Benci Menjadi Cinta

Benci Menjadi Cinta
Bab 61


__ADS_3

...🍃 READING BOOK 🍃...


Kini Berlin sudah berpakaian rapi, ia akan pergi bersama dengan Celsi meski tak tau tujuan mereka sebenarnya. Kini ia sedang menunggu di depan pintunya dan ia juga sudah mengabari sang ibu dari pesan chet.


Sekitar 15 menit lamanya, akhirnya Celsi pun datang dengan motor besarnya. Senyum Berlin berkembang dan langsung bangkit menunggu Celsi menghampiri dirinya.


"Wihh...bestiku cantik juga ya kalo dandan!" Goda Celsi yang hanya menaikkan kaca helm nya saja.


"Apaan sih, cuman pakek ginian doang!" Sungut Berlin namun dengan wajah yang sedikit salah tingkah.


"Benarkah, mana harum banget nih...hmmm...kayak mau cari pawang!" Goda Celsi dengan menghendus-hendus.


"Bodo ah, mending masuk lagi!" Kesal Berlin yang berjalan masuk.


"Eh eh...canda mbak, serius amat tu muka!" Ujar Celsi dengan cengir kuda nya itu.


Berlin mendengus kesal, ia pun naik keatas motor Celsi yang tinggi itu. Cukup susah namun tangan Celsi telah siap untuk membantu dirinya.


Hap Akhirnya Berlin pun bisa naik motor Celsi, Celsi pun segera melajukan motornya meninggalkan per-karangan rumah Berlin.


Motor melaju dengan kecepatan sedang, Berlin menikmati berada diatas motor, matanya bergeliar melihat sekitarnya dan sesekali menghirup udara dalam-dalam menikmati udara saat dimotor.


Celsi sesekali melirik di kaca spionnya, ia terkekeh kecil melihat tingkah Berlin seperti anak kecil yang antusias jalan-jalan.


Motor pun berbelok pada sebuah gang dan akhirnya berhenti pada kedai kopi yang ramai dengan beberapa orang. Mereka semua menyapa Celsi yang baru saja sampai, Berlin tetap diam ia langsung menunduk takut karena memang ada beberapa diantara mereka berwajah seram.


"Jangan takut ah, kalo mereka natap kamu kayak gitu lagi bar aku aja yang lawan!" Ujar Celsi menenangkan seakan tau tatapan ketakutan Berlin saat ini.


"Ngapain kesini cel!" Bisik Berlin dengan sesekali menarik-narik tangan Celsi.


"Latihan dance, udah ah yok kesana!" Jawab Celsi yang menarik Berlin untuk mengikuti nya.


"Hay gaes...mana Refan!" Sapa Celsi dengan tangan yang melambai.


"Hay princes!" Sapa balik mereka dengan mengangkat tangannya.


"Refan di belakang deh kayaknya, lagi tidur noh!" Jawab salah satu dari anak jalanan itu.


"Oke deh makasih!" Ucap Celsi yang langsung menarik Berlin untuk mengikuti nya.


Berlin hanya dapat menghela nafas panjang, ia mengikuti saja kemauan sahabatnya itu dari pada ntar ia malah ditinggal ditempat tempat banyak orang yang seram kayak tadi.


Mereka berdua memasuki lorong yang cukup luas hingga akhirnya pun masuk kedalam sebuah tempat yang penuh dengan sampah organik.


Plak...


Celyn malah menampol lengan Refan yang sedang tidur di bangku panjang itu. Seketika orang yang mendapatkan serangan langsung terlonjak kaget dan bangkit dari tidurnya.

__ADS_1


"Anak as*" Terkejutnya yang langsung menatap sekitar.


Indra penglihatan nya langsung melihat Celsi yang nyengir dan bersama dengan gadis manis yang melihat-lihat sekitar.


"Celsi ah nih anak enggak bisa bangunin itu baek-baek!" Dengus Refan.


"Enggak bisa tu, gimana dong!" Ujar Celsi dengan tangan yang bersidekap didada.


"Yaelah, btw siapa tu yang disamping!" Ujar Refan dengan menunjuk kearah Berlin.


Berlin yang merasa bahwa ia sedang dibicarakan langsung menatap pemuda yang terus menatapnya.


"Berlin, dia temen ku jadi jangan macem-macem untuk suka!" Ledek Celsi dan membuat Refan mendengus kesal.


"Iya-iya ah takut banget jadi orang, ngapain kesini?" Ujar Refan.


"Ngajak kawin!" Ngasal Celsi.


"Gas!" Ujar Refan yang begitu semangat.


