
...🍃 READING BOOK 🍃...
Satu Minggu pun telah berlalu, kini adalah waktu dimana tantangan akan dimulai. Berlin dan Celsi sudah siap dengan baju seragam sekolah, untuk dance nanti sudah disiapkan.
Mereka sudah siap untuk menerima tantangan, bahkan mereka sudah sangat hapal dengan gerakan yang diajarkan para pemuda anak jalanan itu.
Kini mereka duduk dikelas, sekarang masih cukup lah pagi dan dimana acara akan dimulai jam 8 nanti. Semenjak Kaisar marah, Kaisar selalu melakukan bully yang begitu menyebalkan, salah satunya adalah ia membuat Berlin malu.
"Kau gugup?" Tanya Celsi dengan kening yang berkerut.
"Hmm...sepertinya begitu, bagaimana kalo kita kalah!" Ucap Berlin dengan ragu.
"Tenang, kita akan menang!" Ucap Celsi penuh percaya diri.
"Lalu bagaimana kalo aku melakukan kesalahan?" Tanya Berlin dengan mata polosnya.
"Aku percaya pada mu kalo kau akan berusaha keras!" Ucap Celsi menenangkan.
Pintu kelas langsung di tendang cukup keras oleh seseorang, membuat orang yang berada dikelas langsung menatap asal suara.
"Hay cupu and crazy!" Lambai Jessica dengan mata yang dikedipkan satu.
"Hay juga cabe!" Ketus dan sinis Celsi.
Jessica sangat geram dengan ucapan Celsi padanya, ia pun menggebrak meja dengan keras dan menatap nyalang pada Celsi.
"Kau ingatkan perjanjian kita!" Ucap Jessica dengan gigi yang geram.
"So, I really remember it!" Ucap Celsi yang tersenyum miring.
"Oh sungguh, tapi bagaimana dengan sicupu ini!" Ujar Diana yang mengelus puncak kepala Berlin lembut.
"Minggir!" Ketus Berlin dengan menghempas tangan Diana.
"Ups...si cupu udah berani ngelawan ya gaes, sepertinya karena ada singa nya!" Sindir Diana yang menarik tangannya.
"Ingat untuk siapkan mental ya para babuku, karena kalian akan kalah! Ujar Jessica yang langsung pergi bersama para Cs nya.
Setelah kepergian Jessica cs, kini Celsi nampak sangat geram dan ia akan bersumpah akan memenangkan dance itu.
"Udah kamu jangan emosian, nanti pas dance enggak bagus lagi!" Ujar Berlin dengan sedikit mencubit dagu Celsi lembut.
"Issh...kamu itu enggak tau aja, geram amat deh ama tu para nenek sihir!" Gerutu Celsi.
"Udah ah yok tukar baju!" Ucap Berlin yang langsung saja menarik tangan Celsi, gadis itu hanya dapat mendengus kesal karena Berlin.
...****************...
__ADS_1
Kini Kaisar sedang berada di belakang panggung yang akan digunakan untuk acara, ia melakukan hal diluar nalar, yaitu melonggarkan baut-baut besi penyangga. Lihatlah ia dibantu beberapa teman-teman nya untuk melakukan hal itu, ia tidak ingin sampai antara kedua kelompok gadis itu ada yang menang dan kalah.
Ia membaut bautnya sedikit longgar, hingga saat acara terakhir yaitu pertunjukan dance yang dilakukan oleh Jessica cs dan Berli and Celsi akan roboh dan perjanjian itu tak akan terjadi.
"Sudah siap belum?" Ucap Kaisar.
"Dikit lagi!" Ucap Ridwan dengan kepala yang menatap kebawah.
"Lama banget!" Gerutu Kaisar.
"Eh kau tak ikut ya ngerjain ini, jangan bilang lama!" Jengkel Farrel dengan peluh yang sudah basah.
"Terus kan itu kerja kalian!" Sungut Kaisar.
"Ini yang nyuruh kau ya, jangan ampek aku emosi!" Kesal Hendra.
"Cepet selesain!" Tegur Rayhan yang masih bersusah paya melonggarkan.
Mereka bertiga bersungut kesal sedangkan kaisar dan Rayhan hanya menatap datar melihat tiga temannya yang begitu kesal.
"Udah siap!" Ucap mereka secar serentak dan langsung melompat turun dari tangga.
