Benci Menjadi Cinta

Benci Menjadi Cinta
Bab 45


__ADS_3

...🍃 READING BOOK 🍃...


Dikelas 12 MIPA 1, dimana Cinta duduk di bangku paling sudut. Ia menahan marahnya disaat jam pelajaran sedang berlangsung, tangannya terus mengepal dan pandangannya lurus kedepan.


"Cinta! Kamu tak memperhatikan pelajaran saya didepan, sekarang jelaskan kembali apa yang saya bahas!" Tegur sang guru dengan suara lembut.


Ya, guru seni budaya. Dimana guru itu sangatlah lembut dalam berbicara bahkan saat berjalan pun sangat anggun, banyak beberapa murid yang selalu suka belajar padanya.


"Hmmm...maaf buk, saya tak memperhatikan tadi!" Ucap Cinta yang menolak.


"Sekarang kamu keluar dan basahi wajahmu, ingat masuk kembali dengan wajah yang fresh!" Ucap guru itu lembut.


Cinta hanya mengangguk dan akhirnya berjalan keluar dari kelasnya dan saat itu juga berpapasan dengan Kaisar dkk.


Cinta menatap sekilas pada Kaisar, namun akhirnya ia memutuskan kontak mata dan melanjutkan jalannya menuju toilet.


Saat ini mood gadis itu sangat lah buruk, sehingga ia memilih untuk mengabaikan Kaisar.


Kaisar berjalan masuk bersama dengan atek-ateknya, terlihat mereka menjelaskan alasan keterlambatan mereka. Sungguh padahal mereka bersantai karena pak Mudin tak datang, tapi karena pelajaran pak Mudin yang singkat membuat mereka akhirnya terlambat dalam pelajaran buk Diana Seni budaya.


"Baiklah, kalian duduklah dibangku kalian jika terulang lagi ibu tidak akan mentolerir kalian lagi!" Ucap sang guru yang meskipun marah tapi masih menggunakan nada lembut.


Mereka hanya mengangguk dan langsung pergi ke bangku mereka masing-masing.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kriiingg.....


Bel pulang sekolah, semua penghuni sekolah siap untuk kembali kerumahnya. Kini Berlin langsung bangkit dari tidurnya, ia hanya sendirian saja karena Celsi ia paksa untuk kembali ke kelasnya.


Perlahan kakinya ia turunkan, berusaha menjangkau lantai yang memiliki jarak yang cukup tinggi. Tapi ia berhasil untuk turun, kini ia langsung keluar dari UKS menuju kelasnya mengambil tas nya.

__ADS_1


Disaat perjalanan semua orang menatapnya dengan tatapan masing-masing, terlihat Berlin berjalan sedikit pincang dimana saat ia melompat menaiki kloset lututnya sempat terbentur didinding sehingga mengakibatkan kakinya masih sakit.


"Sini ku bantu!" Ucap seorang lelaki yang merupakan ketua OSIS Raihan.


"Eh nggak perlu kak, aku bisa sendri!" Ucap Berlin menolak.


"Nggak papa, kakak tau kamu kesusahan berjalan kan!" Ucap Raihan yang tetap memaksa membantu Berlin.


Berlin dengan terpaksa pun menerima kebaikan Raihan, ia berjalan sampai kelasnya dengan papahan dari Raihan.


"Haiyo, ada l*nte lagi genit nih!" Sindir Fanya saat keluar dari kelasnya.


Ya kelas Berlin dan Jessica dkk hanya bersebelahan, dimana pasti mereka akan bertemu meski tak diinginkan.


"Apa yang kau bilang Fanya, jaga sikap mu itu!" Tegus Raihan dengan nada dinginnya.


"Hmm...dia menggoda calon tunangan ku, bagaimana aku tak kesal!" Ucap Fanya yang langsung menghempas tangan Berlin dari tubuh Raihan dan bergelanyut manja.


