Benci Menjadi Cinta

Benci Menjadi Cinta
Bab 18


__ADS_3

...🍃 READING BOOK 🍃...


Kini Berlin berada dimeja makan dengan sang ayah yang malah sibuk dengan gorengan yang ia buat.


"Assalamualaikum!" Tiba-tiba Tami pulang dengan cepat, Berlin dan Yudha langsung menatap asal suara, mereka berdua tersenyum menyambut kedatangan Tami yang saat ini pulang dengan cepat.


"Wa'alaikumsalam!" Berlin dan Yudha secara bersamaan menjawab salam dari Tami.


"Tumben cepat pulang?" Tanya Yudha yang menarik bangku untuk sang istri.


"Nyonya Desi dan keluarganya akan melakukan makan malam bersama sahabatnya yang sebentar lagi jadi besan, jadi beberapa pelayan dikasih waktu pulang cepat atau istirahat dengan cepat!" Ucap Tami yang mendudukan pinggulnya di bangku yang ditarik suaminya. "Makasih sayang!"


"Ohh...Berarti mereka sebentar lagi akan mengadakan acara pernikahan dong!" Ujar Yudha yang antusias.


"Sepertinya begitu, tapi aku kasihan dengan tuan muda karena diusia muda nya harus dijodohkan!" Sedu Tami yang memang dekat dengan tuan muda tempat ia kerja.


"Hustt...biarkan keluarga mereka yang ngatur dan kita nggak boleh pada kritik akan urusan mereka!" Tegur Yudha yang tak ingin istrinya yang akan berurusan dengan orang kaya.


"Cepat makan Bu, pasti ibu capekkan!" Ucap Berlin yang mengalihkan pembicaraan agar tidak terjadi yang namanya perdebatan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ditempat lain, Kaisar sengaja mengurung dirinya di kamar dan tidak makan karena saat ini kedua orang tuanya malah ingin menjodohkan nya pada gadis yang tak ia suka.


"Kaisar, buka pintu nya!" Teriak sang mama yang bernama Desi.


Desi yang dari tadi berteriak tidak mendengar sedikit pun sautan dari dalam kamar sang putra, apa anaknya itu menghidupkan mode pendam suara pada kamarnya agar suaranya tak terdengar sampai suara.


"Mama tau kamu disana Kaisar, buka atau mama akan mengambil kartu kunci kamar mu agar kamu keluar!" Ancam Desi yang sudah kehabisan kesabaran.


"Ambil saja ma, Abang memang harus dipaksa!" Ucap Angel yang mendukung ancaman sang mama.

__ADS_1


Desi pun mengangguk, ia berjalan kearah sudut ruangan lantai dua nya itu menuju lemari kecil penyimpan beberapa kartu kunci kamar.


Saat Desi akan menggunakan kartu kunci itu, kaisar sudah lebih dulu membuka pintu kamarnya dengan wajah yang kusut.


"Pliss mam, aku tidak mau melakukan hal itu!" Lirih Kaisar dengan wajah kusutnya.


"Tidak ada bantahan Kaisar, ini sudah kesepakatan papa dan mama..." Ucap Desi yang menolak mentah-mentah permintaan sang anak.


"Tapi bukan aku!" Ucap Kaisar yang memotong ucapan Desi langsung.


Memang benar, perjodohan itu adalah keinginan ayah dan mamanya agar hubungan mereka semakin erat, Desi dan sang suami hanya ingin melakukan pertunangan dan untuk pernikahan akan mereka lakukan setelah keduanya telah menyelesaikan sekolah mereka.


"Kamu pasti akan menyukainya jika kalian sudah dijodohkan!" Ucap Desi meyakinkan sang anak.


"Aku tidak mau ma, aku sudah mengenalnya dari kecil dan mana mungkin aku menyukainya!" Ucap Kaisar yang sangat menolak permintaan sang mama.


"Bawa tuan muda untuk segera mempersiapkan diri nya!" Titah Desi pada para pelayan dan bodyguard agar membawa Kaisar bersiap-siap dan pergi meninggalkan kaisar yang terus berteriak memohon padanya.


Angel mengikuti sang mama, ia tahu sang mama yang begitu keras kepala, jika bersama sang papa pasti papanya akan mengikuti sesuai keinginan sang anak karena papanya begitu penyayang.


