
...đ READING BOOK đ...
Kini Tami sudah sehat seperti biasanya, tapi ia dilarang keras oleh sang suami untuk bekerja kali ini. Ia bahkan sudah berhenti bekerja di rumah besar Aldebaran.
Ia sedang membeli belanjaan bulanan dimana ia membawa begitu banyak bahan untuk bulan ini bersama dengan Berlin yang memang sedang cuti akibat kelas 12 mengadakan ujian lulusan.
"Sudah semua buk?" Tanya Berlin sambil memeriksa plastik bawaannya.
"Udah, yok pulang kaki ibu capek kalo duduk lama-lama!" Ucap Tami yang berjalan dengan tertatih-tatih membawa barang bawaannya.
"Berlin aja yang bawa buk, pasti ibu capek banget membawa itu barang!" Ucap Berlin yang ingin merebut barang bawaan Tami.
"Enggk usah, kamu udah keberatan sama itu, yaudah yok!" Tolak Tami yang langsung berjalan lebih dulu dan diikuti oleh Berlin.
"Tapi ibu kesusahan loh bawa itu!" Berlin masih tetap kekeh untuk membawa barang bawaan ibu nya itu.
"Enggak apa-apa, cepet ah kamu pasti lapar kan!" Tolak Tami yang kini mempercepat langkahnya.
Berlin hanya dapat menghela nafas pasrah melihat sikap keras kepala ibu nya yang tak pernah berubah, selalu saja enggak mau merepotkan.
Tinnn....tinn....
Suara klason mobil begitu keras. Berlin yang saat itu lagi fokus dengan barang bawaannya langsung menatap kearah ibu nya yang akan menyebrang.
Mata nya terbelalak, tak berpikir banyak ia langsung berlari kearah ibu nya membiarkan barang bawaannya yang berserakan.
Brukk...srreek...dreett...duangg
Suara mobil truk yang banting stir akibat itu, namun kini tubuh Berlin sudah terlempar jauh hingga ke pembatas jalan. Semua orang yang melihat kejadian itu langsung saja mengerumuni Berlin yang sudah bersimbah darah.
"TIDAKKKKK....BERLIN!!!" Teriak Tami yang langsung berlari kearah sang anak.
Ia memeluk tubuh anaknya yang terkulai lemas bersimbah darah, ini salah nya yang tak berhati-hati menatap jalan. Semua salahnya, jika saja tak membawa Berlin bersamanya mungkin ia yang kenak bukan anaknya.
Tami terus menyalahkan dirinya, ia memeluk erat tubuh Berlin dan menangis meratapi kebodohan nya.
__ADS_1
"Ber-berlin s-sa-sayang i-bu d-da-n ay-yah!" Hanya itu yang terlontar dari mulut Berlin dan akhirnya tak sadarkan diri.
Tami berteriak memanggil nama Berlin, ia tak ingin anaknya pergi meninggalkan nya, ia hanya memiliki satu anak, apa tuhan begitu tega mengambil nya dari dirinya.
Tami terus menangis hingga ambulance datang mengangkut mereka berdua menuju rumah sakit. Jalanan begitu ramai jadi nya akibat kecelakaan itu, mobil yang macet berusaha minggir untuk memberi jalan pada ambulance meski mereka juga terjebak oleh macet.
Hingga akhirnya mereka sampai di rumah sakit Cempaka biru, Tami tak menghiraukan keadaan nya yang kacau, saat ini yang ia pikirkan keselamatan sang anak.
"Buk maaf enggak bisa masuk,.ini adalah ruangan sterilisasi!" Ucap suster itu saat Tami akan ikut masuk kedalam ruangan bersama Berlin.
"Tapi anak saya sus!" Lirihnya frustasi.
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin, mungkin anda menunggu dan membayar administrasi rumah sakit biar ditangani langsung!" Ucap suster itu lembut dan langsung menutup pintu ruangan UGD itu.
Tami berputar-putar, ia bingung harus kemana mencari uang untuk biaya rumah sakit Berlin, sedangkan semua tabungan nya dan Yudha sudah dipakai untuk perobatan nya.
Tami pun memutuskan untuk menggunakan sisa uang yang berada di kartu nya itu, untuk biaya setengah rumah sakit. Ia sungguh tak bisa berpikir kali ini untuk melakukan hal yang lain.
