Benci Menjadi Cinta

Benci Menjadi Cinta
Bab 51


__ADS_3

...🍃 READING BOOK 🍃...


"Hati-hati!" Ucap Kaisar sambil tersenyum.


Berlin sempat tertegun karena melihat senyum Kaisar yang begitu hangat, ini pertama kali bagi nya melihat seorang Kaisar tersenyum meski senyum sebelumnya tak sehangat ini.


"Cepet masuk!" Ujar Kaisar hang membuat lamunan Berlin langsung buyar. Gadis itu menatap Kaisar dengan penuh tanda tanya, ia berpikir Kaisar melakukan hal manis pasti ada tujuannya.


"Kakak nggak demam kan, masih sehat atau ada terjadi benturan?" Pertanyaan Berlin beruntun, hal itu membuat kaisar berdecih kesal.


Bagaimana gadis itu menyimpulkan bahwa dirinya sedang tak sehat sedangkan dirinya begitu sehat dan sadar dengan perbuatannya pada Berlin saat ini.


Mata bulat Berlin terus menatap Kaisar, hal itu tak luput dari otak Kaisar yang mereka dan mengingat wajah gadis itu yang begitu imut.


Kini pria itu sudah berada diatas motornya, ia terus kepikiran dengan pertanyaan Berlin padanya. Disepanjang jalan ia terus tersenyum, ntah kenapa saat ini hatinya merasa cukup senang karena mengantarkan gadis itu.


"Ck...ayolah kaisar, dia hanya gadis cupu yang bukan idealmu!" Gumam Kaisar meruntuki kebodohannya yang memikirkan terus senyum dan wajah polos Berlin saat itu.


Motornya langsung melesat cukup kencang, tubuhnya merasa letih jika terus berada di atas motor.


...****************...


Celsi terus mencari Berlin dikeliling sekolah dengan satu orang cowok bule yang dari tadi membuat dirinya kesal.


"Ck...mana sih Berlin!" Dengusnya dengan mata yang bergeliyar mencari keberadaan sahabatnya itu.


"Telponlah, manatauan dia sudah pulang!" Ucap William dengan wajah polosnya.


"Ngapain nggak ngomong dari tadi bambang!" Geram Celsi yang ingin sekali mencakar wajah William yang begitu polos itu.


"Nggak ada nanya!" Jawabnya yang begitu santai, ia langsung duduk di bangku kursi yang disediakan.


Celsi ingin sekali menggaruk dan memegal kepala lelaki dihadapannya itu, dengan wajah santainya berbicara Seperti itu.


Akhhh...Sungguh dirinya sangat emosi melihat wajah biasa-biasa nya lelaki itu, ia berusaha mengatur nafa 'Huft' Helaan nafas yang terdengar jelas.

__ADS_1


Celsi pun dengan segera pun mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu yang diyakini William bahwa gadis yang dihadapannya itu sedang mencari nomor sahabatnya itu.


Terdengar suara panggilan masuk tapi panggilan itu tak dijawab.


"Gimana?" Tanya William.


"Nggak diangkat!" Seketika Celsi lesu memikirkan keberadaan sahabatnya itu saat ini.


"Kerumahnya yok!" Ajak William yang menggenggam tangan Celsi.


Celsi menatap lelaki itu intens, dirinya baru sadar bahwa lelaki yang dihadapannya itu lumayan tampan dengan alis mata yang tebal.


Matanya menatap genggaman tangan William padanya, ada sebuah kehangatan yang terpancar dari lelaki yang ada dihadapannya saat ini.


"Tangan mu, ah bangs*t!" Geram Celsi yang langsung menggeplak tangan William.


"Aww...aw...sakit anjir, kasar amat jadi cewek!" William berusaha menghindari tangan Celsi meski pada akhirnya dirinya pun kena juga.


"Ah...berhentilah, maafkan aku!" Mohonnya yang berusaha meringkuk melindungi wajahnya karena ia tau bahwa saat ini tangan Celsi memiliki kuku yang panjang.


"Eh tunggu!" Teriak nya yang langsung mengejar Celsi.


Celsi terus mengomel disepanjang jalan, ia begitu kesal dengan lelaki yang dihadapannya saat ini. Kini dirinya sudah berada di atas motor William.


Awalnya ia akan pergi dengan sopirnya, namun apa yang dilakukan William malah membuatnya semakin kesal.


