
...đ READING BOOK đ...
"Apa ini baju nya Kaisar!" Geram Jessica.
"Di-dia minta dicucikan!" Bohongnya dengan tubuh yang gemetar.
"Oh benarkah!" Jessica mendekati Berlin dengan baju putih yang sudah diremas ditangannya.
Berlin semakin mundur kebelakang, ia sungguh tak menyangka niat baiknya akan menjadi hal yang sangat buruk disaat ini.
"Sebenarnya aku hanya ingin bermain-main, tapi karena kau begitu mencari masalah dengan mendekati Kaisar, bagaimana menurutmu aku harus bersikap?" Geram Jessica dengan menatap jijik kearah Berlin.
"Bagaimana, apa dia harus menunduk dan memberi hormat padamu yang tak anjing saja lebih berharga dari pada dirimu itu!" Sini seseorang yaitu adalah Celsi.
"Apa kau bilang, kau pikir dirimu itu siapa sampai menghina ku, kau lihat sahabat mu bahkan seperti seorang ja lang yang berani mengambil baju Kaisar secara langsung.
"Bukan aku!" Ucap Berlin yang ingin membela diri, tapi bibir dan lidahnya sangat kalut untuk menjawab yang sebenarnya.
"Lalu, yang ini... hahahaha!" Jessica tertawa lepas dengan menuangkan minuman botol ditangannya ke kepala Berlin.
Semua teman-teman Jessica tertawa melihat wajah Berlin yang kotor dengan air minuman yang diruang Jessica padanya.
"Udah sadar belum!" Ucap Fanya yang mendekati Jessica yang saat ini berada didekat Berlin.
"Wajah pas-pasan sok ngidolain orang yang bahkan belum tentu kamu gapai!" Sinis Jessica yang menarik rambut Berlin kebelakang.
Wajah Berlin sudah sangat merah karena menahan rasa kesal dan marah. Ia memegang erat sisi bajunya menahan rasa sakit dikepala yang bersumber dari jambakan rambut Jessica.
"Hey, what did you guys do to that girl?" Teriak seorang lelaki dari arah samping mereka yang cukup jauh.
"Owh, bule lagi mau belain tuh, lumayan ganteng kenapa nggak diembat aja!" Jessica semakin menarik kebelakang rambut Berlin, hingga beberapa rambut Berlin sedikit terjabut dan putus.
Plak
__ADS_1
"Jaga tangan mu itu, kau pikir sekolah ini tak punya aturan hah!" Ucap cinta yang tiba-tiba datang dengan langsung memukul tangan Jessica.
"Aww...aku nggak ada urusan sama mu ya, jadi jangan ganggu!" Kesal Jessica yang memegang tangannya yang sedikit perih.
"Oh benarkah, bagaimana kalo aku mau ikut campur!" Cinta semakin menantang Jessica.
Terlihat keduanya saling bertatapan tajam dan bahkan aura kebencian terlihat jelas.
Berlin hanya menatap keduanya, ia mengusap kepalanya yang sangat pedih dan juga perih akibat ulah Jessica.
"Kamu nggak papa ber!" Tiba-tiba Celsi langsung menghampiri Berlin dan langsung memeluk gadis itu.
Berlin langsung menangis dipelukan Celsi yang membuatnya akhirnya merasa aman.
"Hiks...hiks...maafkan aku...Hiks ..!" Tangis Berlin semakin pecah.
Celsi mengepal tangannya kuat, matanya sudah memerah dan rasa ingin membunuhnya sudah keluar.
"Bangunlah!" Celsi membawa Berlin untuk duduk didekat dudukan santai, lalu perlahan berjalan mendekati Jessica.
"Teman mu itu begitu tak tau diri, beraninya dia mengidolakan Kaisar yang bahkan tidak bisa ia gapai!" Ucap Jessica yang cukup takut dengan aura yang dipancarkan oleh Celsi.
"Lalu kau apa!" Sinis Celsi.
Plak...plak...krek
Celsi langsung menghajar Jessica dengan penuh amarah dan membabi-buta. Semua orang yang ada disan sempat syok dan bahkan langsung berusaha memisahkan keduanya.
"Bagaimana, enak tidak!" Ucap Celsi yang saat ini ditahan oleh beberapa orang.
"Kurang ajar, aku akan ngadu dan bahkan menuntut mu!" Lirih Jessica yang berusaha bangkit dengan meringis merasa sakit di wajah dan tangan nya.
"Katakan saja, akan ku pastikan kau menyesal karena berurusan dengan ku!" Ucap Celsi yang sudah sangat marah.
__ADS_1
Ia menghempas seluruh tangan yang menahannya, ia langsung menendang perut Jessica dengan kuat hingga gadis itu langsung menghantam dinding dan mengakibatkan kepalanya menghantam dinding dan mengeluarkan darah.
"Sudah ku katakan bukan, jangan pernah berurusan dengan ku dan Berlin, tetapi kalian telah melakukannya sejauh ini!" Ucap Celsi dengan wajah memerah mendekati para temannya Jessica.
Semua orang merasa takut termasuk Cinta yang sungguh tak pernah sama sekali melihat ekspresi dan kekuatan Celsi sampai segitunya.
"Celsi hentikan!!...Kumohon hentikan!" Teriak Berlin dengan wajah pucatnya.
Celsi tetap diam, ia terus berjalan mendekati tiga orang teman Jessica dengan tangan yang mengepal kuat.
"Hentikan Celsi!" Teriak sekali lagi Berlin, namun Celsi tetap terus berjalan.
"Apa kau tak mendengarku!" Teriak Berlin, namun Celsi sudah menghajar para teman Jessica.
"Aku membencimu!" Teriak sekali lagi Berlin dan hal itu membuat Celsi langsung berhenti dan menatap kearah Berlin.
"Kenapa!" Lirih Celsi dengan air mata terjatuh."Katakan Berlin kenapa!! Apa aku begitu menakutkan!" Teriak Celsi sekali lagi yang membuat Berlin tertegun.
Berlin tetap diam, ia menundukkan kepalanya takut dengan tatapan mata Celsi yang begitu menakutkan.
"Aku membelamu ber, apa aku tak cukup baik untukmu!" Lirih Celsi yang langsung jatuh ke lantai.
"Kau menakutkan Celsi, aku tak mau kau dalam bahaya hanya karena ku, ku mohon berhentilah!" Teriak Berlin.
Semua orang yang memang cukup syok dengan kemarahan Celsi karena Berlin di-bully, ditambah dengan drama dimana Berlin yang berusaha menghentikan Celsi.
Semua orang semakin banyak akibat keributan karena hal itu, beberapa orang membantu Jessica cs yang sudah terbarik dilantai.
"Aku pergi!" Ucap Celsi yang memecah seluruh kerumunan itu dengan wajah kecewa.
Berlin menatap kepergian sahabatnya itu, ia sangat sedih dan menyesal karena mengucapkan kata-kata yang bikin sakit hati sahabatnya itu.
"Aku bantu kau keruang UKS!" Tawar seorang gadis yang menjulurkan tangan.
__ADS_1
Berlin menerimanya dengan senyum masam diwajahnya, Berjalan meninggalkan tempat kejadian menuju UKS.