
...đ READING BOOK đ...
Hari Minggu yang mencerahkan, namun berbeda dengan Celsi yang masih menatap indahnya kota Jakarta dari atas gedung apartemen.
Ia enggan untuk beranjak, matanya masih mengingat masa-masa bersama dengan keluarganya meski pun itu sedikit kenangan.
"Ahh...sudah lah lebih baik aku bersih-bersih dan menemui Refan di pinggir kota, mana tauan dia lagi ngamen" Ujarnya yang langsung beranjak dari balkon apartemen.
......................
Kini Celsi sudah berada diatas motornya, ia mengendarai dengan pelan mencari keberadaan Refan saat ini. Karena mungkin hari minggu banyak pengguna jalan kaki melakukan joging di pinggir trotoar.
Nah itu dia, Refan yang sedang melakukan atraksi dance bersama dengan teman-teman nya, terdapat kumpulan para pejalan kaki menikmati dance indah Refan dan teman-temannya.
Lihatlah liukan tubuh yang indah, bahkan membuat para penonton bersorak-sorai. Celsi menepikan motornya di pinggir jalan, ia turun dari motor berjalan menghampiri Refan dan teman-temannya.
"Hay!" Sapa Celsi yang membuat Refan dan yang lain berbalik menatap Celsi.
"Hay princes!" Sapa Refan yang langsung merangkul ala sahabat dan begitu juga yang lainnya.
"Tumben, ada apa nih!" Ujar Tier, yang merupakan pemuda berambut kriting dan hitam.
"Yaelah, kagak boleh apa!" Ketus Celsi tapi masih dengan tawa kecilnya.
"Boleh lah, etsdah enggak usah dengerin nih orang!" Ujar Refan yang langsung menggeplak wajah Tier dan membawa Celsi ke tempat duduk trotoar.
"Btw apa kabar cel!" Sapa Yeldi yang ikut mendekati Celsi.
"Sehatlah, kalian pada gimana?" Celsi pun bertanya balik pada mereka.
"Sehat dong, ditambah Minggu ini didatengin bidadari!" Ujar mereka serentak.
Celsi hanya tertawa kecil, sungguh menyenangkan berteman dengan anak jalanan meski mereka tak bersekolah sedikit pun, setidaknya mereka masih asik untuk diajak berteman.
"Aku sih kesini bukan cuman sekedar ngunjungi sih, tapu memang mau minta tolong kalian!" Ujar Celsi yang menatap dengan penuh permohonan.
"Tu muka jangan digituin, jelek banget dah...emang nya apaan?" Ujar Refan yang langsung menjitak kening Celsi.
Celsi mendengus kesal, ia pun mengusap keningnya yang sedikit pedih. "Huh...imut tau, cuman mintol ngajarin dance!" Ujar Celsi yang mampu membuat mereka semua langsung terbatuk-batuk.
"Eh kenapa?" lanjut Celsi dengan wajah polosnya.
__ADS_1
"Enggak ada sih!" Refan dan yang lain hanya dapat menggaruk tekuk nya yang tak gatal.
"Bisa enggak?" Celsi kembali mempertanyakan.
"Bisa dong, emangnya kapan?" Tanya Refan yang kini semakin fokus menatap Celsi yang cantik menurutnya.
"Sekarang bisa!" Tanya Celsi yang merasa tak enak sendiri.
"Bisa dong, tapi dimana?" Tanya Tier.
"Deket tongkrongan pakcik Mamat deh!" Ujar Celsi yang langsung berdiri dan menjulurkan kepalan agar di tos kembali oleh para Refan dkk.
"Yaudah, jam berapa dah ntar telpon aku kabarin ya!" Ujar Refan dengan menyambut tos an tangan Celsi pada nya.
Yang lain pun ikut juga menjulurkan tangan untuk tos juga, Celsi hanya tersenyum dan langsung berbalik dengan tangan yang melambai.
Celsi pun menaiki motornya nya yang ada ditepi jalan, ia pun melajukannya meninggalkan teman jalanannya itu.
...****************...
Sedangkan ditempat lain di kediaman Aldebaran, Tami minta oleh tuan muda nya untuk membersihkan kamar nya karena hanya cuman Tami lah yang di percaya diantara pelayan lain.
Tami mengerutkan keningnya, untuk apakah tuan muda nya mempertanyakan anak gadisnya itu, kan memang biasanya tidak pernah kesini sama sekali.
"Untuk apa tuan muda?" Tanya Tami dengan wajah bingung.
Tami yang sedang membersih-bersihkan debu pun harus berhenti dan menatap tuan muda nya dengan lekat seakan takut mungkin anak nya melakukan kesalahan.
"Enggak ada, cuman agak kepo aja kan bik Susi pernah tu bawa anak nya kesini, kok bibik enggak sih!" Ujar Kaisar menjelaskan.
