Benci Menjadi Cinta

Benci Menjadi Cinta
Bab 66


__ADS_3

...🍃 READING BOOK 🍃...


"Kai seriusan kita mau lakuin ini?" Tanya Farrel yang sedikit merasa takut dengan apa yang mereka perbuat.


Kaisar menarik alisnya satu, menatap bingung dengan sahabatnya itu, kenapa sekarang sahabatnya itu mengomen apa yang telah mereka lakukan.


"Lah nih anak, harus nya tadi bodol lah sekarang mah udah terjadi!" Jengkel Ridwan yang dengan santai meminum pop ice nya.


"Mana tauan kan bisa diperbaiki lagi, masa iya gitu kita biarin aja!" Jawab Farrel yang ikutan jengkel.


"Enggak bisa!" Ucap Kaisar dengan mata tajam.


Kini mereka berada di kantin sekolah, mereka hanya melihat acara yang berada dilapangan melalui kaca besar kantin.


"Eh tu lihat deh yang sama Celsi, gila bule indo dari mana Cok!" Tunjuk Hendra saat melihat Celsi yang baru datang dan duduk di barisan paling depan.


Kaisar menatap kearah tunjuk sahabatnya itu, Deg jantungnya seketika berhenti berdetak, desiran darah mengalir begitu cepat. Gadis yang bersama Celsi adalah Berlin dan ia tau bahwa itu Berlin saat beberapa kali ia sempat memaksa untuk vc dan melihat Berlin tanpa kepang dan kacamata.


Cantik


Mata Kaisar tak berkedip, ia terus melihat gerak gerik gadis itu yang terus mengobrol dengan Celsi. Namun satu yang bikin ia kesal adalah Berlin memperlihatkan paha nya yang putih.


"Gila cantik banget, yok sana ah mana tauan bisa kenalan!" Ucap Hendra yang penuh semangat sambil menarik Ridwan.


"Lepas anjir, jangan pegang-pegang ntar enggak suci lagi nih tangan!" Ledek Ridwan yang menghempas tangan Hendra.


"Sorry ya, kau pikir aku mau gitu megang tu tangan kudisan!" Jengkel Hendra.


"Eh mulus ya, jangan ngasal tu mulut!" Kesal Ridwan.


"Udah, yok kesana!" Ucap Rayhan melerai.


Sungguh ia pusing kalo terus melihat pertengkaran dua teman nya itu yang tak akan mungkin saling mengalah.


Kaisar berjalan lebih dulu dan diikuti oleh Rayhan dan juga Farrel, sedangkan dua orang yang baru saja bertengkar hanya dapat mendengus kesal dan berlari mengejar temannya yang sudah lebih dulu berjalan.

__ADS_1


Kini dilapangan besar SMA Nusa bangsa, sudah tersusun semua kursi yang sudah ditempati oleh satu persatu orang. Cukup ramai saat ini dengan semua murid yang berkumpul menyaksikan acara dan beberapa relasi donatur sekolah yang ikut menyaksikan.


Kini Berlin dan Celsi sedang duduk dengan nyaman menyaksikan acara yang telah berlangsung, namun terdapat tatapan sengit dari Jessica dkk yang duduk di bagian paling ujung.


Tak jauh dari sana juga, Cinta sedang menatap tajam pada adeknya Celsi, ia cukup kesal saat melihat sang adek tetap baik-baik saja tanpa sedikit pun merasa terbebani.


"Ck... pura-pura kuat!" Gerutu Cinta yang begitu jengkel.


Sebuah riuhan seorang siswi saat melihat most warted datang dengan gaya berandalan nya, bahkan acara yang saat ini sedang berlangsung saja teralihkan oleh kedatangan Kaisar dkk.


Semua mata menatap kearah mereka berjalan termasuk dengna Berlin dan Celsi, Berlin terus menatap Kaisar yang sepertinya sedang tersenyum padanya, ntah lah ia yang merasa geer atau memang itu kenyataannya.


"Hay!" Sapa Kaisar tepat dihadapan Berlin yang dari tadi menatap kearahnya.


Berlin tak menjawab, ia lebih memutuskan untuk menunduk dan berpura-pura sibuk dengan ponselnya. Ia tau saat ini semua mata menatap kearah nya dengan tatapan masing-masing.


Lihatlah Jessica dkk merasa geram dengan yang dilakukan Kaisar, meski ia tau Kaisar yang menghampiri tapi tetap saja ia merasa bahwa Berlin yang menggoda Kaisar.


"Berlin!" Sapa Kaisar yang semakin gencar memanggil gadis itu.


