
Semalaman Kaisar terus memikirkan tentang Berlin yang tak kunjung menjawab pesan nya, bahkan tak ada online sama sekali dari kemaren.
Sekarang adalah terakhir dirinya ujian, ia tidak mungkin kan ujian disaat pikirannya masih pada gadis nya.
"Kemana dia, kenapa dari kemaren perasaan enggk enak ya!" Gumamnya.
Bahkan kini Kaisar tak fokus saat akan mengambil kunci motornya, pikirannya sungguh begitu khawatir pada Berlin. "Haissh...!" Ia hanya dapat menghela nafas berat.
Dengan segera kaisar pun keluar dari kamarnya dengan kunci motor yang sudah berada di tangan nya.
Kaisar berlari menuju garasi dan akan segera pergi meninggalkan perkarangan rumah mewahnya. Setelah kepergian motor Kaisar, kini kedua orang tua Berlin datang dengan wajah kacau nya.
"Pak ada enggak nyonya Desi?" Tanya Tami pada satpam rumah Kaisar.
"Eh bik Tami, kenapa atuh nyariin nyonya? Itu nyonya ada kok di dalem!" Jawab satpam itu ramah.
"Hmm...mau minjem uang, apa nyonya mau kasih enggak ya?" Jawabnya yang kini malah kembali bertanya.
"Coba aja deh bik, mungkin nyonya mau kasih!" Ujar satpam itu dan hanya dibalas anggukan oleh Tami.
Tami dan Yudha pun masuk kedalam kediaman keluarga Aldebaran itu, ia akan meminjam uang pada nyonya nya yang dulu ia bekerja selama 10 tahun.
Sudah cukup lama Tami dan Yudha berada diruang tamu, dan akhirnya Desi keluar menghampiri mereka dengan wajah datar nya yang seperti biasa.
"Ada apa bik?" Tanya Desi to the point.
"Hmm...bisa duduk dulu nyonya, saya ada sesuatu yang sangat perlu!" Ucap Tami ragu.
Desi menurutinya,ia duduk berhadapan dengan sepasang suami istri itu yang terdapat guratan kesedihan, sebenarnya Desi tau akan semua yang terjadi pada pembantu lamanya, tapi ia tetap akan bersikap tak tau sampai mereka berdua memberikan maksud tujuan mereka kesini.
"Hmm...bibi sudah lama berkerja disini, selama sepuluh tahun. Namun kali ini bibi begitu susah dan bingung harus kemana untuk mengaduh!" Ucap Tami basa basi.
"To the point bik, aku masih ada urusan!" Potong Desi.
"Bisakah kami meminjam uang 500 juta!" Ucapnya, itu bukan sebuah pertanyaan bukan tetapi sebuah pernyataan.
__ADS_1
"Untuk apa?" Tanya Desi.
"Berlin, anak ku mengalami kecelakaan dan harus operasi dua kali...Hiks...bibi sungguh putus asa mencari siapa lagi yang harus diminta tolong!" Kini tangis Tami yang dari tadi ditahan kini tidak bisa dibendung lagi, mengalir begitu derasnya.
"Ibu tenang!" Ucap Yudha menenangkan sambil mengelus punggung istrinya itu lembut.
"Lalu!"
"Bisakah bibi meminjamkannya?" Tanya nya dengan mata memohon.
"Dengan apa kalian akan membayarnya, bukankah itu sangat besar!" Ucap Desi yang saat ini mulai ingin menguji keyakinan mantan pembantu nya itu.
"Aku akan melakukan apa pun demi keselamatan Berlin...hiks...!" Putusnya dengan begitu frustasi.
"Hmm...baiklah, aku bukanlah orang yang begitu kejam untuk melihat mu menangis seperti itu bibi, aku bahkan akan memberimu 2M dengan satu syarat!" Ucap Desi dengan wajah tenang.
Tami dan Yudha langsung menatap kearah Desi dengan ekspresi bingung, kenapa harus ada syarat, namun hal itu tidak membuat mereka menghilangkan niat mereka.
"Kami akan menerima syarat anda nyonya!" Kini Yudha lah yang membuka suara karena Tami tidak bisa lagi mengeluarkan suaranya.
"Baiklah, pindahlah ke luar negeri tempat yang begitu tak ramai, biaya rumah sakit dan lain-lain nya akan saya tanggung, dan satu lagi jangan pernah kembali ke Indonesia apapun yang terjadi!" Ucap Desi yang masih tetap berwajah tenang.
