Benci Menjadi Cinta

Benci Menjadi Cinta
Bab 9


__ADS_3

...🍃 READING BOOK 🍃...


Berlin terus menatap pertengkaran antara dua cowok itu, hanya duit 50 ribu saja sudah membuat mereka terus bertengkar.


"Berhentilah bertengkar, apa kalian benarkan seorang teman!" Lerai Stevani pada kedua cowok itu.


"Kita bukan teman!" Kesal Kaisar dengan menarik duit dari tangan Berlin dan meletakkannya di tangan Hendra.


"Yaudah, ini untuk kamu aja aku pergi dulu!" Ucap Hendra meletakkan duit itu ditangan Berlin.


Huh...


dengus kaisar, kaisar langsung menarik tangan Berlin masuk kedalam kelasnya. Saat ini suasana hatinya badmood karena pertengkaran yang tadi.


"Kipasin aku!" Ucap Kaisar sambil memainkan ponselnya.


Berlin hanya mampu menahan kesal, ia mencari-cari sesuatu yang bisa dibuat kipas, namun benda itu tak ia temukan.


"Eh culun lama amat lu ngipasin aku!" Kesal Kaisar yang masih asik dengan ponselnya.


Cukup lama ia menunggu namun Berlin tak kunjung memberikan jawaban untuknya. Kaisar pun mengalihkan pandangannya, ia menatap sekeliling dan melihat Berlin yang sibuk berkeliling seakan mencari sesuatu.


"Eh culun, kamu ngapain disitu hah!" Teriak Kaisar saat melihat Berlin yang berada dipojok kelas.


"Aku nyari yang bisa untuk kipasin kakak!" Ketus Berlin sambil sibuk mencari sesuatu.


"Ambil kipas di laci meja barisan 3 ditengah!" Jelas Kaisar dengan menunjuk arah bangku itu.


Berlin pun hanya mengangguk, ia berjalan ke meja yang ditunjuk Kaisar. Ia memeriksa di laci meja barisan nomor tiga, dan ia pun mendapatkan apa yang dimaksud dengan Kaisar.


Berlin melihatnya, ia cukup terkekeh melihat kipas baterai berwarna pink itu. Apakah seorang cowok yang selalu ketus padanya itu suka berkipas apalagi berwarna pink.


"Ngapain kamu ketawa, itu punya adek aku!" Ketus Kaisar sambil menahan rasa malunya


"Adek kakak perhatian juga ya!" Ucap Berlin sambil tertawa menatap kipas itu.


"Cepat kipasin aku, lama amat!" Kesal Kaisar.


Berlin pun segera berjalan kearah kaisar, ia menghidupkan kipas angin mini itu didekat wajah Kaisar yang kembali main ponselnya.


Berlin cukup kepo dengan yang dilihat oleh kaisar, matanya bergeliar melihat ponsel Kaisar.


"Wihh!!! Banyak bat tu cewek ngechet, setidaknya jawablah!" Ucap Berlin yang melihat ponsel Kaisar.


"Aku gak nyuruh kamu melihat ponsel aku, sekarang kamu pergi beliin aku air dan makanan, nih duitnya!" Kaisar memberikan uang kepada Berlin tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya.

__ADS_1


"Oke! air apa yang kakak mau?" Tanya Berlin yang tak ingin salah lagi dalam memberikan minuman pada Kaisar.


Berlin memberikan kipas mini pada Kaisar


"Kiranti dan makanan nya beli sandwich dua!" Ucap Kaisar.


Berlin hanya mengangguk dan berjalan meninggalkan Kaisar dikelas. Berlin berjalan santai menuju kantin, ia tidak tau bahwa dari tadi Celsi memantau pergerakannya.


Hap...


Celsi langsung menarik lengan Berlin dengan cukup kasar, namun hal itu tidak membuat Berlin kesakitan.


"Udah aku bilang jangan berhubungan dengan kakak kelas, apalagi kak Kaisar itu sangatlah dingin dan playboy!" Ucap Celsi dengan wajah yang gusar.


"Aku hanya ingin menyelesaikan masalah!" Ucap Berlin dengan mata yang sayu.


"Masalah apa sampek kamu ngelakuin ini, kamu belum makan Berlin!" Kesal Celsi.


"Aku udah makan kok tadi pagi, masih kenyang lagi!" Ucap Berlin dengan tubuh yang sedikit bergetar.


