Benci Menjadi Cinta

Benci Menjadi Cinta
Bab 68


__ADS_3

Tahan halus Raihan menyapu kaki Berlin, dengan telaten pemuda itu mengurut kakinya, ada rasa sakit dikakinya yang sulit sekali ditahan, ini menarik atau melawan tidak bisa karena ini juga demi kebaikan nya.


"Kak...Sttt...kak!" Panggil Berlin dengan tangan yang berusaha menggapai.


"Diam aja, kamu tetap tenang ya!" Ucap Raihan dengan tersenyum manis.


Berlin tertegun dengan senyuman itu, namun rasa sakit pada kakinya membuat Berlin kembali berteriak.


Kreek...


Suara tulang bergeser, ada rasa ngilu dan sakit yang dirasa Berlin. Keringat diwajahnya sudah banjir bahkan kini ia tak peduli dengan penampilan nya yang kacau.


"Sudah, sebaiknya selama seminggu ini enggak usah dibawa jalan tapi sering diurut dengan tangan sendiri agar lebih nyaman!" Ucap Raihan dengan wajah lega.


"Ma-makasih kak!" Berlin menunduk tersipu malu, ia sungguh kali ini merasa diperhatikan oleh seorang cowok, ayolah sekarang ia butuh seorang Celsi untuk sama-sama berteriak dengan nya.


Ceklek


Pintu UKS pun terbuka, terlihat wajah Celsi dengan rambut berkeringat menghampiri Berlin. Gadis itu tersenyum merasa senang melihat sahabatnya sudah lebih baik setelah ditangani oleh ketua OSIS.


"Ini!" Celsi menyodorkan sebuah air putih untuk Berlin.


Berlin menerimanya dengan senang hati, saat ini ia sangat haus setelah berperang dengan rasa sakit pada kaki nya tadi. Satu botol air mineral ludes tak berjejak, seakan gadis itu tak minum selama satu minggu.


"Yaudah kakak pergi dulu, masih harus beresin kejadian tadi!" Ucap Raihan yang diangguki oleh mereka berdua.


Setelah kepergian Raihan, Celsi pun mendekati Berlin dengan gaya dan gerak orang kepo. Biasa dia cukup kepo dengan yang dilakukan ketos dan sahabatnya ini, apalagi ia yang memang sengaja berlama-lama di kantin untuk memberi ruang pendekatan antara keduanya.


"Apa!" Ketus Berlin.


Celsi hanya mendengus kesal, yaelah padahal cuman mau nanya eh malah langsung di skakmat aja. Celsi mengerucutkan bibirnya kesal, ia ngambek dengan sahabatnya itu.


"Udah yok pulang!" Ucap Berlin.

__ADS_1


Celsi tetap diam, ia membelakangi Berlin dan bersikap acuh.


"Celsi!!!" Pekik Berlin dan seketika Celsi langsung cengengesan.


Celsi pun membantu Berlin bangkit dari brangkas UKS, ia menjadikan tangannya menahan keseimbangan tubuhnya, Celsi langsung merangkul Berlin dan membantu nya jalan, meski gadis itu sering menolaknya tapi bukan Celsi namanya kalo tidak ada pemaksaan.


"Tukar baju dulu atau gimana?" Tanya Berlin diperjalanan menuju kelas mereka.


"Tugas aja deh, pasti kau juga kurang nyaman sama nih celana!" Ucap Celsi.


Memang benar sih yang diucapkan Celsi padanya, apalagi banyak kaum cowok yang terus memandangi paha nya dengan mata cilalatan.


Mereka pun pergi ke kamar mandi, sebelum itu mereka akan mengambil baju ganti di loker penyimpanan mereka.


10 Menit lama nya mereka menukar baju dan menghapus makeup yang menurut mereka tak nyaman, Berlin pun kembali dengan penampilannya yang culun, yaitu kepang rambut dan kaca mata bulat besar melekat diwajahnya.


"Issshhh...buka ah tu kepang, udah cantik kayak tadi!" Gerutu Celsi sambil meraih-raih kepang yang akan tinggal di ikat saja.


"Apaan sih cel, minggir ah ini biar bisa pukul kamu kalo bandel!" Ucap Berlin yang menghindari tangan Celsi dan dengan cepat mengikat ujungnya.


"Hhhh...Udah ah, kayak emak-emak!" Ucap Celsi yang menirukan gaya emak-emak saat memukul anaknya.


