Benci Menjadi Cinta

Benci Menjadi Cinta
Bab 67


__ADS_3

...🍃 READING BOOK 🍃...


Kini acara demi acara telah berlangsung dan kini adalah acara dimana pertandingan antara Celsi and Berlin dan Jessica dkk. semua orang bertepuk tangan saat kedua kelompok naik dalam satu panggung, dimana mereka akan saling berbalas dance.


Suara riuh begitu terdengar kuat, beberapa diantara mereka terus memanggil-manggil dan menyoraki nama Jessica dkk, selain mereka berkuasa, mereka juga cukup terkenal dikalangan para pelajar tingkat atas.


Kini diatas panggung, tatapan sengit terlayang diantara kedua grup, tatapan kebencian begitu menguak sampai hingga suara MC membuat mereka memutuskan tatapan itu.


Sekarang adalah pertandingan antara dua grup, kita lihat bagaimana dance single tiap grup yang berbalas-balasan.


Suara riuh pun kembali bersorak, musik yang dikolaborasikan menjadi satu dari beberapa musik dan lagu berbunyi, kini gerakan dimulai dari Jessica.


Gadis itu perlahan menggerakkan kakinya melompat-lompat kedepan dan berhadapan langsung kearah Berlin, berlagak menantang, dan mulailah gerakan erotis dan patah-patah bergabung.


Suara riuh kembali menggelegar, ayolah mereka baru kali ini melihat ada yang melakukan dance diacara ulang tahun sekolah, biasanya hanya acara formal seperti rest IQ, Debat bahasa Inggris, Pidato, dan terakhir drama yang membosankan.


Kini Jessica mulai mundur, kini Berlin lah memulai dengan berjalan kedepan. Gadis yang biasanya menunduk dan tak peduli dengan sekitar, kini begitu sangat berbeda. Gerakan tangan dan lompatan kaki yang indah, bahkan liukan badan nya sungguh membuat semua orang berpekik menjerit tertahan.


"Gila...anjir,akkkkkk...keren banget!" Pekik Hendra yang tak kalah heboh.


"Dipastikan aku tak akan bisa!" Ujar Rayhan dengan wajah datar namun ada terkesan takjub.


"Oh jelas! Karena kau adalah kertas putih, enggak ada warna!" Ejek Ridwan yang membuat Rayhan mendengus kesal.


Kaisar terus memperhatikan setiap gerakan Berlin, ada rasa bangga di dirinya namun ada rasa geram akibat tubuh Berlin yang cukup terekspos.


Entah mengapa akhir-akhir ini ia selalu ingin dekat dan menjahilin gadis itu, bahkan ia begitu suka saat wajah Berlin memerah menahan kesal.


Wajahnya tak berekspresi, namun perlahan sebuah senyuman sabit terpancar indah diwajahnya.


'Cantik'


Dipanggung, kini Diana lah yang melakukan dance dengan sangat lihai, ia bersikap sangat sombong dan menatap sinis kearah Celsi.


Setelah puas melakukan dance, Diana pun mundur kebelakang dengan gerakan sesuai ritme lagu, kini Celsi yang maju dan mulai menggerakkan tubuhnya.


Setiap gerakan dan hentakan begitu riuh, bahkan suara musik dengan bass yang cukup tinggi. Berbeda dibagian belakang, kini bahkan panggung itu hampir roboh dan baut-baut nya satu persatu terjatuh.

__ADS_1


Prangg...


Sebuah palang besi terjatuh, seketika hening dan tak dapat melakukan apa-apa. Berlin menatap keatasnya, melihat ternyata saat ini panggung sudah begitu goyang.


Berlin dengan sigap langsung menarik tangan Celsi dan tak peduli, langsung melompat dan mendorong Celsi menjauh dari panggung. Ia tak peduli saat ini, diatas panggung ada apa yang penting ia dan Celsi harus selamat.


"Sttt...kaki ku terkilir!" Ringis Berlin saat kakinya tak sengaja terkilir akibat melompat.


"Berlin, kamu enggak papa! Ayo cepat ntar panggung nya roboh kenak kita!" Ucap Celsi yang langsung menarik Berlin.


Berlin mengangguk, ia melompat-lompat menjauh dari panggung yang sudah sebentar lagi roboh. Untuk Jessica dkk, Angel sungguh tidak bisa berbuat apa-apa, kini kakinya terkilir dan terjerat sama kabel yang ada disana.


Karena panik, ia sungguh tak bisa melakukan hal mudah itu. Ia terus berusaha membukanya dan meminta tolong pada semua orang untuk membantu nya, namun apa tak ada satu orang pun yang melakukan apa-apa untuknya.


