Benci Menjadi Cinta

Benci Menjadi Cinta
Bab 42


__ADS_3

...🍃 READING BOOK 🍃...


"Mau jelaskan sesuatu tidak sama aku!" Ucap Celsi yang menatap tajam Berlin.


Pagi-pagi sekali Berlin sudah dituding oleh pertanyaan aneh, mata Celsi tajam mengarah padanya yang mirip seperti seorang emak yang marah pada anaknya yang berbuat kesalahan.


Ya, Celsi tiba-tiba mempertanyakan hal yang membuat Berlin bingung sendiri, pasalnya ia tidak melakukan kejahatan atau membunuh orang kenapa harus menjelaskan sesuatu.


"A-aku!" Tunjuk Berlin pada dirinya sendiri dengan wajah bingung.


"Iya lah!" Ketus Celsi.


"Soal?" Bingung Berlin yang menatap serius pada Celsi.


"Soal kemaren pulang sekolah!" Ucap Celsi yang malah memperbaiki duduknya dan memposisikan duduk sejajar menatap Berlin.


"Kemaren? Kenapa?" Bingung Berlin yang masih belum bisa mencerna setiap pertanyaan Celsi padanya.


"Huffft...Kemaren pergi sama kaisar bukan, jangan ngelak! Jelaskan?" Ucap Celsi yang langsung ulti tak ingin Berlin berbohong padanya.


Berlin sedikit gelagapan, ia pun berusaha menetralkan ekspresi nya dan bersikap santai.


"Hmm...itu cuman nggak sengaja doang!" Ucap Berlin dengan mata yang bergeliaran mencari alasan.


"Bohong!" Tuding Celsi yang tau bahwa sahabatnya itu berbohong.


"Hah...Iya, aku itu jadi guru ngajar kak Kaisar selama dua bulan dan ini tinggal satu bulan lagi, yang satu bulan yang lalu cuman sekedar sebagai budak!" Ucap Berlin menjelaskan.


"Oh yang kamu katakan sampek tiga bulan itu, tapi...!" Celsi kembali menatap tajam Berlin dan gadis itu mengangkat kedua tangannya di samping- samping wajahnya.


"Bukankah kak Kaisar itu kaya kan, bukankah ia bisa nyewa orang yang lebih profesional!" Ucap Celsi yang kembali mempertanyakan semua yang mengganjal dipikirannya.


"Aku tak tau!" Ucap Berlin.


"Hmm...baiklah, aku percaya!" Celsi pun pasrah karena ia tak ingin membuat sahabatnya tertekan dengan berbagai pertanyaan dari nya.


"Selamat pagi anak-anak!" Sapa sang guru yang sudah masuk kekelas Berlin.


Saat ini semua murid yang ada dikelas Berlin pun langsung duduk di bangku masing-masing dan mulai mengeluarkan setiap perlengkapan sekolah yang dibutuhkan.


"Kita lanjut ke materi kita yang kemaren...!" Ucap sang guru yang tak ada mengucapkan basa-basi sedikit pun.

__ADS_1


Pelajaran dimulai dan semua murid pun fokus dengan pelajaran mereka yang dipelajari.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kriiinggg...


Bel istirahat pun berbunyi, semua yang ada dikelas Berlin pun segera menyimpan alat belajar nya dan perlahan keluar dari kelasnya itu untuk mengistirahatkan otaknya dengan mengisi perut dikantin.


"Kantin nggak?" Tanya Celsi yang saat itu berdiri lebih dulu dari Berlin.


Berlin hanya mengangguk, ia pun ikut bangkit dari duduknya setelah menyimpan semua peralatan sekolahnya.


Mereka berjalan beriringan, awalnya sih aman-aman saja namun tiba-tiba Berlin merasakan bahwa ia membutuhkan toilet untuk mengeluarkan air kecilnya segera.


"Eh cel, aku ke toilet dulu ya!" Ucap Berlin yang langsung berlari.


"Eh aku ikut!"Teriak Celsi, namun Berlin tak mendengarnya karena Berlin berlari terbirit-birit.


Celsi hanya dapat menghela nafasnya, ia pun memutuskan melanjutkan jalannya menuju kantin. Ia akan memesan makanan sehingga Berlin saat tiba tidak perlu menunggu.


