
...đ READING BOOK đ...
Kini disebuah kamar yang berinterior biru laut dengan hiasan tambahan warna putih. Seorang gadis duduk di sofa dengan tatapan yang lurus kedepan, dimana sekarang pikirannya sudah melayang-layang.
Tok....tok...tok
Pintu tiba-tiba diketuk, yang mengharuskan gadis itu membuyarkan lamunannya dan membuka pintu melihat siapa yang mengganggu waktunya itu.
Ceklek
Pintu pun dibuka, terlihat wajah mengesalkan tersenyum miring padanya dan hal itu membuatnya muak dengan kehadiran nya.
"Ada apa?" Tanya nya yang datar dan dingin.
"Turunlah Celsi, papa dan mama menyuruhmu makan bersama!" Ucap Cinta yang menatap jengah kearah Celsi.
"Baiklah, makanlah lebih dulu, aku akan menyusul!" Ucap Celsi yang langsung menutup pintu kamarnya.
Tampak Cinta yang merasa geram dengan sikap Celsi yang begitu tak menghargai dirinya yang notabenenya adalah kakaknya.
Dengan sedikit hentakan ia pun segera turun kebawah kembali menuju ruang makan.
"Mana adek mu Cinta?" Tanya sang ayah yaitu Weldan.
Weldan menatap lekat sang anak, ia masih berharap jawaban iya yang ia dengar dari mulutnya itu.
"Dia sebentar lagi turun yah!" Ucap Cinta yang langsung duduk di kursinya.
"Kamu serius nak, apa kamu yakin dia akan benar-benar kesini!" Ucap Galdis yang begitu sangat semangat.
"Iya ma!" Jawab Cinta dengan rasa jengahnya.
Tak lama kemudian, Celsi datang dengan baju rumahannya. Ia duduk disamping Cinta dengan wajah datar yang tak ada sedikit pun niatan menyapa atau bertanya.
"Mau makan apa sayang?" Tanya Galdis yang langsung menyendokkan nasi.
"Hmm...terserah mama aja!" Ucap lembut Celsi.
Galdis dengan semangat langsung mengambilkan setiap lauk pada Celsi, hal itu membuat gadis itu membelalakkan matanya melihat porsi yang begitu besar.
__ADS_1
"Ah sudah cukup ma!" Tahan Celsi memegang tangan sang mama.
Semua itu terus diperhatikan oleh Weldan dan Cinta, dimana Cinta menggenggam erat garpu yang ada ditangannya dan Weldan yang tersenyum tipis.
"Yaudah, habisin ya!" Ucap Galdis dengan senyum manisnya.
Celsi pun hanya mengangguk. Galdis langsung mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya. Suasana makan malam di keluarga ini pun cukup hangat meski tak ada satu pun yang memulai pembicaraan.
"Papa ingin berbicara pada kalian berdua!" Ucap Weldan.
Kini mereka sudah menyelesaikan makan malam, Weldan lebih dulu berjalan menuju ruangan pribadi nya dan Cinta dan Celsi hanya mengikuti dari belakang.
Kini tiga orang saling bertatapan berada di dalam satu ruangan, ruangan itu tampak sunyi karena satu diantara mereka belum memulai pembicaraan.
"Dua tahun lamanya!" Ucap Weldan yang memulai percakapan.
Celsi tetap diam dan begitu juga Cinta yang menunggu kelanjutan dari ucapan sang ayah.
"Apa kalian tetap akan seperti ini?" Pertanyaan yang dilontarkan Weldan membuat mereka langsung tersentak.
Keduanya saling bertatapan dan akhirnya menunduk, mereka tak sanggup menatap kearah tatapan tajam dan memohon dari sang ayah pada mereka berdua.
"Kalian hanya berdua tak banyak, apa seperti ini sikap kalian sebagai seorang saudara!" Ucap Weldan menatap penuh pengertian.
"Jangan berbohong, bersikap lah layaknya seorang saudara, apa kalian tak kasihan melihat mama mu itu?" Ucap Weldan yang sekali lagi membuat mereka berdua benar-benar merasa sangat bersalah.
"Sekarang kalian kembali lah kekamar masing-masing dan papa harap kalian baikkan!" Ucap Weldan dan mereka berdua menurut saja dan langsung pergi keluar dari ruangan itu.
