Benci Menjadi Cinta

Benci Menjadi Cinta
Bab 50


__ADS_3

...🍃 READING BOOK 🍃...


Lelaki itu cukup kesal dengan ulah dua sahabatnya itu yang begitu receh, apa-apa dibahas bahkan dari masalah si Kaisar yang tersenyum saja sampai ke agama dan sekarang merembes ke dirinya.


"Galak bener neng!" Ledek Hendra. "Tapi serius rel, kalo masuk agama Islam itu repot nggak?" Tanya Hendra yang masih kepo dengan pembahasannya tadi.


"Enggak kok, cukup mengucapkan kalimat syahadat maka kamu sudah masuk islam!" Ucap Farrel dengan santai sambil menyeruput jusnya yang masih tersisa.


Hendra semakin mendekatkan wajahnya, merasa hal yang disampaikan oleh Farrel memang harus ia dengar.


"Btw agama mu apa ndra?" Tanya Farrel yang memang sedikit penasaran.


"Buddha, soalnya bapakku itu agama Kristen dan mama agama Hindu, jadi pusing pilihnya yaudah aku ngikut nenekku beragama buddha!" Jelas Hendra.


"Serah deh, pusing sediri aku mikirin agama mu yang ribet gitu!" Ucap Farrel yang begitu tak paham.


Padahal ia yang beragama Islam tak terlalu pusing, mereka akan menikah dengan sesuai agama yang sama sehingga mereka bisa melahirkan anak dengan agama yang tetap yaitu Islam.


"Ya mangkanya aku tu juga kepo ama agama Islam, mana tauan jodoh ku itu beragama islam!" Ucap Hendra dengan sedikit cekikikan.


Namun ucapan Hendra membuat Kaisar langsung berpikir keras tentang agamanya, dirinya beragama Kristen dan Berlin yang beragama Islam, haruskah dirinya berpindah agama demi cinta.


"Ah apa yang ku pikirkan!" Batin Kaisar yang langsung menepis pikirannya, ia tidak menyukai gadis itu tapi hanya memikirkannya akibat pelajaran, itulah yang dipikiran kaisar saat ini.


"Aku katolik!" Ucap Rayhan yang ikut menimbrung.


"Ada nggak silsilah kayak si Hendra pakek ngikut-ngikut gitu?" Tanya Farrel namun dengan nada jengkel.


"Enggak!" Jawab singkat Rayhan.


Farrel hanya dapat berdecak kesal mendengar jawaban Rayhan, padahal baru tadi cowok itu bersikap mencair kini malah bersikap dingin kembali, hais...memang susah memiliki teman yang dingin kayak kulkas itu.


"Kaisar agama nya kan Kristen, aku sudah tau soal itu mah!" Ucap Hendra saat melihat Farrel yang menatap Kaisar.


"Btw terus kalo kamu masuk gereja nggak apa kah?" Tanya farel sedikit bingung.


"bisalah otomatis kan ayah aku orang Kristen juga, jadi bebas deh masuk gereja!" Ucap Hendra yang merasa bangga.

__ADS_1


"bangga kau Bambang!" Kesal Farrel dengan menoyor kepala Hendra.


"Kelas!" Ucap Kaisar yang langsung pergi begitu saja.


Hendra farel dan Rehan pun mengikuti Kaisar sambil sedikit berlari.


...----------------...


Kini jam pelajaran telah selesai waktunya untuk semua murid SMA 2 samudra untuk pulang kembali ke rumahnya. saat ini Berlin baru keluar dari kelasnya bersama dengan Celsi dengan berjalan santai melewati koridor yang cukup ramai.


sepanjang perjalanan mereka saling mengobrol tentang sesuatu yang random sehingga membuat beberapa kali Berlin tertawa kecil melihat tingkat Celsi yang seperti kekanak-kanakan.


"hai cewek galak!" siapa seorang pemuda dengan gayanya yang seperti berandalan.


Celsi menatap datar pada pemuda itu ia merasa sedikit kesal saat melihat wajah yang tersenyum ke arahnya. pengen rasanya Celsi menabok wajah tampannya itu dengan setumpuk buku yang ia genggam.


"Apa!" Ketus Celsi dengan mata yang dibesarkan.


"Santay gaes...pulang bareng yok!" Ajaknya dengan tersenyum begitu manisnya, namun menurut Celsi itu begitu menjijikkan.