Angel hanya mengangguk ia sudah terbiasa dengan sikap sang mama yang begitu dingin dan datar padanya tapi tidak untuk kaisar yang kakak, dan kini ia merasa cukup senang karena mama nya tidak mengikuti keinginan kakaknya.


Desi berjalan menuju ruang tamu, ia menemui suaminya Aldebaran, pria tampan gagah meski dengan umur yang sudah tua.


"Apa kau begitu memaksanya, bukankah kita bisa melakukan nya sesuai keinginannya!" Ucap Aldebaran menatap lekat kearah istri nya yang langsung duduk dengan santai meminum teh.


"Biarkan saja, biar dia tau bagaimana harusnya bersikap!" Ucap acuh Desi.


Aldebaran hanya dapat menatap bingung menghadapi sikap istrinya. Selain keras kepala, istri nya itu juga tidak akan mengubah keputusan nya apapun yang terjadi.


"Kemarilah suamiku, saat ini aku membutuhkan bahumu!" Ucap Desi tanpa mengalihkan pandangannya pada teh yang ia pegang.

__ADS_1


Aldebaran sudah biasa dengan sikap Istrinya itu, sebelum ia minta berarti dirinya tak menginginkan hal itu dan jika istrinya itu minta maka ia harus mengikutinya karena istrinya itu jarang sekali meminta sesuatu.


Aldebaran berjalan mendekati Desi, ia tersenyum tipis pada istrinya. Terlihat wajah Desi yang masih terlihat muda tanpa keriput yang terlihat jelas.


"Jangan memaksakan dirimu sayang!" Aldebaran mengelus kepala Desi yang saat ini berada di dada bidangnya.


"Jika aku tidak berkerja keras mengatur keluarga, maka kau akan pusing mengaturnya juga!" Ucap Desi yang memejamkan matanya, saat ini ia begitu nyaman berada di dekapan sang suami.


Suaminya itu sangat jarang pulang dan ia pulang saat ini karena pertemuan makan malam hari ini sebagai suatu hal menghargai persahabatan.


"Apa aku harus mengatur orang untuk membantumu melakukan semua hal!" Ucap Aldebaran yang tak tega melihat wajah letih Desi.


"Tak perlu, kau tahu selain aku mengatur keuangan dan anak-anak, tidak ada yang dapat aku lakukan karena kamu tak mengizinkan!" Ucap Desi yang menolak saran dari suaminya itu.


"Kau cukup mengatur anak saja, bagaimana menurutmu sayang!" Aldebaran terus mengasih saran agar istrinya itu tidak terlalu sering berpikir akan keuangan.


"Aku masih bisa mengatur semuanya, sudahlah sayang kamu jangan terus memaksaku untuk hal itu!" Tolak Desi yang tambah menenggelamkan wajahnya di dada bidang Aldebaran.


Tak berselang lama, Kaisar datang dengan pakaian formalnya bersama dengan beberapa bodyguard dan pelayan yang ia suruh untuk menyiapkan Kaisar.


Dan semuanya sesuai keinginan Desi, memang pelayan yang ia perintahkan selalu sesuai keinginannya.



"Sangat luar biasa, aku suka dengan cara kerja kalian!" Desi langsung menghampiri sang anak, terlihat Kaisar yang terus menekuk wajahnya.


Cup


Desi mengecup pipi Kaisar dengan sedikit menjijikan kakinya, selain tinggi sang anak yang melebihi dirinya, ia yang tak memakai hills membuat tingginya hanya sampai ketiak sang anak.


"Jangan terus menekuk kan wajahmu, aku ingin melihat wajah tampan mu tersenyum!" Celsi mengelus wajah mulus anaknya itu, sungguh ia sangat sayang dengan anaknya ini.

__ADS_1


"Apa aku harus tersenyum dengan apa yang kau lakukan padaku mam!" Ucap Kaisar yang datar, ia masih tak rela harus dijodohkan dengan seorang gadis yang sudah ia kenal dari kecil.


"Bicaralah dengan baik pada ibumu Kaisar!" Tegur Aldebaran yang tak menyukai gaya bahasa Kaisar.


__ADS_2