Benci Menjadi Cinta

Benci Menjadi Cinta
Bab 43


__ADS_3

...🍃 READING BOOK 🍃...


Celsi berjalan perlahan memasuki kamar mandi yang cukup gelap karena lampu nya dimatikan, kamar mandi disekolah ini memang tidak memiliki lobang cahaya atau apalah, jadi meskipun siang lampu kamar mandi akan terus hidup.


"Toooolong...!" Lirih lemah yang dapat didengar oleh Celsi, gadis itu sedikit merinding karena pasalnya hanya dirinya sendiri dan ia baru kemaren menonton film horor.


"Berlin itu kamu kan!" Ucap Celsi memastikan, ia tetap menatap waspada terhadap sekelilingnya.


"Tolong aku cel!" Ucap Berlin yang saat ini berada di dalam toilet yang berada tepat diujung sudut kamar mandi.


Celsi pun langsung berlari, ia segera menarik besi pengunci dan membuka pintu.


"Babi setan goblok!" Ucap Celsi saat melihat seseorang yang begitu menyeramkan.


"Ini aku Celsi!" Ucap lemas Berlin.


Cukup terkejut dengan apa yang ia lihat, terlihat Berlin yang begitu kotor dan sangat tidak baik-baik saja. rambut yang hampir sepenuhnya menutupi wajah yang hanya memperlihatkan satu matanya saja. Baju yang kotor yang sepertinya sudah hampir kering dan berjongkok diatas kloset duduk.


Celsi langsung menghidupkan saklar yang memang berada didinding yang bisa terjangkau oleh tangannya.


"Astaga...Berlin kok bisa kek gini sih!" Syok Celsi yang melihat keadaan Berlin.


Berlin tetap diam, ia sungguh sudah sangat lemas. kepalanya terasa cukup pusing namun ia berusaha tetap bertahan sampai menunggu seseorang menolongnya.


"Keluarlah cepat!" Perintah Celsi, namun Berlin malah menggeleng.


"Haish...kenapa coba!" Kesal Celsi yang langsung melangkahkan kakinya selangkah.


Namun ia terkejut melihat sebuah hewan melata yang besar dilantai, Celsi kembali mundur kebelakang ia menatap kearah hewan itu.


"Itu apa ya!" Tunjuknya yang merasa geli.


"Tolong aku cel!" Lirih Berlin yang hampir tak terdengar.


"Bentar aku cari bantuan!" Ucap Celsi yang langsung berlari keluar dari kamar mandi itu.


Celsi berlari mencari seseorang yang bisa membantunya saat ini, namun tak ada satu pun orang yang bisa membantunya. Celsi berlari kembali melirik kanan dan kirinya.


"Kai! Kaisar!" Teriak Celsi dengan nafas ngos-ngosan.

__ADS_1


Kaisar berbalik, ia menatap bingung kearah Celsi. Alisnya ia angkat sebelah seakan mengatakan 'apa'.


"Bantu aku dong!" Ucap Celsi yang langsung menarik Kaisar begitu saja.


Celsi tak peduli semua tatapan semua orang yang menatap kearahnya, dimana ia menarik kaisar di tengah koridor kelas 12 dan melewati 5 kelas yang terus menatapnya.


"Hey...bentar!" Tegur Kaisar yang sedikit tak suka dengan perlakuan Celsi padanya.


Namun Celsi tak menggubris, ia terus menarik dan berlari hingga sampai didepan kamar mandi perempuan dan akhirnya berhenti.


"Bentar!" Ucap Kaisar yang langsung menarik tangannya.


"Bantu Berlin kai!" Ucap Celsi dengan wajah memelas nya.


"Hah...!" Kaisar masih terkejut dengan pernyataan Celsi, bantu berlin? maksudnya apa?.


Kaisar langsung berlari masuk meninggalkan Celsi, bau busuk tercium saat berada didalam kamar mandi itu. Namun rasa cemasnya membuat ia tak peduli dengan bau itu dan langsung berlari menuju pintu toilet yang terbuka.


Pertama yang ia lihat adalah Berlin yang sedang berjongkok lemas diatas kloset duduk dengan kepala yang disandarkan didinding.


"Berlin!" Panggil Kaisar, namun Berlin tak menjawab.


Kaisar langsung masuk tak peduli dengan keadaan sekitar, bahkan lintah yang dilantai saja diinjak begitu saja tanpa perasaan.