"Sekarang aku mau ngomong sama kaisar itu, dia itu kalo cari masalah sama orang yang tepat, bukan sama kamu!" Kesal Celsi yang langsung berjalan kearah kelas Kaisar.


Namun Berlin menahan tangan Celsi dan menggeleng, mengatakan jangan lakukan hal itu.


"Aku baik-baik saja, ini cuman 3 bulan kok!" Ucap Berlin dengan mengangguk lemas meminta persetujuan Celsi.


Celsi hanya dapat menghela nafas panjang, ia tak habis pikir dengan sahabatnya itu yang selalu mau saja ditindas orang.


"Baiklah, tapi kamu harus ngomong sama aku kakamu tu orang macam-macam sama kamu!" Ucap Celsi pada Berlin.


Berlin hanya mengangguk dan tersenyum sangat lebar tetapi Celsi tau bahwa itu adalah senyum yang sangat menyakitkan.


"Yaudah aku pergi dulu ya, keburu tu orang marah sama aku!" Ucap Berlin meminta Izin dan Celsi pun hanya mengangguk dan tersenyum.


Berlin bergegas pergi dengan sedikit berlari meninggalkan Celsi, ia tak ingin terkena marah karena lelet membawakan makanan untuk Kaisar.


Tak berselang lama Berlin pun datang dengan dua sandwich dan sebotol kiranti.


"Ini kak!" Berlin memberikan semua yang diinginkan Kaisar.


"Ambil satu tu sandwich!" Ucap Kaisar mengambil satu sandwich dari tangan Berlin.


"Aku sudah kenyang kak!" Ucap Berlin.


"Makan kata aku ya makan, jangan terus nolak!" Kesal Kaisar memakan sandwich dengan kasar.

__ADS_1


"Ba-baik kak!" Ucap ketakutan Berlin.


Perlahan Berlin memasukkan sandwich itu kedalam mulutnya, meski perutnya sedikit lapar karena hanya memakan nasi goreng yang dibuat ibunya saja tadi pagi.


"Mana air!" Minta Kaisar dengan tangan yang meminta.


Berlin pun memberikan kiranti yang diminta Kaisar.


"Duduk makan, aku gak akan makan orang!" Ketus Kaisar.


beberapa siswa pun masuk kedalam kelas, mereka sempat terkejut melihat pemandangan antar keduanya.


"Pergilah, nanti pulang sekolah temui aku!" Ucap Kaisar pada Berlin.


Berlin pun mengangguk dan dengan segera berlari meninggalkan kelas Kaisar.


Berlin berjalan cepat, ia tidak ingin terlambat lagi untuk masuk kelasnya.


"Si culun tu, enak ya terus-terusan deketin kaisar, gatel banget apa!" Ucap Fanya dengan sinisnya.


Jesica menghalangi jalan Berlin, ia sedikit mendorong bahu Berlin sehingga Berlin beberapa kali terdorong ke belakang


"Aku ada banyak teman cowok, kamu mau berapa aku berikan, dengan satu syarat kamu jauh-jauh dari Kaisar atau kalo perlu pindah sekolah" Ucap Jesica dengan langsung mendorong kuat Berlin hingga terjatuh.


"Wajah pas-pasan sok ingin deketin kakak kelas!" Sindir Diana dengan gaya angkuhnya.


"Oh ini yang kau bilang deket-deket sama kakak aku, heh dasar murahan!" Sindir Angel yang merupakan adiknya Kaisar.


Angel menatap dengan penuh rendah kearah Berlin, seakan Berlin pun tidak layak menjadi seorang debu pun.


"Kalian salah mengira, jika kalian ingin menggantikan posisi aku, maka aku akan sangat berterimakasih!" Ucap Berlin dengan bangkit dari duduknya.


Berlin menatap tajam kearah orang itu, ia harus memberanikan dirinya untuk melawan.


"Heh, si culun pengen ngelawan tu!" Ujar sinis Fanya.


Angel pun mendorong dengan kuat Berlin, hingga Berlin kembali terduduk dan kali ini sangatlah sakit.


Berlin meringis kesakitan merasakan pinggulnya yang sangat sakit, air matanya perlahan keluar meski sudah berusaha ia tahan.


Tiba-tiba Celsi datang dengan langsung mendorong Angel, sehingga Angel pun juga menimpah tubuh Jesica.


"Awww.... sial!" Ringis Jesica.


"Kurang ajar!" Bentak Angel.

__ADS_1


__ADS_2