"Nggak ada waktu" Tolak Celsi yang langsung menarik Berlin menjauh dari pemuda itu.


"Ayolah sekali ini aja!" Paksanya.


"minggir nggak, kalau enggak ku tabok kau sama buku ini!" Kesal Celsi dengan mengangkat buku yang ia bawa itu.


"Ettss...nggak boleh galak-galak ntar cepet tua!" Godanya dengan senyum nya yang masih merekat.


Berlin merasa bahwa dirinya menjadi sebuah pengganggu antara hubungan keduanya, meski ia tidak tau hubungan apa yang dijalin keduanya tapi ia merasa mereka mungkin perlu menyelesaikan masalahnya.


"Ah...aku pergi dulu ya, kayaknya ada ketinggalan di kelas tadi!" ucap Berlin yang sedikit gugup.


tanpa menunggu ucapan dari Celsi, ia lebih dulu berlari meninggalkan keduanya agar tidak mengganggu hubungan masalah mereka berdua.


"Ah selamat!" Lega Berlin.


Berlin berjalan ke dalam kelasnya ia bingung harus berbuat apa, tapi ia berpura-pura masuk seakan ingin mengambil barangnya kembali.

__ADS_1


cukup lama di dalam kelas sekitaran 15 menit lamanya Berlin pun keluar dari kelas, namun yang ia dapatkan malah Kaisar menunggunya di depan kelas wajah yang datar.


"eh sejak kapan kakak ke disini!" pecut Berlin saat melihat Kaisar berada di depan pintu.


"baru" jawab Kaisar dengan wajah datar.


Berlin hanya dapat menghela nafasnya panjang,ia sungguh tidak bisa berbuat apa-apa yang lebih padahal saat ini ia sangat kesal dengan sikap kakak kelasnya yang begitu dingin padanya.


"Hmmm...ada ada urusan apa kak?" tanya Berlin dengan sedikit gugup.


"Pulang bareng" Ucap Kaisar dengan wajah datarnya.


"wajah begitu datar sok-sokan aja aku pulang!" Gumam Berlin pelan namun dapat terdengar oleh Kaisar.


"Ehehm...!" Dehem kaisar yang dapat membuat paling sedikit tersentak.


"Ah iya kak ayo!" ucap Berlin yang sedikit gelagapan.


Kaisar tetap diam dia berjalan lebih dulu dari Berlin meninggalkan gadis itu yang terus bergumam tidak jelas meruntuki dirinya.


Kaisar sedikit tersenyum melihat tingkah lucu Berlin yang terus mengomel sepanjang jalan ia sedikit suka melihat wajah Berlin yang menahan kesal.


"Naik!" Sekali lagi Kaisar menggunakan nada datar dan hal itu membuat Berlin semakin kesal.


entah kenapa Berlin merasa kesal saat Kaisar bersikap gitu datar padahal sikap Kaisar dulu lebih menyebalkan daripada ini.


Berlin naik ke atas motor Kaisar meski sedikit kesusahan tapi dengan bantuan kaisar yang menjulurkan tangan membuat dia bisa menaiki motor yang tingginya hampir sepinggang dirinya.


"Dasar cebol!" ejek Kaisar pelan Namun dapat didengar oleh Berlin.


Berlin berdengus kesal pada Kaisar ia memegang ujung jaket Kaisar dan duduk sedikit berjauhan. Namun bukan namanya Kaisar jika tidak melakukan apa-apa Kaisar malah melajukan motornya namun seketika melakukan rem mendadak.


"Kak kaisar!" Pekik Berlin dengan berdengus kesal.


Secara reflek Berlin seketika mengalungkan kedua tangannya di pinggang Kaisar dan pemuda itu tersenyum dengan sumringah senang dan seakan sesuai harapan pemuda itu.


Kaisar melajukan motornya tanpa dosa, ia seakan bersikap biasa saja saat Berlin memeluk dirinya. Namun saat Berlin akan melepaskan nya, kaisar malah melakukan rem mendadak dan melajukan motornya kembali.

__ADS_1


Hal itu membuat Berlin seketika takut dan tak akan melepaskan pelukan tangannya dari pinggang Kaisar.Kaisar terus tersenyum sepanjang jalan, ia terus memperhatikan Berlin dari spion motornya dan Berlin begitu menggemaskan menurutnya.


__ADS_2