Benci Menjadi Cinta

Benci Menjadi Cinta
Bab 75


__ADS_3

...🍃 READING BOOK 🍃...


Kini dimalam hari dimana di keluarga Aldebaran, mereka makan bersama didalam ruang makan. Tak ada suara sedikit pun dari mereka untuk memulai perbincangan, hanya fokus dengan makanan yang sudah siap disantap.


Tak seperti biasa yang makan hanya biasa saja, ini ada aura ketegangan antara anggota keluarga kecuali Angel yang bersikap biasa saja.


Setelah mereka makan, semua nya duduk diruang tengah dimana mereka akan melakukan itu ketika memang ada yang harus dibicarakan.


"Mama mau kamu masuk universitas di Inggris dengan mengambil jurusan manajemen perkantoran dan keuangan, so...it's for your good, handsome!" Ucap Desi to the point.


"Aku tak mau!" Tolaknya tegas tanpa sedikit pun mau memberikan alasan.


"Kami tak meminta pendapat mu, kau hanya bisa melakukannya sayang!" Ucap Desi.


"Apa kalian memaksaku, ini keterlaluan bukan!" Ucap Kaisar yang sungguh tak percaya dengan jalan pikir kedua orang tuanya itu.


"Ini semua untuk mu, kau anak pertama dan harus meneruskan perusahaan papa!" Ucap Aldebaran membalas, wajahnya tetap tanpa ekspresi sedikit pun.


"Ini kalian menekan ku, apa ini yang kalian bilang kebaikan ku!" Tungkasnya dengan kepalan tangan yang sudah memutih menahan amarah.


"Kami hanya berusaha kau agar berjalan sesuai seharusnya, jangan menganggap kami tak tau apa yang kau lakukan diluar sana!" Ujar Desi dengan penuh selidik dan ancaman.


"Aku melakukan apa, semua itu aku lakukan untuk kebahagiaan, aku punya hati dan juga perasaan!" Bantahnya.


Ini kehidupannya kenapa harus selalu berada di dalam pengawasan dan kemauan orang tuanya, bahkan untuk hati saja harus sesuai dengan keinginan mereka. Dia manusia yang mempunyai hati dan perasaan, ini tak adil bagi nya yang harus terus mengikuti ucapan kedua orang tuanya.


"Kau sudah memiliki tunangan, jangan macam-macam atau pernikahan mu akan dipercepat sebelum kau menyelesaikan S1 mu!" Ancam Desi yang begitu geram dengan sikap sang anak yang mulai melawan tak seperti biasanya.


"Aku tak menyukainya ma, dia berhati busuk dan bermuka dua!" Ucap Kaisar dengan wajahnya yang frustasi bagaimana cara nya harus menjelaskan bahwa ia menolak perjodohan ini.


"Bukankah itu sudah ditentukan, kau tak bisa membantah atau pun menolak, dia akan tetap menjadi tunangan mu apapun yang terjadi, kecuali dia membuat noda bekas yang tak bisa dimaafkan!" Ucap Desi yang tegas tak bisa dibantah.

__ADS_1


"Kau harus tetap fokus dengan kuliah mu, jangan pikirkan yang lain!" Ucap Aldebaran.


"Baiklah, terserah kalian!" Pasrah Kaisar yang langsung berjalan meninggalkan ruangan tengah itu.


Kini tinggallah angel dan kedua orang tuanya, diantara mereka tak tau harus membicarakan apa. Tentu saja tak ada perbincangan penting yang menyangkut gadis itu seperti Kaisar.


"Aku juga pergi, tugas ku banyak!" Ujar Angel membuka mulut dan langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari keduanya.


...****************...


Kini dirumah sakit tempat Berlin dirawat, dimana gadis itu belum juga sadar dari koma nya, bagaimana pun darah yang dikeluarkan begitu banyak dan kepalanya terbentur sangat kuat.


"Bagaimana keadaan nya dok?" Tanya Tami dengan wajah cemasnya.


"Dari hasil riset keseluruhan nya, terdapat patah tulang dua rusuk dan benturan keras dikepalanya membuat sebuah cairan bersarang di otak besarnya, itu semua harus dilakukan operasi secara bertahap!" Jelas dokter itu dengan menatap selembar kertas yang menunjukkan sebuah gambar.


Tami hanya dapat menangis sesegukan, sungguh ia tak bisa mendengar ucapan dari dokter yang menjelaskan keadaan dari anaknya.


