Benci Menjadi Cinta

Benci Menjadi Cinta
Bab 24


__ADS_3

...🍃 READING BOOK 🍃...


Mobil Kaisar langsung memasuki per-karangan rumah, ia memarkirkan motornya di pelantaran depan dan langsung berlari masuk kedalam rumah.


Nafasnya ngos-ngosan berhenti diruang tengah, terlihat Cinta berada di pelukan sang mama dan dengan tubuh bergetar menandakan bahwa gadis itu sedang menangis.


"Jelaskan sekarang!" Mata Desi menatap tajam pada putranya.


"Anu...ah itu, Kaisar tadi tak tau kalo Cinta ketinggalan dari belakang!" Ucap Kaisar dengan menggaruk tekuk nya yang tak gatal.


"Terus kamu biarkan begitu Cinta hilang!" Tatapan intimidasi Desi semakin tajam pada Kaisar.


Mata Kaisar berputar mencari sesuatu sebagai alasan. Jika ia bilang iya maka mamanya akan terus bertanya dan bertanya, jika ia bilang tidak maka mamanya akan terus memarahi dirinya.


"Bagaimana, kenapa kamu diam, bukankah kamu tidak mencari Cinta sedikit pun!" Ujar Desi dengan wajah yang sudah marah.


"Bukan gitu ma, Kaisar cariin kok tapi memang Cinta nggak ketemu aja!" Ngeles Kaisar dengan wajah jengahnya saat melihat wajah Cinta menatap kearahnya.


"Nggak ada tan, padahal Cinta sudah nelpon beberapa kali loh!" Adu Cinta dengan memperlihatkan notif ponselnya yang berulang kali menelpon Kaisar.


Mata Desi semakin tajam, ia sangat geram dengan tingkah anaknya yang berani meninggalkan anak orang ditengah mall dengan banyaknya paper bag.


"Maaf, ponsel ku lowbat!" Ucap santai Kaisar


Desi berdiri dan langsung mencubit pinggang Kaisar, ia sangat geram dan gemas karena Kaisar tidak memiliki wajah bersalah.


"Aw...sakit mam, What are you doing know!" Ringis Kaisar dengan tubuh yang bergeliar menghindar cubitan sang mama.


"Sekarang antar Cinta dan harus sampai dirumahnya, jika mama mendengar kamu menurunkan cinta ditengah jalan, maka semua fasilitas mama cabut!" Ancam Desi dengan mata yang menyipit tajam.


Kaisar hanya mampu menghela nafas panjang, ia pun berjalan dengan lemas menuju pintu.


"Bantuin kaisar!!!" Teriak Desi dan dengan segera Kaisar mengambil sebagian paper bag dari tangan Cinta.


Mereka berdua pun berjalan keluar, terlihat Desi terus memperhatikan dengan kepala yang geleng-geleng melihat tingkah kekanakan keduanya.


Kaisar langsung memasukkan semua paper bag dibagian tempat duduk penumpang, begitu juga Cinta juga melakukan hal yang sama.


"Awas kau!" Tatapan Kaisar begitu tajam pada Cinta yang menatapnya.


Kaisar langsung masuk kedalam mobil tanpa membukakan lebih dulu pintu mobil untuk Cinta.

__ADS_1


Cinta berdengus kesal dan sedikit berlari masuk agar tidak ditinggal oleh Kaisar.


Mobil pun perlahan Melaju keluar per-karangan rumah. Didalam perjalanan hanya ada kesunyian yang tertera tanpa ada sedikitpun pembicaraan.


Cinta beberapa kali melirik Kaisar, ia melihat Kaisar memasang muka masam dengan wajah tampannya itu.


"Maaf!" Lirih Cinta dengan wajah ditekuk.


Kaisar tetap diam dan bahkan untuk melirik Cinta pun tak ia lakukan, membuat gadis itu pun terdiam dan tak ada suara.


Sampai pada akhirnya mereka pun sampai di rumah Cinta, mobil Kaisar diberhentikan di depan rumah.


"Keluar dan ambil semua barangmu!" Ujar Kaisar datar tanpa menatap Cinta.


"Tapi kan..."


"Cepatlah, aku masih banyak urusan!" Kaisar langsung memotong perkataan Cinta.


Dengan wajah yang ditekuk, Cinta pun langsung keluar dan membuka pintu belakang mengambil barangnya. Ia menutup dengan kasar pintu mobil Kaisar, namun Kaisar tak peduli. Ia langsung pergi begitu saja tanpa sedikitpun sapaan untuk pergi.


