
...🍃 READING BOOK 🍃...
"Dari mana saja sih ber, bikin panik aja!" Ucap Celsi yang langsung mencekram lengan Berlin dengan kuat.
Berlin sedikit terkejut, dirinya pikir orang yang mencekram nya itu adalah komplotan Jessica.
"Ah itu aku ke toilet tadi, perutku rasanya kurang nyaman!" Jawab Berlin yang berusaha menutupi kebenaran nya.
Celsi menatap intens, ia kurang percaya dari gelagat sahabatnya itu. "Seriusan, yaudah ah balik yok kekelas!" Ucap Celsi sambil menarik Berlin.
Berlin hanya nurut saja, ia sedikit berlari saat Celsi terus menariknya. selain tinggi badan Celsi yang melebihi Berlin gadis itu melangkah dengan langkah lebar dan cepat membuat Berlin sedikit kewalahan.
Sesampainya di kelas membuat Celsi berdecak kesal, kini pintu kelasnya sudah tertutup dan hanya menyisakan sedikit merenggang. Terlihat semua teman kelasnya fokus pada arah depan meski sebagian masih ada yang mengobrol.
Tok...tok
Pintu kelas diketuk beberapa kali oleh Celsi dan akhirnya sedikit didorong agar pintu itu terbuka. Terlihat semua orang menatap dirinya dan Berlin yang mengalihkan perhatian.
"Dari mana kalian?" Tanya sang guru dengan mata yang tajam.
"Maaf pak kita tadi ada urusan keruang guru!" Ucap Celsi berbohong meski sepenuhnya tidak karena disini Berlin yang pergi keruang guru.
"Oh yaudah, masuklah!" Guru itu pun mengizinkan.
Celsi dan Berlin pun berjalan masuk kekelas, genggaman tangan Celsi pada Berlin tidak terlepas hingga mereka sampai di bangkunya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jam istirahat pun akhirnya berbunyi, membuat semua murid bersorak senang, diantara mereka ada yang berlari dan ada juga berjalan santai.
"Kantin nggak?" Tanya Celsi dan Berlin langsung menggelengkan kepalanya.
Celsi menautkan alisnya, "Kenapa?" Tanya kembali.
"Enggak selera, kamu kalo mau kekantin pergi aja nggak papa kok!" Ucap Berlin menjawab apa adanya.
"Yaudah, kamu disini aja oke!" Ucap Celsi dan Berlin hanya mengangguk.
Celsi merasa aneh dengan sahabatnya itu, kini gadis itu tak ada semangat seperti sebelumnya. Kini seakan semangat gadis itu sudah hilang sejak ia menemukannya di koridor sekolah itu.
30 menit lamanya Celsi pun datang dengan kantong plastik. Ia meletakkan didepan Berlin yang menatapnya bingung.
"Makan ini!" Ucap Celsi yang menyodorkan sebuah sandwich.
__ADS_1
"Enggak ah!" Tolak Berlin dan hal itu mendapatkan tatapan tajam dari Celsi.
Dengan terpaksa Berlin mengambil sandwich itu dan perlahan menggigit nya. "Enak bukan, cepet habisin bentar lagi masuk!" Ucap Celsi yang tersenyum manis.
Berlin hanya mengangguk, ia sungguh tak ingin membantah sahabatnya itu. Sikap Celsi kini lebih dominan tak ingin mendengar kan apa yang diucapkannya, Celsi lebih memilih memaksa Berlin contohnya seperti ini.
"Kenapa?" Tanya Celsi saat melihat Berlin menghela nafas panjang. Berlin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Serah deh, kalo sahabat sudah ada rahasia berarti nggak menganggap sahabat lagi dong!" Sindir Celsi sambil menggigit sandwich itu dengan besar.
"Ah bukan itu Celsi, aku hanya takut lihat mata mu itu doang kok!" Ucap Berlin bersikap dengan polosnya.
"Lah Napa mataku!" Celsi malah mempertanyakan nya, padahal gadis itu sendiri yang sengaja melakukannya.
"Kayak setan mau makan orang!" Jawab Berlin dengan tawanya.
Celsi ikut tertawa, ia tau bahwa sahabatnya itu sedang menutupi sesuatu jadi ia melakukan apapun yang membuat Berlin setidaknya sedikit tertawa.
Beberapa siswa/i pun masuk kekelas, terlihat mereka memperhatikan interaksi Celsi dan Berlin yang selalu membuat beberapa orang iri karena kekuatan persahabatan mereka.
"Nih minumannya, ntar keselek lagi!" Ucap Celsi menyodorkan minuman isotonik Ion.
"Makasih Celsi ku tersayang!" Ucap manja Berlin.
"Serah deh!" Ngambek Berlin dengan bersidekap didada.