Seketika teman-teman kaisar yang berbaris dibelakang terkejut dengan ucapan kaisar, ternyata gadis yang mereka bilang bule dan cantik itu adalah Berlin, gadis cupu yang selalu di bulyy.


Kaisar dkk hanya menyengir kuda, mereka langsung saja duduk didekat Berlin dan Celsi meski harus mengusir beberapa orang untuk berpindah tempat duduk.


Kaisar duduk tepat disamping Berlin, ia terus menatap kearah Berlin yang saat dekat begitu cantik. Debaran di dadanya semakin kuat dan seakan begitu membuatnya sesak.


Berlin berpura-pura menatap yang lain, ia takut dengan tatapan Kaisar. Ia cukup takut jika Kaisar membuly nya lagi didepan banyak orang seperti ini.


"Apa kau mau melihatkan body mu!" Bisik Kaisar tepat ditelinga Berlin.


seketika Berlin langsung menatap kearah Kaisar, Berlin menatap tajam mata pemuda itu yang tersenyum miring terhadapnya.


"Bukan urusan mu!" Sarkas Berlin.


"Oh ya, sepertinya aku suka nih penampilan mu, bagaimana kalau kau menjadi asisten ku aja setelah tamat sekolah!" Ucap Kaisar yang dengan tak tau dirinya tangan langsung merambat kebelakang tubuh Berlin.

__ADS_1


"Kak kaisar, tangan mu!" Bisik Berlin agar tak ketahuan oleh orang lain.


"Kenapa?" Tanya nya dengan wajah polosnya.


"Kak banyak orang, jangan membulyy ku sekarang, ku mohon!" Mohon Berlin dengan wajah yang menurut Kaisar sangat menggemaskan.


"Apa kau mau dicium, lihatlah sejak kapan kau belajar memakai pewarna bibir itu!" Ucap Kaisar yang entah kenapa merasa jengkel.


"Aku mau tampil kak, pliss...lepasin tangan mu itu!" Jawab Berlin dengan wajah yang memohon.


Berlin berusaha menarik tangan Kaisar agar menjauh dari pinggangnya, namun apa kaisar malah mengelus punggung nya yang ntah sejak kapan tangan kaisar berada dibalik kaosnya.


"Baiklah!" Ucap Kaisar yang kembali berwajah datar dan bersikap biasa saja seakan tak pernah terjadi.


Berlin menatap kearah Celsi, ia melihat gadis itu sedang mengobrol dengan teman-teman Kaisar dan mereka cukup akrab.


Sedangkan ditempat yang tak jauh, disana Cinta dan juga Jessica yang berbeda duduk itu menatap sengit kearah kearah Berlin dan Kaisar.


Cinta merasa cemburu karena selama ini Kaisar belum pernah bersikap akrab dengannya semenjak dewasa ini, ia ingin sekali membunuh Berlin yang berani merebut perhatian Kaisar darinya.


Sedangkan Jessica ikutan juga cemburu, ia mengepalkan tangannya melihat interaksi Kaisar dan Berlin yang begitu dekat meski tau tau apa yang mereka ucapkan dari sana.


Acara yang begitu meriah dan menyenangkan tak membuat dua hati gadis yang sedang memanas menjadi dingin, mereka semakin geram dan kesal terlebih Kaisar dengan sengaja nya meletakkan rambut yang sengaja dilepas Berlin diletakkan di telinga gadis itu dan tersenyum tipis sekali.


"Cel kamu ada bawa air enggak?" Tanya Berlin dengan berbisik.


"Ah itu enggak nih, gimana dong!"Jawab Celsi dengan wajah yang merasa tak enak.


"Ada apa?" Tanya Kaisar yang memang dari tadi memperhatikan gerak gerik Berlin.


"Hmm...enggk ada!" Bohong Berlin.


"Nih anak nanyain air!" Jawab Celsi yang membuat Berlin langsung melotot, ntah mengapa ada rasa malu tersendiri saat Kaisar mengetahui ia menanyakan air.


"Nih minum aja!" Kaisar memberikan sebotol teh pucuk yang berbotol kearah Berlin, namun botol itu sudah tinggal setengah yang membuat Berlin terus menatap bingung.

__ADS_1


"Minum aja!" Yakin Kaisar dan dengan perasaan ragu Berlin pun menerima nya.


Ia meminum melalui mulut botol dan secara tak sengaja Berlin melakukan ciuman tak langsung dengan Kaisar, pemuda itu tersenyum bangga dan senang saat melihat Berlin yang meminum dari mulut botol sendiri.


__ADS_2