup-hidup.


"Eh sengaja, kenapa mau marah!" Ucap Celsi dengan senyum mengejek darinya.


Tangannya pun mengulur kearah Berlin, ia ingin membantu Berlin yang masih terduduk di lantai.


"Sepertinya ayahmu tak mengajarkan anaknya ini bagaimana cara menghargai orang lain!" Sinis Celsi.


Ia menatap penuh rendah kearah kedua gadis yang terduduk dilantai. Sedangkan teman-temannya membantu Jesica dan Angel.


"Siapa sih kau?" Ketus Angel dengan tatapan kebencian.


Celsi menatap dengan menantang, ia cukup kesal dengan para gadis ini. Padahal sahabat nya ini tak pernah mencari masalah dengan mereka tetapi mengapa mereka selalu gangguin Berlin.


"Udah cel, aku gak papa kok!" Berlin menahan tubuh Celsi yang sudah siap untuk kembali menyerang mereka.


"Mereka sudah keterlaluan ber, lihatlah mereka bahkan kamu lebih baik dari mereka!" Kesal Celsi yang beberapa kali memberontak dari pelukan Berlin.


"Heh! Gue sama si culun ini, dia tak lebih dari sebuah debu yang menempel di sepatu, jadi seharusnya dibersihkan!" Ucap sinis angel dengan menepuk-nepuk sepatunya.


Celsi yang sudah cukup geram dengan hinaan yang dilontarkan angel pada sahabatnya itu, ingin rasanya ia memotong itu mulut jika di negara ini tidak aturan.


"Kau sama saja dengan nya, hanya sebuah debu!" Ucap Angel dengan nada yang sangat rendah namun sangatlah menghina.


"Ada apa ini!" Ucap bariton seorang pria, mereka semua menatap kearah pria itu.


Betapa terkejutnya mereka bahwa yang menegur mereka adalah bapak olahraga.


"Cepat masuk kelas kalian, apa kalian mau saya hukum!" Ucap tegas pak olahraga itu.


Mereka semua pun langsung kabur, Berlin pun berjalan sedikit tertatih dan dibantu oleh Celsi.


"Pergilah kalian ke UKS, obatin luka teman mu itu!" Ucap datar pak olahraga dan berlalu pergi begitu saja.


Mereka sudah biasa, pak olahraga nya memiliki karakter yang sangat susah ditebak, kadang datar dan bahkan kadang sangat datar dan dingin sehingga ekspresi terkejut dan senang pun tak terlihat.


Pak olahraga itu pun hanya menatap datar kearah kedua anak didiknya itu.




Sesampainya di UKS.



Berlin langsung dibawa duduk oleh Celsi, ia menggiring Berlin menuju sofa yang ada di UKS.



"Bentar aku cari obat merah dulu!" Celsi langsung buru-buru menuju tempat kotak obat yang berada didinding UKS.



Celsi sibuk mencari-cari obat merah, namun yang ia cari tak kunjung ia dapatkan.



"Nggak ada cel?" Tanya Berlin dengan kening berkerut, ia melihat dari tadi sahabat nya yang terus mengobrak-abrik kotak obat itu.

__ADS_1



"Mana sih nih obat, bentar ber aku lagi nyari!" Ucap Celsi yang masih sibuk mencari obat itu.



Berlin terus memperhatikan Celsi dan begitu juga Celsi yang sibuk mengobrak-abrik kotak obat dan laci meja yang ada di sana.



"Kalian cari apa? Mengapa semua nya kalian berserakan!" Ucap seorang pria.



Mereka berdua menatap kebelakang dan hanya cengiran kesalahan yang bisa mereka berikan.



"Itu...kita lagi nyari obat merah kak!" Ucap Celsi dengan cengiran nya.



"Siapa yang terluka?" Tanya cowok itu.



"Berlin kak, lutut dan siku tangannya terluka!" Jawab Celsi.



