
...đ READING BOOK đ...
"Kau bisa pergi!"
Tiga kata yang terucap oleh bibir Berlin, Kaisar langsung menatap tajam kearah Berlin yang berani mengusirnya dengan begitu saja.
"Kau mengusirku!" Sentak Kaisar.
"Hmm...maaf kak dan ku harap kita tak pernah lagi saling kenal!" Ujar Berlin dengan menunduk takut.
"Ck...tak semudah itu, kau masih ada sebulan lagi sesuai perjanjian!" Ujar Kaisar dengan wajah jengkel.
"Aku tidak berpikir lagi dengan perjanjian itu, sekarang aku ingin kita menjauh dan tak ada keterikatan seperti dahulu!" Ujar Berlin dengan suara tegasnya.
"Kau disini hanya seorang bawahan jadi jangan membantah ku!" Geram Kaisar yang menggenggam tangan Berlin dengan kuat.
"Tsss...kak lepas!" Ringis Berlin dengan air mata yang mulai terjatuh.
"Begitu lemah, kau pikir kau siapa berani membantahku!" Sinis Kaisar yang mengangkat dagu Berlin.
Sungguh kesal rasanya mendengar gadis yang dihadapannya itu berkata seperti itu, ia pikir selama ini gadis itu akan tetap patuh dan tak pernah membantahnya, tapi apa tiga kata itu membuat hatinya sedikit sakit dan terselubung emosi. Entahlah ia tak tau pasti dengan perasaannya, tapi ia masih menikmati Berlin sebagai mainannya saat ini.
"Iya aku terlalu lemah, jadi bisa kah kakak melepaskan ku!" Kini Berlin memberanikan dirinya menatap tajam pada Kaisar.
Ntah perasaannya atau tidak, tapi Kaisar saat ini seperti sangat berbeda dari biasanya, yang biasanya bersikap cuek acuh dan suka memerintah, kini malah seperti begitu emosi terhadapnya.
__ADS_1
"Tidak akan, selama masa perjanjian belum usai maka jangan harap kau lepas Berlin!" Bentak Kaisar yang langsung menghempas dagu Berlin dan langsung keluar UKS dengan pintu yang di tutup dengan kuat.
"Astaghfirullah!" Terkejut Berlin.
Padahal kan hanya tinggal beberapa Minggu lagi, tapi kenapa kaisar begitu mempersulit nya. Ayolah itu adalah perjanjian bodoh, pemuda itu juga termasuk membulyy nya dengan perjanjian itu.
Ceklek
Pintu kembali terbuka oleh seseorang dengan tergesa-gesa, tampak Celsi dengan wajah khawatirnya menghampiri Berlin yang begitu kacau.
"Diapain sama Jessica dkk?" Tanya nya sambil memutar-mutar tubuh Berlin.
"Hanya dibuat basah!" Jawab singkat Berlin dan langsung memeluk tubuh Celsi.
"Kenapa?" Tanya nya yang menerima pelukan Berlin dengna tubuh yang gemetar.
"Hah...kenapa?" Tanya Celsi yang begitu tak paham dengan keadaan saat ini.
"Aku tak ingin selalu di-bully, aku begitu tersiksa dengan semua masalah ini!" Ucap Berlin dengan tangis sesegukan.
"Oke, tapi setelah kita kalahin tu geng Jessica dengan dance kita baru kita pindah sekolah horor ini!" Ujar Celsi dengan wajah yang tersenyum.
"Baiklah, apa nanti kita latihan?" Tanya Berlin dengan wajah yang kembali seperti semula.
"Iya dong, tapi enggak di lapangan itu deh tapi di taman kota aja!" Ujar Celsi.
__ADS_1
"Eh enggak deh, dilapangan yang kemaren aja kalo ditaman kota ntar malah diketawain!" Ucap Berlin menolak.
"Mereka ingin mengamen, jadi kita sekalian belajar aja disana!" Ucap Celsi yang memberikan pengertian.
"Baiklah, yaudah deh!" Jawab Berlin pasrah
...----------------...
Kini di dalam kelas, Kaisar langsung menendang pintu dengan sangat kuat dan duduk di bangkunya dengan wajah yang memerah. Semua orang menatap bingung dengan mood Kaisar yang begitu buruk, ada rasa takut yang menjalar dihati mereka masing-masing karena kaisar pernah sekali sangat marah dan berakhir dua orang siswa terkapar di rumah sakit dengan keadaan yang cukup mengenaskan.
Farrel, Ridwan, Hendra, dan juga Rayhan menatap aneh pada Kaisar. Mereka yakin bahwa teman nya itu kesal nya ada berhubungan dengan cewek culun yang tak mereka ketahui namanya itu.
"Nih anak dateng-dateng kayak orang kesetanan!" Sindir Hendra dengan mengelus dadanya.
"Napa si kai, kenapa tu wajah kayak jemuran lembab!" Tanya Ridwan yang langsung mendapat tatapan tajam dari Kaisar.
"Cariin aku pelampiasan!" Ucap dingin dan datar Kaisar.
"Oke!" Jawab Hendra yang langsung bangkit.
Hendra pun berjalan keluar dan diikuti oleh Ridwan, mereka ingin mencari mangsa untuk Kaisar yang emosi saat ini, hmm... sepertinya begitu, maka jangan membuat seorang Kaisar emosi, kalo tidak kalian akan habis.
Kaisar begitu tidak sabaran, ia pun terus merasa geram hingga akhirnya ia langsung meninju meja dan membuat lobangan besar ditengahnya.
"Astaga!" Terkejut mereka semua.
__ADS_1
Terlihat kaisar makin geram dan langsung pergi meninggalkan kelasnya dengan wajah yang emosional. Teman-teman nya terus berteriak, hingga akhirnya mereka membiarkan Kaisar pergi begitu saja.