Tak ada seorang ayah yang tak tau perselisihan antara kedua anaknya, terlebih seorang ibu yang begitu menyayangi anaknya tetapi merasakan sesuatu yang begitu menjanggal dan mungkin akan terus merasakan hati yang tak menentu.
Weldan tak ingin istrinya terus memikirkan masalah anaknya, ia begitu menyayangi istrinya dan ia takut akan terjadi sesuatu pada sang istri jika dibiarkan terus seperti ini.
Kembali lagi ke Celsi.
Gadis itu berjalan dengan tatapan kosong, ia terus menaiki tangga dengan tatapan tak konsentrasi.
Ucapan sang ayah terus ia pikirkan, sebenarnya ia sangat menyayangi kakaknya tapi sikap sang kakak yang begitu tak ia sukai membuat dirinya menjauhkan diri dari yang namanya berhubungan dengan Cinta.
Memasuki kamar dan segera mengunci nya, ia langsung melemparkan tubuhnya di ranjang, matanya menatap langit-langit kamar menerawang cukup jauh.
__ADS_1
Begitu banyak masalah yang dialami, tapi masalah yang terus menghantuinya adalah permintaan maaf dari Berlin yang terus berputar diotaknya.
"Ah... sial!" Umpatnya yang mengusap wajahnya dengan kasar.
Ia pun bangkit dari kasurnya, berjalan kekamar mandi untuk kembali membersihkan diri untuk bisa segera untuk tidur.
...****************...
Mereka tak kunjung mendapatkan angkutan umum, sementara Berlin sudah sangat menggigil dan hal itu juga dirasakan oleh kedua orang tua Berlin.
"Pakai taksi online ya sayang!" Ucap Celsi yang meminta persetujuan sang anak.
"baiklah bu!" Ucap Berlin dengan tubuh menggigil.
"Pinjam ponselnya sayang, mama tak memiliki aplikasi untuk memesan taksi!" Ucap Tami dan dengan segera Berlin mengambil ponselnya dari saku roknya.
Dengan segera Tami membuka aplikasi, ia mencari taksi yang bisa ia gunakan untuk bisa sampai dirumahnya. Namun hal itu tentu tak semudah itu karena kini jarak para taksi online begitu jauh dan bahkan banyak yang menolak.
"Kenapa sayang?" Tanya Yudha yang dari tadi memperhatikan raut wajah bingung Tami.
"Ini nggk bisa mas, soalnya semua diantara mereka memiliki jarak yang jauh!" Jelas Tami dengan raut kesedihan.
"Yaudah, kita tunggu aja mungkin saja ada angkutan umum yang lewat!" Ucap Yudha menenangkan istrinya.
Berlin tersenyum saat itu juga, meski pun badannya yang menggigil, ia tetap bisa merasakan kehangatan keluarga yang cukup harmonis.
Cukup lama mereka menunggu, sampai waktu menunjukkan pukul 10 malam, tidak ada satu pun angkutan lewat. Namun satu taksi pun lewat yang sepertinya akan segera pulang.
Tami melambaikan tangannya, memberhentikan taksi. Ia berharap taksi itu masih mah mengantarkannya untuk segera pulang.
"Maaf, saya akan segera pulang jadi untuk sekarang saya menolak penompang!" Ucap orang taksi itu.
"Pak kami mohon, tolong sekali ini saja, kita sudah menunggu angkutan umum dari tadi tapi tetap tak juga ditemukan!" Ucap memohon Tami.
"Maaf aku tak bisa!" Tolak mentah-mentah orang taksi itu.
Perlahan ia ingin melajukan mobilnya, tapi dengan segera Tami malah menghalangi jalan nya.
"Pak kami mohon, lihatlah anak saya sudah kedinginan, dia baru dari rumah sakit pak!" Ucap Tami yang mengeluarkan setitik air mata.
__ADS_1
Pak taksi itu pun hanya dapat menghela nafas panjang, akhirnya ia pun mengangguk sebagai jawaban persetujuan nya.
Tami dan Yudha tak menyia-nyiakan kesempatan itu, dengan segera mereka masuk kedalam taksi itu dan Berlin yang juga dibantu untuk berjalan.