"Beresin itu dulu biar saya cari obat itu!" Ucap cowok itu lalu berlalu pergi meninggalkan Celsi dan Berlin.




Tak berselang lama, cowok itu datang dengan kotak P3K kecil.



"Biar aku aja kak!" Ucap Celsi yang ingin mengambil alih kotak P3K yang ada ditangan cowok itu.



"Gak perlu!" Ucap datar cowok itu dan berlalu menghampiri Berlin yang terduduk.



Berlin hanya menatap cowok itu hingga mendekat kearahnya, ia cukup terpesona dengan ketampanan cowok yang ada di hadapannya.



"Tahan sedikit!" Datarnya dan perlahan meneteskan obat merah itu dikapas lalu sedikit demi sedikit menempelkan nya di luka Berlin.



"Tssss...." Berlin meringis menahan sakit dan perih, meski lukanya kecil tapi hal itu membuat hampir menangis.



"Maaf!"

__ADS_1



Perlahan kapas itu lebih lembut mengenai luka nya, Berlin cukup merasakan kelembutan dari cowok datar ini. Setelah pembersihan menggunakan obat merah, cowok itu pun memakaikan handsaplas untuk menutupi luka nya



"Sudah, istirahat lah dulu!" Ucap cowok itu dan kembali membereskan peralatan obat yang ia gunakan.



Cowok itu berlalu tanpa pamit lebih dahulu dengan kotak P3K ditangannya.



"Aaaakkkkhhh.... Gantengnya!!! memang ya kalo ketos itu damage nya luar biasa!" Teriak histeris Celsi setelah kepergian cowok itu.



"Ketos? Ketua OSIS maksud kamu cel!" Bingung Berlin sambil menghembus luka yang masih perih.



"Iya loh, masa kamu gak tau sih ber! Namanya Erlangga resdan, gila damage nya...aaaaakkkk!" Histeris Celsi yang sudah salting tak terbendung.



" Lebai amat sih cel! udah ah bantu aku!" Ucap Berlin yang berusaha berdiri.



Celsi dengan segera membantu Berlin bangkit, ia memapah dengan tangan Berlin yang dikalungkan di pundaknya.



Mereka berdua pun meninggalkan UKS untuk segera masuk ke kelasnya. Sebenarnya Celsi sedikit keberatan untuk Berlin kembali ke kelasnya, namun karena ia tak bisa melawan ucapan dari sahabat nya itu membuat ia dengan terpaksa mengikuti ucapan Berlin.



"Sudah aku bilang, jangan pernah punya urusan sama tu kakak kelas! Kan jadi begini!" Ngomel Celsi yang dari tadi tak hentinya.



Celsi terus mengomel sepanjang jalan, sampai Berlin ingin sekali untuk menyimpan mulut sahabat nya itu menggunakan kain.



"Pusing pala, dengerin kamu yang terus ngomel kayak emak-emak!" Gerutu Berlin yang sudah tak tahan lagi. "Sahabatku sayang, ku mohon jangan terus mengomel padaku karena saat ini sahabat mu ini tak ingin mendengarnya!" Berlin menakup wajah Celsi dengan kedua tangannya.



"Serah deh, kamu kalo dibilangin gak mau dengerin aku! Lihatlah jadi begini!" Kesal Celsi yang sudah tak tahan dengan sikap sahabatnya itu.



"Sekarang kita masuk kelas ya, jangan marah! Setelah selesai ini maka aku akan bebas!" Ucap Berlin meyakinkan Celsi.



Celsi hanya dapat menghela nafas panjang, ia cukup kesal dengan sahabatnya itu yang selalu tak mendengarkan apa yang ia peringati dan kasih tau.


__ADS_1


Mereka melanjutkan langkahnya dengan Celsi yang masih kesal namun tetap membantu sahabat nya dan Berlin yang cukup merasa tak enak hati dengan Celsi.


__ADS_2