Tami pun berjalan menuju tempat represionis rumah sakit, ia menggenggam erat kartu ditangannya, ia langsung memberikan pada represionis itu dengan wajah kacaunya.
"Membayar biaya rumah sakit untuk korban kecelakaan barusan datang tadi!" Ucap Tami yang meletakkan kartu nya dimeja represionis.
Tami langsung mengambil kertas itu, dengan cepat mengisi bio data untuk anaknya dan langsung memberikan nya setelah itu.
"Ini biaya rumah sakit atas nama Berlin Aisyah Yudha buk!" Ucap represionis itu menyodorkan sebuah kertas kecil kearah Tami.
Tami terdiam menatap jumlah biaya yang akan ia keluarkan, sungguh entah cukup atau tidak dengan uang yang berada di dalam kartu nya yang mungkin tersisa paling banyak adalah 5 juta.
"Uang biaya muka nya berapa bu?" Tanya Tami dengna wajah serius menahan air mata agar tak mengalir terus.
"Silakan bayar 5 juta paling sedikit buk!" Jawab represionis nya dengan memberikan bill biaya rumah sakit.
Tami menatap bill biaya rumah sakit itu, hati nya sedikit tersayat disaat seperti ini ia malah tak memiliki uang sedikit pun.
"Saya bayar uang muka nya dan untuk biayanya besok akan saya lunasi!" Ucap Tami yang memberikan kartunya dengan tangan gemetaran.
__ADS_1
"Baiklah buk!" Ucap represionis itu yang menerima kartu dari tangan Tami.
...****************...
Kini Kaisar sedang mengadakan ujian lulusan tamatan, saat ini ia akan melakukan ujian kedua. Namun saat ini ia begitu tak tenang, ia terus memikirkan sesuatu yang cukup meresahkan.
"Apa yang terjadi!" Gumamnya.
"Kai! Kamu enggak papa kan?" Tanya Cinta yang saat itu memperhatikan Kaisar yang dibelakangnya.
Kaisar tetap diam tak menghiraukan ucapan Cinta, ia terus memikirkan sesuatu yang membuat hati nya resah saat ini. Bahkan saat ini guru sudah mulai membagikan lembar jawaban.
"are you ok, Kaisar?" Tanya sang guru yang saat itu sedang membagikan lembar soal kemeja Kaisar.
"i'm fine, miss!" Jawab Kaisar dan hanya diangguki oleh guru nya itu.
Kini ujian dimulai, namun tetap saja Kaisar tidak bisa fokus hanya karena hatinya yang begitu gelisah, ia berharap ini tidak ada berhubungan nya dengan Berlin kekasih yang baru saja ia dapatkan.
...****************...
Kini Yudha sudah menyusul kerumah sakit setelah mendapat kabar dari sang istri, saat ini satu keluarga itu begitu berduka karena putri satu-satunya sedang terbaring lemah di kasur rumah sakit.
"Mas, dengan apa kita bayar ya biaya rumah sakitnya?" Tanya Tami yang terisak dengan bersandar didada bidang suaminya.
"Aku juga enggk tau, bagaimana kita melakukannya ini. Apa kita jual aja prabotan dirumah!" Lirih Yudha yang sudah putus asa.
"Terus kita bagaimana mas tinggalnya kalo semua perabotan di jual!" Ucap lirih Tami.
Tubuh nya bergetar sangat kuat, apalagi ia tak makan sejak pagi karena menunggu anaknya sadar. Bahkan bagaimana Berlin yang tertabrak oleh mobil truk terus terbayang di pikiran nya.
"Aku yang salah, seharusnya aku...hiks...kenapa kamu selamatin ibu sih nak!" Lirih batinnya yang teriris-iris.
"Kita pinjam aja dengan nyonya Desi aja Bu, nanti kalo ada uang kita kembalikan!" Saran Yudha.
"Apa nyonya Desi mau memberikannya!" Kembali lagi ia bertanya dengan lirih.
__ADS_1
"Bismillah, semoga dia mau memberikan nya!" Ucap Yudha meyakinkan.
Kedua nya hanya dapat saling berpelukan menyalurkan ketenangan, sungguh sangat begitu sakit mendapatkan musibah seperti ini tatapi tak memiliki uang.