Beberapa orang yang akan keluar menatap mereka bertiga dengan tatapan aneh, bahkan ada diantara mereka melihat kejadian itu seakan sebuah tontonan yang seru.


"Kenapa kau membentak ku, apa kah begini sikapmu pada calon tunanganmu!" Ucap Fanya yang sedikit meninggi.


"Sudahlah!" Pasrah Raihan.


Ia pun mengusap rambut Fanya dengan lembut, berusaha menetralkan emosinya yang sebentar lagi ingin meledak.


Raihan tidak bisa bersikap lebih tegas pada Fanya, selain Fanya adalah teman waktu kecilnya, ia juga adalah anak dari sahabat papanya yang harus ia jaga.


Ia tidak menyukai Fanya karena sikap gadis itu berlebihan, terlalu posesif dan bahkan akan bertindak lebih pada orang yang akan mendekatinya.


Hal itu membuat Raihan selalu bersikap datar kepada siapa pun menutup semua pikiran yang di embannya dengan wajah datarnya.

__ADS_1


Fanya tersenyum karena Raihan kembali bersikap lembut, Fanya sedikit mendorong Berlin agar menjauh dari Raihan dan membuat Berlin tersentak untuk menjauh.


"Fanya!" Teriak kesal Raihan.


"Nggak apa kok kak, oh ya makasih!" Ucap Berlin yang sedikit menunduk dan kembali berjalan membela segerombolan orang yang menatap kejadian mereka.


Celsi melihat kejadian itu, ia langsung menarik Berlin yang saat itu berada diambang pintu. Celsi berjalan menarik Berlin dengan dua tas yang berada disebelah bahunya.


"Cel bentar, pelan lah sedikit!" Ucap Berlin yang kewalahan dalam berjalan.


"Ah maaf ber!" Kikuk Celsi yang menatap iba pada sahabatnya itu.


"Kenapa emangnya, siniin dong tas aku!" Ucap Berlin sambil mengambil tasnya dari bahu Celsi.


"Udah biarkan saja aku yang bawa, sekarang yok aku antar sampai rumah!" Ucap Celsi yang menahan tangan Berlin.


Celsi berjalan lebih dulu dengan menarik Berlin dari belakangnya. Berlin berusaha berjalan, ia cukup merasa bahagia saat ini karena masih ada sahabat nya yang terus menjaganya.


"Makasih cel!" Ucap Berlin yang saat itu sedang ditarik oleh Celsi.


Celsi berhenti, ia berbalik dan langsung memeluk Berlin dengan hangat. Pelukan itu berlangsung cukup lama hingga tanpa disadari air mata Celsi mengalir.


"Kamu tau, kamu adalah orang yang paling istimewa di hidup ku!" Lirih Celsi menatap penuh kasih sayang pada sahabat nya itu. " Kau tau ber! aku memiliki keluarga seakan aku tak punya keluarga!" Lanjutnya yang langsung menundukkan kepalanya berusaha menahan tangisnya.


"Jangan bicara seperti itu seakan kau sendiri Celsi, aku juga menyayangimu!" Ucap Berlin yang langsung memeluk Celsi dengan kehangatan.


Pelukan hangat pun terjadi lagi, cukup lama mereka berpelukan untuk mencurahkan seluruh isi hatinya bahwa mereka saling menyayangi satu sama lain.


"Ayok ah, ntar mewek-meweknya pas dirumah kamu, sekarang yok aku antar kamu pulang!" Ucap Celsi yang melepas pelukan hangat itu.


mereka pun pergi berjalan menuju mobil yang sudah menunggu senantiasa di parkiran sekolah, sebenarnya mobil itu sudah dari tadi menunggu tapi karena mereka harus mewek-mewek dulu sehingga membuat sopir yang menunggu pun harus lama.

__ADS_1


"Jalan pak, nganter Berlin!" Ucap Celsi dan sopirnya itu hanya mengangguk, toh arah rumah mereka sama.


__ADS_2