Benci Menjadi Cinta

Benci Menjadi Cinta
Bab 17


__ADS_3

...🍃 READING BOOK 🍃...


Di halte, Berlin menunggu dengan wajah cemas takut nggak dapet angkot untuk ia pulang. terus menatap kendaraan yang melewati haltenya.


Berlin melihat jam di ponselnya, terlihat sudah jam 5 sore. Namun satu pun angkot untuk berhenti pun nggak ada.


"Haiss... kemana sih nih angkot!" Berlin menatap kekanan kirinya, tidak ada angkot satu pun yang lewat.


"Jalan aja mungkin ya, biar cepet pulang!" Berlin dengan malas bangkit dari duduknya, ia pun mulai berjalan meninggalkan halte itu.


Kakinya melangkah lemas, karena sejak tadi belum makan sedikit pun. Ia menatap kanan kiri agar tau apakah angkot lewat atau tidak.


Terlihat segerombol orang yang duduk di emperan jalan, awalnya Berlin cukup takut namun karena tekat ia pun berjalan dengan buru-buru dan wajah yang ia tutup dengan tangan.


"Eh ada cewek tu, dek sini dek!" Panggil salah satu pemuda yang memang duduk di emperan jalan.


"Astaghfirullah...ya Allah selamatkan hamba mu ini" Batin Berlin dengan melangkah cepat.


Kalian tau perasaan Berlin saat ini, begitu banyak pemuda yang berada disana dan terus berteriak padanya.


"Dek singgah dulu, masa jalan cepet banget!" Teriak salah satu pemuda yang ikut duduk di emperan.


Berlin terus berjalan, namun tiba-tiba bahunya langsung di rangkul oleh seseorang dan membuatnya sedikit terkejut.


"Ah..." Terkejut nya dan langsung melihat kesamping ternyata Abang sepupunya merangkul dirinya.


Ia bernafas lega saat sepupunya berada di sampingnya yang merangkul dirinya, ia tersenyum karena beberapa pemuda itu tidak mampu berteriak lagi karena ada sepupunya.


"Kebiasaan, telpon kakak kan bisa!" Gemas Rico dengan menarik hidung Berlin.


"Kakak, ntar hidung aku merah loh!" Kesal Berlin dengan sedikit memukul dada Rico.


"Biarin, biar kayak badut!" Rico terus merangkul Berlin seakan Berlin akan hilang darinya.


Dirinya yang memang dekat dengan adek sepupunya itu, membuatnya cukup posesif terlebih adek sepupunya begitu polos dan culun membuatnya was-was apalagi ia begitu menyayangi adeknya seperti adek kandungnya.


"Kakak!..." Berlin merasa kesal dengan Rico karena malah terus menarik hidungnya dan bahkan mengacak-acak rambutnya.

__ADS_1


"Kita jalan kesana, motor kakak berada disana cukup jauh!" Rico menunjuk arah motornya berada.


Motornya berada diseberang jalan dengan jarak yang cukup jauh, sebenarnya Rico tidak sengaja melihat Berlin yang ketakutan dari seberang jalan.


Ia yang disuruh sang bunda untuk membeli bubur kesukaannya di perempatan jalan, sehingga ia bertemu dengan Berlin.


Berlin hanya mengangguk dan menurut, mereka pun berjalan dengan Rico yang tetap stay merangkul Berlin.


Sesampainya mereka letak motor, Rico langsung membantu Berlin untuk naik motornya karena motornya itu cukup susah untuk dinaiki berlin yang ukuran badannya kecil.


"Lain kali, kalo kamu nggak dapet angkot telpon aja kakak, oke!" Rico membentuk tangan oke agar Berlin menyetujuinya.


Berlin hanya diam, ia fokus untuk naik keatas motor Rico.


"Kamu dengarkan Berlin, jangan sampai kakak menyuruh orang untuk mengawasi mu!" Rico mengancam Berlin, karena gadis itu tidak kunjung menjawab ucapannya.


"Iya kakak sepupuku yang posesif!" Ucap Berlin dengan nada sindiran.


"Huh...serah, sekarang kamu pegangan kakak mau ngebut biar cepat sampai!"