Tami semakin mengerutkan keningnya, sejak kapan tuan muda nya menjadi cerewet dan bahkan mempertanyakan tentang anak yang datang kesini, apakah dirinya harus seperti pembantu lain yang kadang membawa anak nya?
"Eh bik kok diem aja, yaudah deh kalo bibik enggak mau jawab!" Sungut Kaisar yang langsung bangkit dari kasurnya.
Ya kaisar sedang bertelungkup dengan dagu yang tertahan oleh tangannya dan menatap kearah Tami yang sibuk membersihkan debu. Ntah kenapa ia biasanya ketika pembantunya itu membersihkan kamarnya maka ia akan keluar, tapi ia memilih tetap disini untuk mengintrogasi sang bibik.
"Ah itu tuan muda, anak bibi kan udah gadis apalagi kan di menjaga rumah jadi enggak bisa kesini!" Jawab ragu Tami.
"Kan bisa tu rumah nya di kunci, mana ada maling masuk kalo udah dikunci!" Ujar Kaisar yang memasang wajah polosnya.
"Ah itu...bibik enggak tau juga tuan muda, anak bibik lebih suka dirumah katanya dari pada keluar!" Jawab Tami yang kembali mulai membersihkan debu kembali.
__ADS_1
"Kebiasaan anak bibik apaan yak?" Pertanyaan Kaisar kembali dan hal itu membuat bik Tami gelagapan dan hampir menjatuhkan foto yang sedang ia bersihkan.
"Ah maaf bik, tapi bisa dong anak bibik kesini, kaisar enggak ada temen nih!" Lanjutnya dengan wajah memelas.
Seketika Tami menatap lekat kearah tuan mudanya itu, ia mendekati tuan muda nya dan mengecek suhu tubuh Kaisar yang mungkin membuat nya bermasalah sehingga bersikap seperti ini.
"Tuan muda Kaisar aman kan, enggak lagi kerasukan atau apalah, bibik mungkin bisa bantu kalo tuan ada masalah dalam pikiran dengan baca doa, jadi tenang bilang aja!" Ujar Tami yang memutar-mutarkan wajah Kaisar.
Kaisar pun menggeser kan tangan Tami, ia tersenyum tipis. Ia tau pasti respon bibik nya itu seperti ini, namun cukup lucu sih melihat wajah bingung sang bibik.
"Aman kok bik, cuman nanya doang kok bibik aja yang berlebihan!" Ujar Kaisar yang bangkit dari duduknya.
Tami semakin mengerutkan keningnya, ia semakin yakin bahwa tuan muda nya itu sedang kerasukan jin jahat hingga seperti ini, lihatlah bahkan tuan muda nya tersenyum sendiri berjalan kearah balkon.
"Eh bentar, apa jangan-jangan tuan muda mau bunuh dini, alamat ntar mati aku sama nyonya dan tuan besar lagi!" Batin Tami.
Tami langsung membuang kemoceng nya, ia pun berlari memeluk kaisar dengan erat. Terlihat kaisar sedikit bingung dengan yang dilakukan Tami saat ini.
"Eh bik ngapain ini?" Tanya Kaisar yang memegang pembatas balkon kuat.
"Tuan tolong dipikirkan baik-baik, jangan begini!" Ujar Tami yang berusaha menjauhkan Kaisar dari balkon, namun kaisar semakin memegang erat balkon karena ia masih bingung dengan ucapan pembantunya itu.
"Tuan muda masih ada nyonya dan tuan besar, jadi jangan begitu mohon dipikirkan baik-baik karena hidup tuan muda masih panjang!" Ucap Tami yang tampak berwajah sangat sedih dan histeris.
"Bik kenapa ah...aku enggak ngelakuin apa-apa!" Kesal Kaisar.
"Tuan muda jangan bunuh diri sekarang, bibik tau masalah tuan berat jadi jangan lakuin itu!" Ujar Tami yang semakin histeris.
"Eh kenapa tu bik Tami!" Teriak seseorang dari bawah yang merupakan pengurus kebun.
"Bantu bibik, tuan muda mau bunuh diri!" Teriak Tami sambil memegang erat Kaisar.
Kaisar semakin kesal dan bingung, pasalnya ia hanya ingin menikmati udara dari luar, eh kok malah di katakan ingin bunuh diri, ini bibik nya rada konslet atau gimana.
"Bentar bik, saya bantu!" Teriak tukang kebun yang akan berlari membantu Tami.
"BERHENTI!!!" Teriak Kaisar yang akhirnya pelukan Tami pun terlepas dan tukan kebun berdiri bagai patung.
"Kaisar hanya mau nikmatin udara loh bibik, bukan mau bunuh diri...haduhhh...kok punya bibik ada rada-rada nya yak!" Kesal kaisar sambil menepuk keningnya bingung.
Kaisar pun berjalan meninggalkan balkon, mood nya sudah hancur dan akan memilih untuk berkeliling saja.
__ADS_1