"Yaudah yok!" Ujar Ridwan dan langsung mereka angguki.
Mereka pun langsung berlari mengendap-endap agar tak diketahui oleh orang lain.
Seketika mereka berhenti dan berbalik perlahan dengan wajah yang sangat kaku. Seketika mereka gelagapan dan langsung berdiri tegap untuk mengurangi rasa gugup mereka.
"Anu pak kita lagi bersantai di belakang panggung!" Ucap Ridwan dengan cengengesan nya.
"Yaudah sini bantu bapak untuk nyusun bangku, kalian ini rupa nya mumpet disini!" Ucap guru itu yang berlenggang pergi.
Mereka pun menghela nafas lega dan kemudian berjalan mengikuti guru dihadapan mereka itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kini Berlin dan Celsi sudah menukar baju mereka ala anak KPop dan sedikit ada gaya rock, disini mereka memilih tema simpel dengan jaket jens yang terpakai dan baju oblong putih yang kebesaran. Celana pendek yang selaras dengan jaket menampakkan paha putih mereka, rambut yang djsanggul secara acak menambah kesan cantik untuk mereka. Bahkan kini Berlin menggunakan lensa mata dan untuk kacamata ia lepaskan karena takut terlepas.
"Waw...kau cantik ber, ngapain pakek segala kepang rambut ama kacamata!" Ujar Celsi yang tak percaya dengan penampilan sahabatnya itu.
"Hmm...aku tak pede, apalagi aku ingin menutup diri!" Ujar Berlin dengan lirih.
"Tapi kan, kalo gini kamu terlihat sangat cantik bahkan aku pangling loh!" Ucap Celsi dengan mata yang tak percaya.
"Udah ah yok!" Ucap Berlin yang tak ingin Celsi terus menerus memuji nya.
Mereka pun keluar dari kamar mandi, saat mereka melewati koridor sekolah semua mata menuju kearah Berlin dan Celsi, mereka bahkan berbisik-bisik bahwa Berlin adalah anak baru.
__ADS_1
*Gila cantik banget
Itu bule atau gimana ya, kok bisa ya bule kesini
Pengen pacarin deh
Dapet dari mana Celsi tu anak orang.
Dek nikah yok
Sok cantik
Cih...mau ngelont* apa pakek tu celana sependek paha
Siapa ya namanya*
Begitulah beberapa ucapan semua orang yang memuji dan mencibir Berlin, lihatlah bahkan sudah cantik saja Berlin masih saja dihujat apalagi ia yang jelek.
"Ets...siapa nih!" Ucap Jessica dengan gaya angkuhnya.
"Kenapa, iri!" Ketus Celsi.
"Iuh...jijik anjir, btw cakep juga temanmu siapa namanya!" Ucap Fanya dengan wajah jijiknya.
"Berlin!" Ujar Berlin memperkenalkan.
"APA!" Ucap mereka tak percaya bahkan mulut mereka berempat menganga sempurna.
"Ck...tetap sama jelek!" Ucap Angel yang sudah sadar dari keterkejutan nya.
"Yang penting enggak kayak kalian yang putih karena produk!" Sindir Celsi yang membuat mereka kesal.
"Terserah kita lah, setidaknya kita itu mampu!" Ucap Diana.
"Setidaknya kami alami!" Sambung Celsi dengan ketus.
"Ck... enggak mampu bilang, jangan sok bilang alami!" Sindir Angel.
"Masih menggunakan uang orang tua jan sok bangga, kalo manja yaudah manja enggak usah sok hebat!" Sinis Celsi yang membuat mereka semakin geram.
"Udah ah yok gaes, kalo sama orang kayak gini enggak usah diladenin, ntar kita ketularan miskin lagi!" Sindir Jessica yang langsung pergi bersama para Cs nya.
Celsi hanya menatap kesal dengan Jessica cs, mereka berempat tidak ada hari untuk tidak mengganggu mereka berdua, selalu saja mereka berempat mengganggu kenyamanannya.
"Tumben bisa ngelawan!" Ledek Celsi.
"Apaan cuman ngenalin doang kok!" Ujar Berlin dengan sedikit jengkel.
__ADS_1
"Ya kan itu ada kemajuan, enggak papa deh besok-besok lakuin aja terus!" Ujar Celsi yang langsung menggandeng tangan Berlin.