"So...itu demi anak ku yang begitu menyukai anak kalian, aku tak ingin anak ku menjadi pembangkang karena menolak perjodohan!" Ucap Desi yang kini menjelaskan tujuannya.
"Apa bagaimana mungkin!" Terkejut Tami dan Yudha.
"Itulah kenyataan nya dan aku tak ingin hal itu terjadi, bagaimana apakah kalian setuju!" Tanya Desi yang kini kembali lagi dengan negosiasi mereka.
"Baiklah, kami setuju dan kami akan melakukan semua sesuai syarat yang anda berikan!" Ucap Yudha yakin, bagaimana mereka dalam keadaan mendesak karena keadaan.
"Kalian juga akan melakukan satu hal....!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kini Kaisar sedang melakukan ujian terakhirnya, ia berusaha untuk tetap fokus dengan lembar ujiannya. Ia harus tetap mendapatkan nilai yang menjamin meski saat ini pikirannya begitu kacau dengan kabar yang tak ia dapatkan dari Berlin.
__ADS_1
30 menit lamanya, akhirnya ujian pertama sudah selesai dan kini akan melakukan ujian selanjutnya. Ujiannya kali ini tak ada jam istirahat untuk bersantai dulu, karena saat ini adalah ujian terakhir yang hanya terdapat dua mata pelajaran.
Akhirnya selesai juga, Kaisar langsung segera keluar dari kelasnya tanpa mempedulikan sekitarnya. Ia memasang handset bluetooth dan memasukkan tangan kedalam saku nya.
"Kaisar! Kai! Kaisar!" Teriak Cinta yang saat itu langsung berlari menghampiri Kaisar yang dari tadi terus berjalan seakan tak mendengar teriakan nya.
Cinta langsung merangkul tangan Kaisar posesif dan menampilkan senyum manisnya kepada Kaisar yang tetap diam saat tangannya ia rangkul.
Namun sepermenit kemudian, Kaisar langsung berhenti berjalan, ia menatap wajah Cinta dengan sangat dingin dan datar.
"Minggir!" Sentaknya pelan.
"Enggak, kita harus bersama makan siang kali ini!" Tolak Cinta yang malah semakin erat memeluk lengan Kaisar.
"Aku tak memiliki kesabaran untuk mu Cinta!" Ucap Kaisar dengan setiap katanya penuh penekanan..
Cinta sedikit takut dengan ucapan Kaisar, namun bukan dirinya yang begitu saja takut setelah mendengar ancaman itu, ia malah semakin merangkul mesra bahkan menyenderkan kepalanya dibahu Kaisar.
"Cih!" Kaisar langsung menarik tangan nya dan pergi dengan wajah dingin dan datarnya.
Cinta hanya menatap kepergian Kaisar kesal, ia pastikan akan membuat cowok itu bertekuk lutut padanya dan akan menjadi satu-satunya miliknya.
Sedangkan ditempat lain, kaisar duduk ditaman sekolah, ia terus menatap ponselnya dan menunggu pesan masuk dari kekasihnya.
Ctingg....
Sebuah pesan masuk dan dengan segera melihatnya, terdapat senyum yang mekar saat melihat siapa yang mengirimkan nya. Berlin, gadis itu mengirimnya pesan setelah dari kemaren tak terbalas.
Namun kini wajahnya malah kembali murung dan kecewa dengan pesan yang dikirim oleh Berlin.
*Maaf, lebih baik hubungan kita disudahin, aku tak ingin cita-cita ku harus gugur karena percintaan ini.
sebenarnya aku hanya kasihan pada mu, sehingga menerima perasaan mu, meski aku sangat benci dan tak suka pada mu*.
Itulah pesan yang dikirim dari nomor Berlin, bagai ditusuk panah dan dikoyak-koyak oleh pisau mendapatkan pesan yang begitu menyakitkan.
__ADS_1
Ada rasa kecewa, sedih dan juga dendam pada Berlin, gadis itu berani mempermainkan nya yang merupakan rebutan semua gadis, tapi ia tetap harus mencari Berlin dan membuat gadis itu tau bagaimana ia menaklukan seorang gadis sebenarnya.
Terdapat seringai licik di bibirnya yang tipis, ia akan membalas ini semua dengan hati juga dan akan membuat gadis itu menyesal berani telah memperlakukan layaknya seorang mainan.