Benci Menjadi Cinta

Benci Menjadi Cinta
Bab 14


__ADS_3

...🍃 READING BOOK 🍃...


Kini Berlin dan Celsi sudah bersiap untuk keluar kelas.


"Kamu kembali lagi ke tempat tu cowok?" Tanya Celsi dengan wajah menahan kesal.


"Sepertinya begitu, tapi hari ini aku ingin lepas dari tu orang , males banget kalo ngelayanin!" Ujar Berlin yang sudah benci dengan Kaisar.


"Yaudah yok, ngapain harus nurut ama tu orang lebih baik ikut aku aja!" Ujar Celsi yang langsung menarik tangan Berlin.


"Bentar ah cel, kebiasaan kali pun narik tangan!" Protes Berlin yang kesal.


Namun Celsi tak mendengar, ia terus menarik tangan Berlin dengan berlari melewati beberapa murid yang memiliki tujuan yang sama yaitu kantin sekolah.


Sesampainya di kantin, Celsi langsung menerobos segerombolan orang dengan menarik tangan Berlin. Beberapa murid kesal karena Celsi begitu saja menerobos dan mendorong mereka, namun mereka hanya protes dan tidak ingin berurusan dengan Celsi.


Berlin hanya menghela nafas pasrah, kali ini ia membiarkan sahabat nya itu melakukan apapun meski tubuhnya bertubrukan dengan beberapa siswa.


"Mbak bakso dua!" Pesan Celsi yang masih memegang tangan Berlin.


Namun beberapa orang yang ia terobos melakukan protes dan hal itu tak sedikit pun di gubris oleh Celsi.


"Makasih mbak!" Ucap Celsi yang menerima nampan yang berisi dua mangkok bakso yang ia pesan.


Mereka pun berjalan kearah meja yang kosong dan duduk saling berhadapan.


"ini untuk mu, ingat habiskan dan gak usah pikir soal uang!" Ujar Celsi saat melihat Berlin yang akan membuka mulutnya untuk protes.


Huh...


Berlin hanya mendengus kesal pada Celsi, namun ia tetap mengaduk baksonya dan meracik beberapa tambahan seperti saos, kecap dan cabe.


Ia mengaduk bakso itu dengan dua alat makan, lalu mencucuk bakso kecil dan perlahan memasukkan dalam mulut, namun bakso itu bukan masuk kedalam mulutnya tetapi masuk kedalam mulut seseorang.


"Lumayan!" Ucapnya.


Berlin menatap garpu itu, ia menggenggam dengan erat melampiaskan emosinya pada garpu itu, ia menatap orang yang memakan baksonya tanpa seizin dirinya.

__ADS_1


"Itu bakso aku kak!" Kesal Berlin pada Kaisar yang sudah duduk di samping Berlin.


"Bodoh amat, suapin aku cepat!" Titahnya tanpa menatap Berlin yang menahan emosinya.


"Gak mau!" Tolak Berlin yang langsung menyuapkan bakso kedalam mulutnya.


Kaisar menatap Berlin dengan tajam dan seketika itu membuat Berlin sedikit menciut. Namun ia kembali mengendalikan ekspresi nya, ia menatap dengan pasti kearah Kaisar.


"Suapin!" Tegasnya yang tetap menatap tajam Berlin.


Teman-teman Kaisar pun datang dengan nampan yang membawa bakso, mereka semua duduk di meja yang sudah ditempati oleh Celsi dan Berlin pada awalnya.


"Kalian bisa pergi, kita hanya ingin makan dengan tenang!" Usir Celsi dengan geram, terlebih ia sudah menahan dari tadi emosinya melihat sahabatnya itu diganggu oleh kakak kelasnya.


"Kau bisa diam, meja ini bukan kamu yang beli!" Ujar Farrel yang merupakan teman Kaisar.


Pria itu memang dikenal dengan mulutnya yang pedas, ia berkata apa adanya dan bahkan ia yang merupakan cowok yang bermuka jutek pada setiap orang termasuk pada teman-teman nya.


Teman-teman Kaisar bernama Hendra, Farrel, Denis, dan juga William. Mereka berteman pada saat masuk SMA dan mereka semua cukup banyak memiliki fans terutama Kaisar.


Plak...dttting


Garpu Berlin tiba-tiba langsung melayang ke lantai, seorang gadis langsung menghempaskan dengan kasar garpu itu. Wajahnya yang memerah dan tangan dipinggang menatap Berlin dengan kebencian.