"Ah itu, tolong beliin dong baju ganti untuk Berlin, biar Berlin aku bantu untuk bersihkan tubuhnya!" Ucap Celsi yang sedikit ragu.


Ia cukup merasa tak enak hati untuk menyusahkan Kaisar lagi, tapi mau bagaimana lagi ia pun harus melakukan demi sahabat nya itu.


"Ambil hp disaku ku, cari kontak ferdi!" Ucap Kaisar memberikan instruksi.


Celsi pun dengan ragu mengambil HP di saku Kaisar, ia merogoh saku itu dan mengambil benda pipih itu dan mulai mencari kontak yang diminta, dan Celsi saat itu cukup heran karena hp kaisar tak ada menggunakan sandi.


Baru saja panggilan itu masuk dan langsung sudah tersambung, orang di sana langsung menanyakan apa yang diperlukan Kaisar saat itu.


"Sinikan!" Instruksi Kaisar pada Celsi untuk mendekat kan ponselnya kearahnya.


"Bawa baju seragam putih abu-abu beserta pakaian dalamnya!" Ucap Kaisar yang datar.


Celsi sedikit membelalakkan matanya mendengar ucapan Kaisar saat itu, lelaki dihadapannya itu dengan mudah mengucapkan hal itu tanpa ekspresi.

__ADS_1


"Untuk ukuran berapa tuan muda?" Tanya Ferdi disebrang sana.


"Hmmm...." dehem Kaisar sambil melirik Celsi.


"Kecil!" Ucap Celsi yang sedikit berbisik.


"Kecil!" Ucap Kaisar yang mengulang.


"Baik tuan muda!" Panggilan itu pun terputus dan terjadilah keheningan.


"Letakkan lah disini dulu, karena Berlin butuh aku bersihkan agar untuk di letakkan ke UKS biar lebih nyaman!" Ucap Celsi yang sedikit canggung.


Kaisar pun meletakkan Berlin di bilik toilet yang ditunjuk Celsi padanya. Ia pun berjalan keluar menunggu dipintu depan kamar mandi agar Celsi lebih leluasa membersihkan Berlin.


Cukup lama Celsi didalam dan akhirnya selesai membersihkan Berlin, untung saja didalam kamar mandi terdapat sabun meski sabun itu adalah sabun cuci tangan.


Baju yang diminta Kaisar pun datang beserta ********** menggunakan plastik hitam. Kaisar awalnya tak peduli dengan isinya, tapi ia cukup kepo dan sedikit memasukkan tangan mengangkat salah satu yang terjangkau.


Matanya sedikit terbelalak saat melihat ternyata ia mengambil dalaman yang membuat ia langsung memasukkan kedalam plastik dengan wajah yang sudah sangat memerah.


"Kai! Udah dateng belum tu baju!" Teriak Celsi dari dalam.


Kaisar sedikit membuka pintu kamar mandi, ia memasukkan nya kedalam dan kembali menutupnya untuk memperhatikan sekitarnya.


Kini tinggal Celsi saja yang berjalan menuju pintu kamar mandi untuk mengambil plastik hitam itu dan berjalan kembali ketoilet untuk memakaikan Berlin baju.


Cukup lama Kaisar menunggu diluar dan teriakan Celsi pun membuat ia akhirnya masuk.


"Kai udah, tolong angkat Berlin!" Teriak Celsi saat itu.


Kaisar membuka pintu kamar mandi, berjalan kearah Berlin yang sudah bersih. Namun satu yang harus mereka bereskan adalah kekacauan saat ini.


"Kai gimana sama ini!" Ucap Celsi yang melirik kearah kacaunya lantai.


"Biarkan saja!" Ucap Kaisar.


Kaisar berjalan lebih dulu dengan Berlin yang saat itu berada didalam gendongan nya, gadis itu sama sekali tak sadar dari tadi meski beberapa kali wajahnya sudah mengenai air.


"Berlin kok nggak sadar ya kai?" Tanya bingung Celsi.

__ADS_1


"Mungkin dia sedikit trauma!" Jawab kaisar yang mempercepat langkahnya.


Mereka berjalan menuju UKS sampai akhirnya Berlin dibaringkan dikasur UKS dan ditangani oleh penjaga saat itu juga.


__ADS_2