Benci Menjadi Cinta

Benci Menjadi Cinta
Bab 26


__ADS_3

...🍃 READING BOOK 🍃...


Kini Kaisar sudah berada di parkiran sekolah, meski ia terlambat 5 menit, namun ia memiliki kekuasaan.


Mobilnya masuk dengan cepat, saat ia keluar dari mobil. Ia melihat Berlin bersama Celsi sedang berjalan menuju parkiran.


Kaisar menghampiri, ia ingat bahwa gadis culun itu memiliki bukunya yang seharusnya sudah selesai ia kerjakan.


"Buku!" Kaisar menagih bukunya.


Terlihat Celsi menatap secara bergantian Kaisar dan berlin.


"Jangan bilang kamu tetap membawa buku orang ini Berlin!" Tunjuk Celsi pada Kaisar.


Terlihat tersirat mata tajam pada Kaisar meski hal itu tak di gubris oleh Kaisar.


"Cepat, aku masih ada waktu!" Ucap Kaisar yang tak ingin berlama-lama berada disini.


"Ta-tas lagi dikelas!" Tiara cukup gelagapan saat berhadapan dengan kaisar.


"Ikut dengan ku!" Kaisar langsung menarik Berlin dengan kasar, ia tidak peduli dengan teriakan Celsi padanya.


Terlihat semua orang menatap ketiga orang yang sepertinya sedang kejar-kejaran, dimana kaisar menarik Berlin dan Celsi yang mengejar.


Kalo dibuat judul, enaknya film apa ya?...serius nanya.


Celsi langsung menarik Berlin saat sudah menjangkau Berlin. Ia menjauhkan Berlin dari Kaisar.


"Jadi cowok itu jangan kasar, mentang-mentang jantan, seenaknya ama cewek!" Sinis Celsi yang menarik Berlin.


"Aku hanya mengambil buku saja dan terserah aku lah karena dia budak ku!" Tunjuk Kaisar pada Berlin yang menekankan kata 'dia' saat menunjuk Berlin.


"Sekarang Berlin bukan budakmu dan kau tak berhak memperlakukan nya dengan kasar!" Bantah Celsi yang menatap seakan menantang Kaisar.


"Terserah akulah, karena disini aku yang menentukan!" Kaisar langsung menarik kembali Berlin, namun saat ini lebih lembut dari sebelumnya.


Celsi mengikuti Berlin dan Kaisar sampai kelasnya, mereka bertiga menjadi sorotan oleh semua orang yang ada disana, tapi yang paling menjadi sorotan utama adalah Berlin dan Kaisar.


"Lepas!" Berlin langsung menghempaskan tangan Kaisar saat sudah berada didepan kelas.

__ADS_1


Berlin berjalan menuju bangkunya, ia mengambil buku yang berada di tasnya dan membawanya pada Kaisar.


"Nih!" Berlin langsung memberikannya dan menarik Celsi menuju bangkunya.


Kaisar langsung membuka bukunya, ia tersenyum senang karena semua tugasnya sudah selesai dan ia tidak membutuhkan tenaga untuk berpikir lagi.


Kaisar keluar dari kelas Berlin, ia melihat banyak orang yang membicarakannya atau bisa dibilang kagum dengan nya dan memaki Berlin yang berusaha mendekati dirinya.


Berjalan dengan santai menuju bangunan kedua yaitu kelasnya berada. Banyak orang yang menyapa dan beberapakali mereka juga menggoda dirinya.


"Eh ngapain bro, bukannya kelas jauh di gedung sebelah?" Tanya Farrel yang bingung saat melihat keberadaan Kaisar digedung 2.


"Ada urusan!" Acuh Kaisar yang terus berjalan tanpa menghiraukan Farrel.


Lelaki itu pun mengejar kaisar, mengikuti langkah cepat Kaisar.


"Gangguin tu cewek lagi!" Ucap Farrel yang memulai pembicaraan.


"Nggak!" Singkatnya dan malah mempercepat langkahnya.


Farrel hanya dapat menghela nafas pasrah, Kaisar pasti akan menjawab dengan baik jika ia memiliki mood yang baik, namun jika ia menjawab dengan acuh maka saat ini moodnya sedang tidak baik.


Sesampainya dikelas, Kaisar langsung duduk ditempatnya dan memainkan ponsel tanpa menyapa teman-temannya.