"Dasar cewek ganjen, sudah aku bilang bukan! JANGAN PERNAH DEKETIN KAKAK KU!!" Ucap Angel dengan menekankan perkataan.


Kaisar langsung bangkit dari duduknya yang santai, ia meletakkan ponselnya dan menatap tajam pada adiknya itu.


"Apa yang kau lakukan Angel, kau tak berhak mengatur ku!" Bentak Kaisar pada angel dengan mata yang tajam.


"Aku tak mau kakak deket sama nih cewek cupu, culun, miskin dan aku hanya ingin kakak deket sama orang yang setara!" Ujar Angel dengan nada yang juga meninggi.


"Dia budak ku, jadi kamu jangan ganggu urusan ku!" Kesal Kaisar.


"Oh oke, apa begitu seorang budak harus menyuapi tuannya!" Ucap Angel dengan senyum remehnya.


"Hay, bawa kakakmu itu, dia yang datang menghampiri kita dan merebut makanan sahabat ku, apa kau pikir sahabat ku begitu tertarik dengan nya!" Ujar Celsi yang membela sahabat nya itu.

__ADS_1


Celsi langsung menarik Berlin disampingnya, kursi plastik terjatuh karena tarikan Celsi pada Berlin.


"Alah palingan nih cupu ingin cari yang hoki!" Jesica memanasi Angel.


"Sepertinya kau juga yang membuat kakak ku menjadikan mu sebagai budaknya sehingga kamu bisa berdekatan dengan kakak ku!" Sinis Angel.


"Dasar murahan, aku kira cupu ternyata...ups...!" Ujar Fanya.


"Hahahaha...jangan begitu, ntar wajahnya yang jelek ini tambah jelek!" Ucap Diana dengan senyum meremehkannya.


"Eh jaga mulut busuk kalian deh!" Tunjuk Celsi dengan mata yang marah.


Semua orang yang ada dikantin menatap mereka semua, diantara mereka ada yang berteriak dan bersiul seakan itu adalah tontonan yang menyenangkan.


"Sudahlah, dia cuman seorang budak dan aku tak akan suka padanya, pacarku begitu cantik dan tidak mungkin menyukai gadis seperti ini!" Ujar Kaisar dengan wajah meremehkan.


Kaisar langsung pergi begitu saja meninggalkan segerombolan orang itu, para teman-teman Kaisar pun juga ikut pergi meninggalkan makanan yang belum mereka sentuh sama sekali.


Berlin terus menatap kebawah, dirinya sakit hati mendengar penuturan Kaisar, rasa benci ini bertambah dan bahkan sangat benci.


Semua orang menatapnya remeh dan benci, padahal disini dirinya yang seharusnya bela, tapi mengapa ia malah menjadi seseorang yang anggap murahan.


"Gimana budak, menurutmu kakak aku suka sama mu!" Ledek Angel dengan wajah yang dimajukan sedikit kedepan.


"Sepertinya nih culun sudah berharap deh, kalo disuruh jadi simpanan kaisar pun dia mau, sama seperti cewek-cewek kaisar yang lainnya!" Ledek Jesica dengan senyum remehnya.


"Sini deh tu mulut kalian, biar dicuci seperti nya terlalu kotor deh!" Ujar Celsi dengan menahan amarahnya.


Semua orang terus beradu mulut, sedangkan Berlin sudah menitikkan air matanya mendengar setiap ucapan mereka semua.


Namun tak jauh dari sana, ada seseorang yang ingin sekali menenangkan Berlin dengan pelukan hangatnya, ntah sejak kapan ia menyukai gadis culun itu.


"Maafkan aku, Kaisar sungguh keterlaluan padamu!" Gumam pria itu dan langsung pergi meninggalkan tempat itu.


Pertengkaran dikantin itu pun harus berhenti saat mendengar bel masuk kelas. Semua siswa pun menyelesaikan menonton dan memakan makanannya,lalu pergi menuju kelas masing-masing.


Begitu juga dengan Angel dan Jesica dkk pergi meninggalkan kantin itu dan juga Berlin dan Celsi. Celsi terus menahan marah, ia tak ingin emosinya membuat seseorang sampai masuk rumah sakit, sehingga ia hanya dapat beradu mulut dengan mereka semua.

__ADS_1


__ADS_2