"Ululululu...!" Ejek Celsi dengan memainkan pipi Berlin yang memang sedikit tembem itu.
"Celsi!!" Pekik Berlin dan Celsi hanya tertawa saja.
...****************...
Ditempat lain, dimana Kaisar menatap di kaca kantin, ia sedikit tersenyum tipis, ia begitu merasa bahagia ketika melihat gadis yang beberapa hari ini mengusik hatinya tertawa.
"Manis juga!" Gumamnya yang terus menatap kearah jendela.
"Eh kesambet apa nih orang gaes, kayaknya tadi lihat senyumnya itu!" Ledek Hendra yang memang kebetulan melihat senyum Kaisar.
"Seriusan ndra, eh berarti aku ketinggalan fenomena dong!"Ucap Farrel yang berpura-pura sedih.
"Apaan sih yang dilihat ampek gitu amat dah!" Hendra mulai kepo, ia pun mulai menajamkan matanya kearah mata Kaisar berada.
"Cabut ah!" Ucap Kaisar yang langsung menarik Hendra begitu saja.
__ADS_1
Lelaki itu cukup malu jika ketahuan lagi memperhatikan adek kelasnya dan terlebih ini seorang Berlin yang cupu. Mau diletakkan kemana mukanya, padahal ada begitu banyak cewek yang mau samanya.
"Eh bentar kai, main narik-narik aja nih orang!" Kesal Hendra yang sedikit kesusahan karena kaisar menarik nya dari belakang.
"Hahaha...cocok deh kau jadi peliharaan si Kaisar, eh gue kasih selamet deh kan enak kalo dipelihara Kaisar makan enak terus deh kamu ndra!" Ledek Farrel dengan tawa nya yang receh.
"Anjir, lebih baik ngabisin uang orang tua lagi dari pada jadi peliharaan nih orang, belum juga jadi peliharaan udah narik-narik kasar banget lagi!" Ucap Hendra yang berusaha melepaskan kerah bajunya yang ditarik Kaisar.
"Berarti kau mau jadi peliharaan Kaisar...hahaha... kalau aku sih tak mau!" Ledek Farrel yang tertawanya semakin pecah.
Plak...
Rayhan malah menggeplak kepala Farrel, pemuda itu cukup terusik dengan tawa Farrel yang begitu recehnya.
"Sakit anjir, ini difitrakan ya!" Ucap Farrel.
"Eh bentar, kok aku rada Lola ya! Btw agama mu apa rel?" Tanya Hendra yang kini tak mempermasalahkan kerah bajunya yang dipegang Kaisar.
Kaisar melepas kerah baju Hendra, ia cukup malas untuk kembali menarik Hendra yang merupakan tengkorak hidup itu, bahkan untuk pipi saja tak memiliki daging.
"Kamu nanyeak!" Ucap Farrel dengan sedikit membungkuk dan kedua tangan yang menunjuk kearah Hendra secara spontan.
Plak
Sekali lagi Rayhan menggeplak kepala Farrel yang membaut sang empunya menjadi semakin kesal dengan ulah Rayhan.
"Sakit goblok, nih anak diem-diem tapi menghanyutkan anjir!" Umpat Farrel dengan mengelus kepala nya.
"Eh Farrel kacang mahal tau!" Sindir Hendra karena pertanyaan cowok itu tak dijawab dan malah diledek.
"Hehehe... sorry Hendra ku sayang, agama ku tu Islam jadi yang namanya Fitra itu memang merupakan kewajiban orang tua tiap tahun untuk menafkahi anaknya secara batin!" Ucap Farrel menjelaskan.
"Ohh...jadi begitu, terus susah nggak beragama islam?" Tanya Hendra yang memang sedikit kepo.
"Yaelah ngapain nanya-nanya, mau masuk Islam apa!" Ucap Farrel yang kembali lagi membuat Rayhan ingin menampol kepalanya tapi dengan sigap Farrel langsung menghindar.
"Hahaha...rasain emang enak, Rayhan itu sebenarnya diam bukan berarti dia cool gaes tapi sebenarnya dia tu lagi memendam sifat emak-emak nya" Ledek Hendra dengan tertawa lepas.
"Diem!" Rayhan langsung berucap dengan datar.
Lelaki itu cukup kesal dengan ulah dua sahabatnya itu yang begitu receh, apa-apa dibahas bahkan dari masalah si Kaisar yang tersenyum saja sampai ke agama dan sekarang merembes ke dirinya.
"Galak bener neng!" Ledek Hendra. "Tapi serius rel, kalo masuk agama Islam itu repot nggak?" Tanya Hendra yang masih kepo dengan pembahasannya tadi.
__ADS_1
"Enggak kok, cukup mengucapkan kalimat syahadat maka kamu sudah masuk islam!" Ucap Farrel dengan santai sambil menyeruput jusnya yang masih tersisa.