
...đ READING BOOK đ...
Kini Berlin sudah siap dengan seragam sekolah nya, ia duduk dimeja makan bersama ayah dan ibunya. Dimeja makan tidak ada percakapan hanya dentingan sendok yang teradu dengan piring.
"Apakah Berlin boleh izin pergi dulu?" Tanya Berlin dengan wajah yang menunduk.
"Kenapa buru-buru sayang, bukannya masih pagi?" Tanya lembut Tami sambil membereskan piring kotor.
"Berlin ada barang yang ketinggalan kemaren, yaudah jadi harus segera ambil!" Jawabnya dengan memakai tas nya dipundak.
"Baiklah, tunggu biar ayah yang nganter..." Yudha langsung menyudahi makannya, ia segera mengambil jas dan topi untuk ia berkerja bangunan.
"Nggak perlu yah, Berlin jalan kali saja!" Tolak Berlin dengan tersenyum manis.
"Yaudah, pakek kacamata nya ya yang jarak jauh, kalo nggak ntar susah lihat jauh!" Ucap Tami mengingatkan.
Berlin pun langsung panas dingin, ia mengingat bahwa kacamata nya terjatuh tak sengaja di perpustakaan dan ia akan kesana hari ini untuk mengambil kacamata itu kembali.
"Iya bu!" Berlin hanya mengiyakan ucapan dari ibunya, dari pada nanti ada aja pertanyaan dari sang ibu.
"Yaudah, hati-hati nak!" Ucap Tami dengan menerima juluran tangan anaknya yang ingin menyalaminya.
Setelah itu, Berlin pun beralih pada ayahnya, ia menjulurkan tangan untuk menyalami tangan sang ayah.
"Baiklah, Berlin pergi dulu buk yah!" Izinnya.
Berlin pun perlahan keluar dari rumah dengan membawa tasnya. Ia berjalan dengan biasa menuju halte kendaraan umum karena jika ia berjalan maka waktunya membutuhkan 2 jam lebih dan itu akan membuat dirinya terlambat.
Berlin menunggu di halte dengan kaki yang di ayunkan kanan kiri ke atas secara bergantian sambil mendengarkan lagu di handset nya.
Tak berselang lama, angkot datang yang berhenti di halte dan dengan segera ia masuk ke dalam angkot itu agar tak tertinggal.
Didalam angkot, sudah biasa mencium bau yang aneh dan bahkan hal yang aneh. Kini Berlin yang dari tadi asik dengan ponselnya tidak tau bahwa ayam jantan dari tadi melihat nya sehingga membuat ia terkejut.
"Eh astaghfirullah!" Terkejutnya saat kepala ayam itu berada tepat didepannya.
"Maaf neng..." Ucap pemilik ayam itu, dengan segera ia mengalihkan wajah ayam jantannya menghadap samping kanannya.
Namun kini malah ekor ayam itu yang mengenai Berlin, sehingga membuat Berlin langsung menghindar kebelakang yang untungnya orangnya baru saja keluar dari angkot.
Pemilik ayam itu hanya diam, ia tetap bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Tak berselang lama angkot pun berhenti di halte dekat sekolahnya SMA dua samudra.
"Makasih kang" Ucap Berlin dengan memberikan uang 5.000 kepada kang angkot.
"Iya neng!"
Berlin pun langsung berjalan dengan cepat agar tidak terlambat sampai sekolah, sebelum itu ia mengambil parfum di tasnya untuk menghilangkan bau ayam yang mungkin melekat di baju sekolahnya itu.
Setelah melakukan semuanya, kini ia pun kembali berjalan untuk segera sampai sekolah sebelum gerbang ditutup.
Kini Berlin sudah berada di kelasnya, tinggal menunggu guru pengajar datang untuk memulai pelajaran.
"Kok kamu bau ayam yak ber?" Tanya Celsi yang mencium bau ayam meski bau parfum Berlin masih tercium.
"Ah iya kah, itu...karena tadi di angkot ada ayam!" Lirih nya.
"Yaampun, sini ah ikut aku!"
__ADS_1
Celsi langsung menarik Berlin dengan berlari, ntah apa yang akan dilakukan Celsi namun Berlin tetap mengikutinya tanpa bantahan.