"Sial!" Cinta masuk dengan kaki yang terus dihentakkan dilantai.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Aku nggak sakit keras loh cel, kasih ah tu nasi sama aku!" Gerutu Berlin yang berusaha menjangkau piring dari tangan Celsi.


Tetapi Celsi malah menarik piring itu menjauh dari jangkauan Berlin.


"Uttsss....diem, tinggal mangap dan Telen susah amat!" Celsi langsung menyuapkan nasi kedalam mulut Berlin yang terbuka.


Berlin menggerutu dengan mulut yang penuh, pasalnya Celsi saat dirinya akan mengucapkan sesuatu pasti disiapkan dengan jumlah sendok besar.


"Udah habis, diam atau aku ambil satu baskom tu nasi!" Ancam Celsi dan Berlin langsung diam.


Celsi pun keluar untuk meletakkan piring kotor Berlin kedapur, saat ini Tami sedang memasak cemilan untuk mereka bersama, meski Berlin tidak bisa makan sesuatu yang sembarangan sebelum bintik-bintik merah itu hilang.


"Tan Celsi bantu ya!" Ucap Celsi yang mengambil potongan tempe di meja makan.


"Eh nggak perlu sayang, udah kamu sana sama Berlin aja!" Tami menghampiri Celsi dan mengambil potongan tempe dari tangan Celsi.


"Tapi tante sendirian loh masak, masa aku diem aja nungguin!" Ujar Celsi.

__ADS_1


"Udah sekarang kedalam, kalo banyak banget orang disini tante kan bingung jadinya untuk bertindak!" Ujar Tami yang merangkul Celsi menuju pintu dapur.


"Yaudah deh, Celsi pergi kekamar Berlin deh!" Celsi pun pergi dan Tami melanjutkan pekerjaannya.


Didalam kamar, Berlin merasa bosan karena ia seharian ini tak melakukan apa-apa dan bahkan untuk bergerak saja tidak diperbolehkan, seakan dirinya seorang yang mengalami penyakit yang serius.


"Ber! Bosan nggak?" Tanya Celsi yang menghampiri Berlin.


"Kamu nanyak!" Ejek Berlin yang kembali membalas ejekan Celsi pada saat di rumah sakit.


"Kamu ya!" Celsi langsung berlari dan melompat ditubuh Berlin.


"Aw...aku lagi sakit loh Celsi!!!" Pekik Berlin yang berusaha melepaskan diri dari Celsi.


"Bodo...Tadi bukannya masih kamu nanyak, sekarang bagaimana!" Ujar Celsi yang sudah sangat gemas dengan Berlin.


"Tolong....!!" Berlin memekik.


Dengan segera Celsi bangkit, agar tidak dilihat oleh ayah dan ibu Berlin.


"Coba sekali lagi kamu nanyak kayak gitu, kalo sampek aku buat kamu gepeng!" Ujar Celsi dengan tawanya.


Berlin ikut tersenyum, ia cukup merasakan sakit ditubuhnya namun saat melihat wajah tertawa Celsi membuatnya melupakan rasa sakit itu.


"Sekarang yok keluar, nggak bosan apa didalam kamar terus!" Celsi langsung menarik Berlin begitu saja.


Mereka pun berhenti diruang tv, dimana kini sudah berada Yudha yang sedang menonton sinetron tv kesukaannya.


"Om suka nonton sinetron ini ya, aku juga sama loh suka sama tu sinetron!" Celsi pun ikut bergabung dengan Yudha, melupakan Berlin yang tadi ia tarik.


"Dasar, beginilah istilah kacang lupa ama kulitnya!" Batin Berlin yang menatap kedua orang yang begitu asik membicarakan sinetron yang memiliki adegan yang tidak sesuai keinginan mereka.


"Cemilan datang!" Tami pun datang dengan membawa dua piring gorengan yang bercampur.


"Wah...masih anget!" Ucap Yudha saat melihat uap panas dari gorengan itu.


"Berlin juga mau!" Dengan semangat Berlin langsung duduk disamping sang ibu.


"Nggak boleh!" secara serentak mereka melarang Berlin dan menjauhi piring gorengan dari hadapan Berlin.


"Ya...!"

__ADS_1


"Kamu ambil aja roti makan roti aja ya, soalnya kamu belum bisa makan yang berminyak sayang!" Ucap Tami yang meminta pengertian.


Berlin pun berjalan dengan lemas menuju dapur, padahal saat ini ia sangat ingin mengemil masakan sang mama.


__ADS_2