Terlihat Hendra menatap Farrel dengan muka seakan menanyakan 'Kenapa' dan Farrel hanya menjawab dengan baju yang naik keatas 'ntah'.


"Kenapa kai!" Tanya Hendra yang saat ini berada disamping Kaisar.


"Nggak ada!" Acuhnya dan malah lebih fokus dengan ponselnya.


"Baiklah, tapi sepertinya wajah mu itu cukup kusut!" Ujar Hendra yang begitu kepo dengan sikap Kaisar.


"Diamlah, sekarang aku malas menjawab!" Hendra langsung diam, ia memutuskan untuk kembali menyelesaikan tugas yang belum sepenuhnya ia selesaikan.


Beberapa menit kemudian, guru pun datang dengan membawa satu orang siswi baru. Semua orang berbisik-bisik akan kecantikan siswi itu, namun kaisar tak mempedulikan hal itu.


"Hallo, namaku Ayunda Cinta Weldan , pindahan dari sekolah Kristen Immanuel!" Ucap Cinta dengan senyum terbaiknya.


SMA Kristen Immanuel adalah sekolah swasta terbaik di Pontianak, Kalimantan barat. Dimana sekolah ini memiliki fasilitas terbaik dan banyak yang meminatinya. Sekolah ini khusus menampung orang yang beragam Kristen dan dapat kita lihat dari nama SMA nya saja sudah jelas.

__ADS_1


Pindah nya Cinta hanya karena Kaisar, selain ia dijodohkan Cinta menyimpan rasa pada lelaki itu dari sejak kecil dan saat ini ia begitu menerimanya dan akan terus membuat Kaisar berada di dekatnya.


Cinta mencari sekitar nya, ia melihat Kaisar yang tertidur di bangku nya, Cinta tersenyum tipis karena ia merasakan jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya.


"Weldan? Kau seperti mirip seseorang!" Ujar salah satu siswi yang menatap dengan seksama wajah Cinta.


"Oh benarkah, siapa kah itu!" Ucap Cinta dengan senyum manisnya, namun didalam hati ia merasa kesal karena disamakan oleh orang lain dan itu ia tau pasti Celsi.


"Ah sepertinya aku salah deh!" Ujarnya yang tak ingin memperpanjang.


"Baiklah ada yang dipertanyakan!" Ucap sang guru pada seluruh muridnya.


"Siapa nama panggilan mu!" Tanya salah satu siswa.


"Cinta!" Jawab Cinta dengan senyum ramahnya.


"Cinta! Cinta! Kamu tau nggak kenapa aku memilih angkah 8!" Ucap Gio yang berada duduk didekat Kaisar.


"Kenapa?" Tanya Cinta.


"Ya karena kamu mungkin akan jadi masa depan ku!" Ucapnya dan membuat semua orang menyorakinya.


Cinta hanya dapat terkekeh, ternyata diteman sekelasnya ada yang memiliki sikap yang begitu random.


"Yaelah Gio Gio...Lurusin tu kencing, baru bilang masa depan!" Ledek salah satu siswa yang bernama Rayhan.


"Udah lurus, mau coba apa!" Timpal Gio dan semua itu membuat semua orang tertawa karena ulah Gio.


"Udah-udah, kalian ini masih seorang pelajar sudah memiliki otak yang kotor!" Tegur sang guru yang menyudahi candaan itu "Sekarang kamu duduk dikursi belakang ya!" Lanjut sang guru pada Cinta.


Cinta hanya mengangguk, ia pun berjalan perlahan menuju bangkunya. Ia sesekali tersenyum karena sapaan beberapa siswa yang menggodanya.


Cinta duduk di bangku paling belakang, ia meletakkan tasnya dan duduk dengan menompang dagu. Ia menatap kearah Kaisar dan sesekali tersenyum.


Kaisar merasakan ada yang menatapnya, ia menatap kebelakang dan ia melihat Cinta tersenyum manis pada Kaisar dan membuat lelaki itu merasakan merinding dan akhirnya kembali memperhatikan kedepan.


"Baiklah, kita mulai pelajaran!" Pelajaran pun dimulai.


Semua murid sangat fokus mendengar penjelasan dari sang guru, namun hanya Cinta yang tak fokus karena terus memperhatikan Kaisar yang hanya bersikap cuek.

__ADS_1


__ADS_2