*Buggh*
Celsi tak sengaja menabrak seseorang sehingga membuat dirinya langsung terduduk dilantai dan diikuti oleh Berlin karena ditarik oleh Celsi.
"Ah sial!" Umpat Celsi kesal.
Celsi langsung bangkit dari lantai dan menolong Berlin, namun sebelum itu ia menatap dengan tajam orang yang ada dihadapannya dengan tajam.
"Minggir deh, jangan ngalangin jalan orang!" Ketus Celsi.
Pria itu tetap diam, ia menatap tajam kearah Celsi dan Berlin namun pad akhirnya ia pun pergi begitu saja meninggalkan mereka berdua tanpa sedikit pun ucapan yang keluar dari mulutnya.
"Kulkas berjalan!" Ucap Celsi dengan nada gerutu nya.
Celsi kembali menarik tangan Berlin, mereka berdua kembali berlari menuju arah kamar mandi.
"Biar cepet!"
Dengan pasrah Berlin ikut saja kemauan Celsi. Sesampainya mereka di depan kamar mandi, Celsi langsung mengeluarkan parfum dan beberapa alat makeup nya.
"Ah itu... Sebaiknya aku ke kamar mandi dulu!" Ucap Berlin yang ingin menghindari diri.
Berlin cukup tak suka dengan alat makeup yang membuat ia jadi pusat perhatian orang lain, terlebih Celsi yang memakainya pasti akan membuat seluruh wajahnya merona.
"Gak ada, aku janji gak pakek berlebihan deh!" Mohon Celsi dengan wajah yang disengaja diimut kan.
"Tapi kan..." Berlin akan kembali menolak, namun Celsi lebih dulu langsung memotong ucapan nya.
"Ayolah, sebentar lagi guru datang loh, ayolah!!!" Mohon Celsi dan dengan terpaksa Berlin mengangguk menyetujui nya.
__ADS_1
Dengan segera Celsi langsung memakaikan alat makeup ala anak sekolah di wajah Berlin yang putih dan mulus meski tak ada perawatan.
Setelah selesai dengan wajah, Celsi pun langsung menyemprotkan parfum dan membuat Berlin harus berputar sesuai arahan tangan Celsi.
"Ah udah...Uhk...uhk...sesek tau!" Kesal Berlin yang sudah batuk-batuk karena parfum Celsi yang begitu berlebihan mengarah padanya.
"Hehehe...Yaudah yok!" Ajaknya lagi.
Celsi langsung merapikan kembali alat makeup nya dan kembali lagi dengan kejadian tarik-tarikan dengan berlari.
Sesampainya di kelas, Celsi dan Berlin bingung, mengapa guru tidak ada yang masuk kelas padahal mereka berdua cukup lama berada di depan kamar mandi.
Celsi langsung masuk, ia pun menanyakan pada salah satu teman kelasnya.
"Guru gak masuk?" Tanya Celsi.
"Ada rapat guru, jadi para guru gak masuk!" Jelas teman kelasnya.
"Oke makasih!"
Celsi kembali menghampiri Berlin yang masih diam berdiri disudut pintu yang seakan Berlin itu adalah robot rusak yang harus ditarik agar bergerak.
"Sini ngapain kamu disana kayak setan!" Teriak Celsi yang sudah duduk di kursinya.
Namun Berlin tak melihat keberadaan Celsi, karena jarak pintu dan tempat duduknya cukup jauh dari penglihatannya yang hanya bisa melihat jarak 50 Cm saja.
Celsi menghela nafas panjang, ia kesal dengan sahabatnya yang tak melihat dan mendengar dirinya sehingga membuat ia harus menghampiri Berlin kembali.
"Aku dari tadi teriak loh, masak gak didengerin!" Kesal Celsi yang sudah berada dihadapan Berlin.
"Itu...Aku gak lihat, maaf!" Gelagapan Berlin.
"Yaudah yok!" Ajak Celsi dan berlin hanya menurut saja menuju kursinya.
__ADS_1
Mereka berdua berjalan menuju kursinya dengan Celsi yang seakan sebagai petunjuk arah meski Berlin dapat melihat jalan.