"Maaf pak bisa kah pulang dulu, karena Celsi akan membeli sesuatu!" Ucap William.


"Ta-tapi..." Sopir itu merasa ragu untuk membiarkan nona mudanya itu pulang dengan seorang pria, tapi ia bingung harus menolaknya atau mengijinkannya, padahal disini tugasnya adalah menjemput dan mengantar Celsi sebelum lewat jam 4 sore.


"Tenang aja pak dia aman sama aku!" Ujar William dengan senyum manisnya.


"Eh apaan sih, jelas aku mau pergi....!" Ucap Celsi yang ingin membantah, tapi apa yang ia dengar membuat matanya terbelalak dan degup jantungnya sungguh tak karuan.


"Berhentilah membantah atau kau akan aku cium disini!" Bisik ancaman William. Lelaki itu melihat gurat cemas dan tegang Celsi yang begitu menggemaskan.

__ADS_1


"Gimana pak, bisakan!" Tanya William seakan lagi menawar.


"Hah...baiklah, tapi ingat jangan sampai jam 4 lewat kau mengantarkan nona, jika tidak maka aku kenak masalah!" Ucap sopir itu yang pasrah karena tidak enak melihat teman sang nona muda nya memohon padanya.


"Yey...makasih pak, yaudah kita pergi dulu ya!" William begitu semangat, dirinya langsung menarik Celsi begitu saja menuju parkiran.


Begitu lah yang diingat Celsi, cukup menyebalkan jika lelaki itu mendekatinya, lelaki yang saat ini sedang mengendarai motor terus tersenyum, terlihat dari kaca spion motornya yang tak sengaja Celsi lihat.


"Jaga tu mata atau nggak ku colok!" Ketus Celsi yang langsung memalingkan wajahnya.


Sedangkan William hanya tersenyum menutupi rasa malunya karena kepergok melirik gadis yang ada di belakangnya itu saat ini.


Tak perlu membutuhkan waktu lama mereka pun akhirnya sampai meski sebenarnya perjalanan memang lamban karena William yang melakukannya dengan sengaja.


Celsi menghampiri rumah Berlin, ia ingin memastikan bahwa gadis itu sudah sampai rumahnya belum. Nafasnya lega saat melihat pembuka pintu rumah Berlin, meski sebenarnya ia cukup kesal pada gadis itu karena tidak memberitahu dirinya tentang kepergiannya.


Setelah memastikan Berlin berada dirumah, ia pun langsung segera pulang karena tidak ingin ayahnya marah padanya akibat pulang telat.


...****************...


Berada di mansion mewah bukan mengatakan bahwa seseorang begitu bahagia, fasilitas yang cukup dan semuanya serba ada, namun ia tidak juga puas dengan semuanya.


Kasih sayang yang begitu kurang dan bahkan bisa dibilang hampir tidak ada, kumpulnya menjadi keluarga jika ada sesuatu yang penting.


Memiliki seorang ayah yang sibuk bukanlah hal yang mudah untuk bersikap biasa saja, bahkan sang mama yang di rumah saja lebih mementingkan untuk menyelesaikan kegiatannya sebagai ibu rumah tangga dan juga mengurus keuangan perusahaan bahkan penghasilan.


Kini di sebuah meja makan panjang dengan deretan makanan yang dapat menggugah selera sudah terpampang nyata. Namun untuk Kaisar ia begitu tidak peduli dengan semua itu.


Ya


sekarang adalah makan besar bersama dengan sahabat mama dan papanya yaitu Tante Galdis dan om Weldan, jangan lupa dengan dua gadis cantik yaitu Cinta dan Celsi meski terlihat Celsi yang begitu tak peduli dengan acara makan malam ini.


"Ayo makan dulu, nanti kita lanjut berbincangnya soalnya perutku tak bisa akur!" Ucap Aldebaran dengan sedikit kekehannya.


"Hahaha...yaudah yok, aku juga apalagi ini masakan dua bidadari kita, ya nggak Al!" Ucap Weldan yang ikut menimpali ucapan sahabatnya itu.

__ADS_1


Ya memang waktu disore hari Galdis datang kerumah kaisar, wanita itu ingin membantu untuk pembuatan makanan, tapi Desi berusaha untuk menolaknya, namun bukanlah Galdis jika tidak bisa menaklukan hati sahabatnya itu dengan puple eyes nya.


__ADS_2