Di toilet


Setelah melakukan hal itu, Berlin pun segera membuka kunci pintu ingin keluar. Namun apa yang terjadi, pintu itu tidak dapat dibuka dan bisa dipastikan terkunci dari luar.


"Tolong...ada yang dengar tidak!" Teriak Berlin dengan menggedor-gedor pintu.


Tak ada sautan, bahkan sedikit pun tak terdengar orang yang lewat untuk masuk hanya sekedar merapikan rambutnya.


Byurrr


Tiba-tiba dua arah samping-samping nya menjatuhkan air yang cukup banyak, tapi yang bikin Berlin makin terkejut airnya cukup banyak tapi sangat berbau.


"Aaaaakkkk!" Teriak Berlin.


Bajunya sudah basah kuyup dan aroma tidak sedap sangat pekat tercium diindra penciumannya.


Setelah air busuk itu jatuh, lampu kamar mandi malah dimatikan sehingga keadaan cukup gelap meski temaram.


Tak hanya itu, beberapa hewan melata malah telah berjalan kearahnya yaitu lintah yang berukuran cukup besar.


"Akkkhhh...ku mohon lepaskan aku, buka pintunya....akhhh apa ini!" Teriak Berlin saat melihat lintah yang berjalan dengan menjijikkan nya.

__ADS_1


Berlin yang memang tak tau tentang hewan seperti itu dan bahkan belum pernah menemukan nya, ia sungguh sangat takut. Ia naik diatas kloset untuk menjauh dari hewan itu.


"HAHAHAHAH" Suara tawa terdengar deras oleh Berlin, Berlin memicingkan mata dan menajamkan pendengarannya.


Ia mengenali salah satu suara itu, itu adalah Jessica dan teman-temannya tapi ada beberapa orang selain mereka juga.


"Syukurin, gimana kegatelan banget jadi orang!" Teriak seseorang dari luar yang Berlin ketahui itu adalah suara Jessica.


"Hehehe...Kayaknya enak tu di dalem ditemenin ama...!"Ucap Diana yang memberhentikan ucapan nya.


"Lintah...Hahah!" Ujar Fanya menyambung ucapan Diana.


Mereka semua pun tertawa bersamaan karena telah berhasil membuat pelajaran pada Berlin.


"Cabut!"


Sebuah suara instruksi yang membuat beberapa langkah mereka keluar dan akhirnya tak ada suara lagi.


Berlin duduk di kloset, ia takut turun kebawah. Ia menunggu orang yang akan masuk kedalam dan meminta tolong untuk membukakan pintu.


Namun Berlin tidak mengetahui, bahwa didepan pintu ditulis dilarang masuk dan jika masuk maka mereka akan bersalah, hal itu membuat beberapa siswi yang akan masuk mengurung niatnya untuk berbalik arah.


Sedangkan di kantin, Celsi menunggu dengan wajah cemasnya. Pasalnya ia sudah menunggu dan bahkan bakso yang ia pesan sudah mulai dingin karena menunggu Berlin yang tak kunjung datang.


Celsi berusaha berpikir positif, mungkin berlin sakit perut atau apalah dan ia memilih menyuap beberapa kali suap baksonya.


"Hahaha...rasain, cukup menyenangkan!" Suara seseorang yang begitu bahagia memasuki kantin, membuat Celsi menatap kearah mereka dengan kening yang mengerut.


"Apa mereka melakukan sesuatu pada berlin!" Batin Celsi sudah tak tenang.


Terlebih ia melihat para Cs Jessica tertawa lepas dan dikuti oleh Angel dan Cinta sang kakak. Mereka langsung merampas tempat duduk yang sudah diduduki oleh beberapa siswa/i yang makan disana.


Celsi pun memutuskan meninggalkan makanannya, ia berjalan dengan santai agar tidak membuat mereka yang duduk didekat meja samping nya curiga.


Setelah benar-benar keluar dari kantin, Celsi pun berlari tanpa mempedulikan setiap teguran beberapa orang yang ia tabrak.


Sesampainya didepan pintu utama kamar mandi, ia melihat papan tulisan yang membuat Celsi sangat kesal. Ia pun langsung membuka pintu itu.


Bau menyengat sangat menggangu indra penciuman Celsi, terlihat lantai sangat kotor akibat cairan hitam yang sangat busuk.


"Berlin kamu disitu!" Teriak Celsi.

__ADS_1


__ADS_2