"Berapa biayanya dok?" Tanya Yudha dengan suara serak menahan tangisnya.


"Hmm...mungkin hampir 500 juta atau lebih, anak anda akan melakukan dua operasi, belum lagi obat-obatan yang akan dikirim dari luar negeri karena untuk mempercepat pemulihan nya sangat membutuhkan obatan itu!" Jelas dokter itu..


Sesak rasanya, dari mana uang yang akan mereka keluarkan kali ini. Meski pun mereka meminjam pada keluarga Aldebaran tidak akan mungkin mereka akan meminjamkan uang begitu banyaknya.


"Baiklah, kami akan berusaha mencari uang nya dok, makasih!" Ucap Yudha yang langsung bangkit dengna terus memeluk tubuh istrinya agar tak terjatuh karena ia tau bahwa istrinya itu sedang sangat lemah.


Kelaur dari ruangan dokter itu, kini Tami dan Yudha mengeluarkan semua keluh kesah mereka melalui air mata yang sudah tak terbendung dari tadi.


"Apakah bisa sebanyak itu buk?" Lirihnya yang tak percaya.


"Kita harus mencarinya mas, apapun yang terjadi!" Ucap Tami dengan isak tangis nya yang tak terbendung.

__ADS_1


"Kemana, tidak mungkin keluarga Aldebaran akan meminjamkan uang sebegitu banyaknya meski kau adalah mantan pembantu nya!" Lirihnya menjelaskan.


"Kita coba!" Ucap Tami meyakinkan.


Sedangkan ditempat lain, lebih tepatnya di dalam kamar dengan cahaya remang-remang terdapat seorang pemuda yang terdiam dengan terus menatap langit-langit kamarnya.


Helaan nafasnya terus saja keluar dari mulutnya, ia memikirkan semuanya saat ini. Hubungannya dengan Berlin baru saja berlangsung seminggu dan tak mungkin ia harus LDR an sejauh dan selama itu, so itu tidak mungkin untuk gadisnya setia menunggu nya.


Kini tangan pun mulai meraba-raba nakas, ia mengambil ponselnya yang sedang dicas. Ia menghidupkan nya dan melihat pesan yang masuk kedalam ponselnya, sedikit kecewa kali ini karena tak ada satu pun pesan dari Berlin yang menanyakan ujian nya seperti biasanya.


"Kemana ya?" Gumamnya sambil menatap room pesan Berlin, ingin rasa nya memulai pesan namun gengsi nya masih begitu tinggi.


Ia pun melempar ponselnya dan bangkit dari rebahan nya menuju kamar mandi, ia membersihkan seluruh wajah dan beberapa bagian agar ia nyaman untuk tidur.


Setelah berada didalam kamar mandi cukup lama, ia kembali merebahkan tubuhnya dan mengambil ponselnya. Lagi dan lagi ia kembali kecewa, tak ada pesan masuk dari kekasihnya itu.


Padahal ia berharap setelah selesai membersihkan, ia pun mendapat pesan yang menanyakan kabar nya dari sang kekasih, namun semua ternyata membuatnya kecewa yang dimana tak ada satu pun pesan selain jawaban dari good ****morning****.


Kaisar kembali melempar ponselnya, ia membiarkan pesan masuk dari ponselnya dan menutup matanya berusaha agar untuk tidur.


Ctingg


Sebuah pesan masuk dan dengan cepat tangan nya menyambar dan melihat siapa yang mengirimkan pesan, senyumnya yang begitu lebar kini harus kembali menjadi lengkungan kekecewaan dari bibirnya.


Bukan Berlin dan malah pesan dari Cinta yang terus merengek minta jalan dengan nya, ia semakin kesal dengan itu. Dengan cepat tangan nya mengetik sesuatu melampiaskan kekesalan nya pada Cinta.


"Ah sial!" Umpatnya yang langsung saja menelpon nomor Berlin.


Satu detik, dua detik, tiga detik dan bahkan beberapa menit tak kunjung dijawab. Kaisar semakin geram dan kesal, ingin sekali menemui Berlin dirumahnya tetapi sekarang sudah malam dan tak baik untuk berkunjung.


Ia pun menurunkan gengsinya dan mulailah menanyakan kabar atau keadaan Berlin yang tak diketahui sejak tadi.

__ADS_1


__ADS_2