Kaisar menghampiri mendekat kearah Berlin, namun ia juga melihat adeknya yang kesulitan. Pemuda itu bingung, ia ingin menggendong Berlin untuk menjauh, tapi kini adeknya masih dalam masalah.


"Kak Angel kak, cepet tolong dia!" Teriak Berlin saat itu tanpa mempedulikan keadaan.


"Ta-tapi...!"


Kaisar bingung harus berbuat apa, ia pun memutuskan untuk berlari kearah Angel adeknya dan membantu membuka kabel yang terjerat kaki sang adek.


Terlihat kaki itu sudah membiru dan merah, dengan sigap kaisar menggendong tubuh Angel dan sedikit berlari karena panggung meroboh dengan gerakan melambat.


Bruuuk


Kini panggung kokoh itu telah ambruk, bahkan tak banyak kursi plastik saat itu rusak akibat robohan itu. Untuk saat itu para murid langsung menghindar dan tidak ada satu orang pun yang menjadi korban.


Kaisar berlari menuju kawan nya, ia menghampiri Hendra dan langsung begitu saja memberikan Angel pada pemuda itu.


"Kakak!!!" Teriak Angel, tapi Kaisar tak peduli.


Ia lebih memilih mencari keberadaan Berlin saat ini yang ia ketahui pasti sedang terluka.


Matanya berputar-putar, mengeliar mencari keberadaan gadis yang sempat mengguncang hati nya, hingga sampai di UKS yang pintu nya sedikit terbuka.


Kaisar mendekat, hal pertama yang ia lihat adalah Berlin tersenyum dengan Raihan ketua OSIS yang begitu tak ia suka. Kini ia semakin benci dengan pemuda itu, karena berani nya mengambil senyum manis Berlin yang tak pernah ia dapatkan.

__ADS_1


Tangannya mengepal, urat ditangannya tampak terlihat, dan kulitnya yang kuning menjadi pucat karena genggamannya itu. Gigi nya menggertak menahan amarah, dengan hati dongkol ia langsung pergi meninggalkan UKS itu.


"Ssttt!" Ringis Berlin dengan tangan ingin menjangkau tangan Raihan tapi tak sampai.


"Maaf, aku akan pelan!" Ucap Raihan dengan wajah merasa bersalah.


"Enggak papa kok kak, sini biar aku saja!" Ucap Berlin dengan senyum nya dan meminta alat kompres dari tangan Raihan.


"Udah diam aja, biar aku saja!" Tolak Raihan.


Pemuda itu kembali mengompres kaki Berlin yang sedikit membiru dan merah, sepertinya kaki gadis itu benar-benar terkilir dan harus diurut.


"Apa mau aku urut?" Tanya Raihan sambil mendongak.


Matanya yang polos itu bertanya membuat Berlin langsung tertegun, saat ini posisinya ia berada duduk di brangkas UKS dan Raihan menjongkok, membuat Raihan harus sedikit mendongak.


"Gimana?" Tanya nya kembali karena Berlin tak kunjung jawab.


"Ah gimana apa kak!" Berlin malah gelagapan takut ketahuan tertegun pada pemuda itu.


"Mau diurut biar kakinya engsel tulang kembali ketempat!" Ucap Raihan menjelaskan.


"Tapi kak, itu sakit enggak?" Tanya Berlin mengerjap-ngerjap.


Oh tidak, sekarang Raihan yang malah tertegun. Kini kedua pipi pemuda itu memerah, ia blushing karena melihat Berlin yang begitu menggemaskan.


"Kak!" Panggil Berlin lagi.


"Ah itu sepertinya agak sakit karena mengembalikan tulang kaki mu seperti semula!" Ucap Raihan dengan sedikit mengedipkan mata dan tangan yang mengukur kecil.


"Kalo dibiarkan sembuh enggak kak?" Tanya nya, sebenarnya Berlin sedikit ngilu harus melakukan itu, apalagi ia masih merasakan nyeri dan sakit dikakinya itu.


"Tulang mu tak bisa kembali lagi kalo sudah lama enggak diperbaiki, jadi sebaiknya dilakukan sekarang agar tidak terlalu sakit!" Jelas Raihan.


"Kakak bisa ngurut?" Tanya Berlin dan Raihan hanya mengangguk.


Berlin mangut-mangut mengerti, ia terus memperhatikan gerak gerik Raihan yang sepertinya sedang mencari minyak untuk mengurut kaki nya.

__ADS_1


__ADS_2