"Eh...enak aja main gas-gas, ntar makan ku pakek apa!" Ujar Celsi.


"Pakek batu dengan kayu!" Ujar Refan yang menggunakan nada seperti animasi Upin Ipin.


"Ogah...Udah ah serius, kesini kita berdua mau minta ajarin dance, kan sudah aku bilang tadi!" Ujar Celsi dan Refan hanya mengangguk.


Celsi pun langsung bangkit, ia melihat wajah Berlin yang bingung seakan bertanya-tanya dengan keadaan saat ini, Celsi melayangkan senyumnya seakan memberikan ketenangan bahwa akan baik-baik saja.


Sedangkan dipikiran Berlin saat ini adalah, kenapa Celsi bisa berteman dengan orang-orang seperti ini, padahal yang ia tau bahwa Celsi anak yang jauh dari kata nakal, meski ada sesekali suka iseng.


Bahkan Berlin baru pertama kali berhadapan langsung dengan para anak jalanan, sedangkan dirinya adalah gadis sejati stay home dan hanya tau pergi kesekolah saja.


Mereka pun kembali ke tempat yang pertama kali mereka jumpai, mereka semua kembali menyapa mereka bertiga dan bahkan ada beberapa diantara mereka menanyakan tentang dirinya yang memang hanya diam saja.


"Itu anak gadis siapa yang disebelah princes?" Tanya Tier yang baru saja keluar dengan membawa segelas kopi ditangannya.


"Teman ku, nama nya Berlin!" Jawab Celsi memperkenalkan.


"Ternyata Berlin, manis banget anak nya!" Batin Refan yang terus menatap Berlin tanpa kedip.


"Ohh Berlin, eh sayang kenalin nama ku Tier, cowok paling ganteng dan eksotis disini!" Ujar Tier memperkenalkan yang sudah siap dengan juluran tangannya


Berlin dengan ragu menjulurkan tangannya, "Berlin!" Jawab Berlin singkat.


"Eh manis banget suara nya, udah ah jangan bikin abang klepek-klepek deh!" Ujar Tier yang dramatis.


"Eh kenalin nama ku Yeldi, cowok paling kece deh disini!" Ucap Yeldi yang langsung mendorong Tier menjauh dari hadapan Berlin.

__ADS_1


"Berlin!" Jawab Berlin lagi.


"Beta jangan sekate-kate, bukankah sa lebih dulu!" Ujar Tier yang kembali mendorong tubuh Yeldi.


"Aku edin!" Sambung kembali pemuda yang wajahnya cukup tampan sama seperti Refan.


"Ewan!"


"Pegi!"


"Rusdi!"


"Tresno!"


"Porde!"


"Feri!"


"Noel!"


"Refan!" Terakhir Refan memperkenalkan diri setelah mengambil kopi dari dalam kedai.


"Bapak pakcik mamat!" Sambung pakcik Mamat yang keluar dengan senyumnya.


"Berlin!" Ujar Berlin memperkenalkan dan sedikit melambaikan tangannya.


"Udah-udah... Sahabat ku jangan di goda, jadi sekarang aku mau cepat-cepat deh!" Ujar Celsi yang sudah memotong acara perkenalan-perkenalan itu.


"Yaelah cel, gini amat dah sekali-kali kan deketin temannya agar lebih nyaman berteman ama kita!" Ujar Tresno dengan wajah yang sedikit ditekuk.


"Oh tidak, besti ku adalah orang gadis perawan stay halal home!" Ujar Celsi yang membantah.


"Iya deh iya...Kita mah biarin aja apa yang dibilang princes kita!" Ujar Yeldi.


"Eh jadi enggak, lama amat ntar nih anak dicariin emaknya!" Ujar Celsi dengan tangan yang sudah di pinggang.


"Ngapain?" Tanya Tier yang seakan melupakan permintaan Celsi tadi.


"Tak gibeng deh lama-lama!" Kesal Celsi dengan tangan yang siap melayang.


"Eh santai-santai, ayolah aku hanya bercanda!" Ujar Tier yang sedikit mendorong tangan Celsi untuk menjauh.


"Yok sekarang didepan ini aja deh belajarnya!" Ujar Refan yang langsung bangkit.


Refan, Tier, Yeldi, Tresno, dan juga pegi pun bangkit untuk ikut mengajar kan Celsi dan Berlin dance. Dengan senantiasa mereka akan membantu princess nya anak jalanan karena Celsi lah penolong mereka.


Celsi dan Berlin mengikut saja, mereka berada di jarak cukup jauh untuk memperhatikan, disana Refan dkk sudah bersiap dengan posisinya.

__ADS_1


__ADS_2