Celsi kan sering ke desa-desa atau perkampungan yang sempit, beberapa ibu-ibu rumah tangga saat menyuruh anaknya pulang untuk mandi atau makan.


Sempat lucu dan gemas saat melihat anak kecil diperlakukan saat itu, ia sempat kembali ke masa lalu dimana ia sempat dilakukan seperti itu tapi sang mama tak sampai melayangkan tangan, namun semua itu harus berakhir karena sang kakak terus menerus memojokkan nya dan memburukkan tentang dirinya.


"Eh kok jadi melow sih, sini-sini peyuk...!" Ucap manja Berlin dengan merentangkan tangan nya.


"Hiks...kok aku kangen bunda ya!" Tangis Celsi pecah dalam pelukan Berlin.


"Yaudah, minta ketemuan sama bunda biar kangen kamu itu hilang!" Ucap Berlin memberikan solusi, usapan tangan hangat menenangkan dipunggung Celsi diberikan oleh Berlin, Berlin cukup merasakan apa yang dirasakan oleh sahabatnya itu.


Celsi menggelengkan kepalanya, ia sungguh tidak bisa bertemu dengan sang bunda yang mungkin saat ini sama dengan nya, saling merindukan. Namun kini ia memang lagi menghindar dari sang papa agar tidak terjadi perseteruan lebih lanjut antara keduanya.

__ADS_1


"Yaudah, tenang dulu kita kekantin ya ngisi perut!" Ucap Berlin menenangkan dan menarik bahu Celsi menjauhi tubuh sahabatnya itu melihat wajah sahabatnya yang saat ini begitu rapuh.


"Yaampun, apaan ini...kok bisa ya sahabat aku nangis, biasanya paling sangar loh!" Ledek Berlin dengan senyuman penenangnya.


"Ihhh...aku sedih Berlin, malah diledek!" Jengkel Celsi dengan sesekali memukul lengan Berlin.


"Aduh...aduh, ini nama nya KDS mah!" Ucap Berlin berusaha menghindari serangan Celsi.


"Lah apaan dah!" Celsi mengerutkan keningnya bingung dengan ucapan Berlin.


"Kekerasan dalam sahabat...Wleee!" Berlin pun langsung berlari keluar dari kamar mandi itu, ia tak ingin mendapat serangan dari sahabatnya itu.


"Awas ya!" Celsi pun ikut berlari.


Berlin melupakan rasa sakit dikakinya, meski tak sesakit saat pertama kali. Demi membuat Celsi tertawa ia rela berlari dengan kaki yang sedikit pincang.


Terjadilah kejar mengejar antara keduanya, dimana Berlin terus meledek Celsi dari belakang yang membuat Celsi semakin geram dan ingin terus mengejar Berlin.


Brakkk


Berlin tak sengaja menabrak seseorang, sehingga gadis itu langsung oleng ke belakang. Namun satu yang ia rasakan, kenapa ia tak mendapatkan rasa sakit dipinggulnya.


Celsi sempat terdiam ditempat saat melihat Berlin berada dalam pelukan seseorang dan itu adalah Kaisar. Adegan seperti ini persis seperti yang ia lihat di Drakor, kenapa sekarang malah terjadi secara langsung. Bahkan tak cuma dia yang terdiam, orang yang berada di lorong itu terdiam dan melihat kearah dua insan yang sedang romantis.


Berlin merasa tak ada sakit sedikit pun, ia membuka matanya perlahan. Cukup syok saat ternyata sedang menangkap tubuhnya adalah Kaisar yang dikelilingi oleh empat temannya.


Berlin langsung bangkit, ia salting saat ini dengan blush rona alami yang tiba-tiba saja datang, ia menunduk dan bingung harus bersikap apa.


Kaisar tetap diam dengan wajah datar, pemuda itu menatap lekat pada Berlin yang terus menunduk, ntah apa yang berada dipikiran pemuda itu, namun yang pasti matanya menatap lekat pada Berlin.


"Berlin, kamu enggak apa-apa?" Tanya Celsi panik yang langsung menghampiri Berlin setelah sadar dari syoknya.


Berlin hanya mengangguk, ntah kenapa mulutnya susah untuk mengeluarkan satu kata menjawab ucapan Celsi.

__ADS_1


"Makasih!" Bukan Berlin berucap tetapi Celsi.


Celsi langsung menarik Berlin yang tertunduk malu.


__ADS_2