Berlin langsung melingkarkan tangannya di perut Rico dan menyandarkan kepalanya dipunggung Rico. Ia memejamkan matanya, saat ini ia sungguh cukup lelah. Begitu banyak kejadian yang membuat dia cepat lelah.


"Heh...itu yang dibilang polos ama cupu, begitu di rangkul saja langsung senyum!" Gumam Kaisar yang merasa kesal.


"Eh bro, ngapain sih lihat sana terus?" Tanya Farrel yang memang akan berencana ingin menginap di rumah Kaisar.


"Nggak!" Kaisar langsung kembali melajukan motornya dan diikuti Farrel.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Motor Rico pun berhenti didepan rumah Berlin, saat ini sepertinya ayahnya sudah pulang sehingga terlihat rumah yang seperti memiliki kehidupan didalam rumah itu.


"Ini untuk kamu satu dek!" Rico memberikan satu kotak bubur pada Berlin.


"Eh itu...nggak usah kak, Berlin nggak suka bubur...maaf!" Berlin langsung menunduk, ia takut kakaknya kesal karena ia menolak pemberiannya.


"Oh yaudah, kamu hati-hati dirumah ya!" Ucap Rico menepuk bahu Berlin dan langsung menghidupkan motornya.

__ADS_1


"Makasih kak!"


Rico hanya tersenyum menerima ucapan terima kasih Berlin, motornya pun kembali melaju meninggalkan per-karangan rumah Berlin.


Setelah kepergian Rico Berlin langsung masuk kedalam rumah, ia perlahan membuka pintu dan terlihat sang ayah yang sudah bersih yang sepertinya menunggu dirinya.


Sang ayah berada di ruang tengah, dimana ayahnya sedang menyesap kopi dengan film sinetron kesukaannya, dunia terbalik.


"Telat pulang lagi nak, tadi apa Rico yang ngantar kamu?" Tanya Yudha sambil menyesap kopi yang ia buat.


"Maafkan Berlin yah! Tadi angkot tidak ada yang lewat" Berlin langsung menunduk, ia tidak ingin melihat sang ayah marah padanya karena pulang terlambat.


"Ayah sewa ojek untuk antar jemput kamu sekolah, agar tidak terus begini!" Ucap Yudha memberikan saran.


"Ah itu, seperti nya begitu repot dan sebaiknya ayah tak harus melakukan hal itu!" Ucap Berlin menolak sang ayah dengan halus.


"kenapa, bukankah hal itu lebih baik nak, ayah takut terjadi apa-apa kalo kamu nggak dapet angkot!" Terlihat Yudha yang sangat khawatir dengan sang anak.


"Ayah tenang, Berlin usahakan agar pulang dengan cepat!" Ucap Berlin dengan tangan yang menghormat pada Yudha.


Yudha hanya terkekeh melihat tingkah sang anak yang begitu lucu, apa seumur segini masih begitu lucu.


"Kamu ini ya...hmmm, yaudah tukar baju dan makan cepat oke!" Ucap Yudha yang memberikan senyum manisnya pada Berlin.


Berlin ikut tersenyum membalas senyuman sang ayah. "Tapi aku tunggu ibu saja ya!" Ucap Berlin dengan mata yang memohon.


"nggak boleh,makan dulu sana sayang, ayah tau kamu pasti merasa capek dan membutuhkan konsumsi untuk tenaga!" Tolak Yudha yang tak ingin anaknya sakit karena menunggu Tami pulang yang mungkin saja sekarang pulang jam 8 malam.


"Tapi kan..."


"Masih membantah, ayah pasti marah!" Yudha langsung membuat Berlin langsung menunduk dan mengangguk takut.


"Yaudah deh, Berlin kekamar dulu ya yah!" Pamit Berlin yang terus menunduk.


Yudha hanya mengangguk dan kembali menonton tv yang memiliki siaran sinetron. Ia harus ketinggalan sinetron hanya karena Berlin, ia cukup kesal tapi ia tak apa.


...-------------...

__ADS_1


Memang ayah yang baik bukan, kalo seandainya ayah yang seperti itu ada diseluruh dunia, maka aku sangat bersyukur☺️. Tapi itu seperti nya hanya sebagian dan itu hanya sedikit dari 1 antara 1000 orang.


__ADS_2