Benci Menjadi Cinta

Benci Menjadi Cinta
Bab 25


__ADS_3

...🍃 READING BOOK 🍃...


Kini hari sudah menjelang sore, Celsi berpamitan untuk kembali pulang.


"Eh udah sore, yaudah Celsi pamit pulang dulu ya om tan!" Ucap Celsi yang menatap keluar jendela.


"Iya juga, yaudah kamu hati-hati ya sayang!" Ucap Tami dengan tersenyum lembut.


Celsi pun bangkit dari duduknya, ia menjulurkan tangan untuk menyalami Tami dan juga Yudha.


"Yaudah, aku pulang ya ber! Oh iya besok nggak usah sekolah, biar aku aja yang kasih surat izin!"Ucap Celsi yang memperingati Berlin.


"Itu... sepertinya aku sekolah aja deh, soalnya besok kan ada ulangan!" Tolak Berlin karena ia sungguh tak ingin tertinggal pelajaran, apalagi saat ini Kaisar memberikan bukunya pada dirinya.


"Udah tenang aja, kan bisa ulangan susulan dan biar aku yang minta izin!" Ujar Celsi yang tetap menginginkan sahabatnya tetap cuti sekolah.


"Ayolah, bukankah aku sudah sembuh, apalagi kan ada sahabat ku yang paling cantik ini untuk jagain!" Bujuk Berlin dengan mencubit gemas pipi Celsi.


"Sudah ah, serah tapi aku sarankan untuk tidak sekolah dulu karena bintik-bintik di wajah dan tubuhmu belum sepenuhnya hilang!" Ujar Celsi menatap wajah Berlin dengan lekat.


"Tenang ah, ini mah cuman bintik-bintik biasa!" Ujar Berlin menenangkan dan Celsi hanya mengangguk.


"Yaudah Celsi pamit dulu ya, soalnya sudah sore!" Ucap Celsi dengan sedikit menundukkan kepalanya.


"Hati-hati!" Tami menghampiri Celsi dan sedikit mengacak rambut Celsi.


"Asiap!!!" Celsi malah memberi hormat dan langsung pergi.


Namun saat diambang pintu ia pun berhenti "Shaloom!"


"Wa'alaikumsalam!" Jawab mereka secara serentak.


Bagaimana pun toleransi perbedaan agama sangatlah baik untuk mempererat hubungan, terlebih Celsi yang juga sudah dianggap keluarga.


Mereka semua menghantarkan Celsi sampai gadis itu memasuki mobilnya dan berlalu meninggalkan rumah Berlin. Akhirnya mereka pun masuk kedalam rumah kembali untuk menikmati siara TV.


...----------------...


Kini Celsi berada di perjalanan pulang, dimana jarak antara rumahnya dan rumah Berlin membutuhkan waktu 30 menit dengan kelajuan rata-rata 21km/ jam.


Ia menikmati musik yang ia hidupkan di mobilnya, lagu itu merupakan lagu favoritnya yang di nyanyikan oleh Agnes Monica.

__ADS_1


Ia menikmatinya dengan sedikit menggoyangkan tubuhnya, sampai tanpa sadar ia pun sampai dirumahnya yang membuat ia kembali memasang wajah datarnya.


"Haish kembali lagi!" Ngeluhnya dan berlalu keluar dari mobil yang sudah diparkirkan di pelantaran depan rumah.


Ceklek...


Pintu perlahan Celsi buka, ia berjalan dengan santai memasuki rumah.


"Pergi dan pulang sesuka hati, bahkan dengan angkuhnya berjalan dengan santai!" Sindir seseorang yang berada di ruang tengah.


Celsi tetap diam, ia tidak peduli dengan ucapan dari kakaknya itu. Ia berjalan melewati Cinta begitu saja, menaiki tangga tanpa menghiraukan tatapan Cinta yang tajam.


"Apa kau dengar hah...Bahkan sopan santun mu saja tak kau pakai pada kakak mu!" Bentak Cinta yang merasa geram karena diacuhkan Celsi.


"Berhentilah bersikap berkuasa, aku cukup muak dengan sikapmu!" Ujar Celsi dan langsung pergi begitu saja meninggalkan Cinta yang terus mengomel atau mengumpat dirinya.


Kini Celsi berada didalam kamarnya, ia menghela nafas panjang dengan tubuh yang sudah direbahkan di kasurnya.


"Minggu besok aku sembayang, sepertinya Yesus begitu marah padaku karena menjalankan perintahnya saja tak aku kerjakan!" Gumamnya saat menyadari bahwa ia tak melakukan sembayang hari ini karena kelelahan.


Celsi pun bangkit dari tidurnya, ia berjalan menuju lemari mengambil handuk, lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya yang cukup lepek.


...****************...


Terlihat Berlin begitu fokus dengan bukunya, ia membaca sekalian menghapal isi dari buku itu.


"Sepertinya sudah selesai!" Berlin pun menutup bukunya, ia berjalan pada kaca kecil persegi empat dan menatap wajahnya.


"Udah jelek, eh malah ditambah jelek karena bintik-bintik ini!" Gumamnya melihat wajahnya yang penuh dengan bintik-bintik merah.


Berlin pun meletakkan kaca di meja kecil, lalu ia berjalan kekasurnya kembali untuk tidur karena entah kenapa ia merasakan ngantuk berat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di kediaman keluarga Aldebaran.


Di pagi yang cerah ini, seorang pria yang masih enggan untuk menyambut paginya dengan membuka mata. Ia menelusupkan wajahnya bantal menghindari cahaya matahari memasuki sela-sela kamarnya.


Sreekkk... Sreekkk


Gorden kamar dibuka dengan lebar, sehingga membuat cahaya matahari sepenuhnya memasuki ruangan dingin itu.

__ADS_1


"Silau, tolonglah tutup kembali!" Mohon Kaisar yang malah lebih menelusupkan wajahnya dibantal.


"Sudah siang, bukankah kau lihat matahari tersenyum begitu indah!" Ujar Desi menarik selimut Kaisar.


"Ah ayolah ma, 10 menit lagi maka aku akan bangun!" Mohonnya lagi, namun hal itu tak di gubris oleh Desi.


Wanita itu malah menarik bantal sang anak, agar segera bangun dari tidurnya.


"Please ma, give me time to collect lives!" Ucapnya yang menarik kembali bantal dari tangan Celsi.


"Tidak ada, sekarang coba kali lihat jam didinding!" Desi kembali menarik bantal yang menutupi wajah Kaisar.


Terlihat kaisar sedikit menahannya, namun akhirnya ia melepaskannya dan menatap kearah jam dinding.


"Masih pagi, hanya matahari begitu saja cepat keluar!" Ujar Kaisar yang menatap kearah jam dinding kamarnya.


Terlihat Kaisar mengumpulkan nyawanya, ia duduk dengan menatap kosong kedepan seakan tak sadar diri. Wajahnya yang tampan saat bangun tidur, membuat dirinya terlihat imut meski dengan rambut yang berantakan.


"Baiklah, mama tunggu 20 menit bersiap-siap dan jika kamu tak keluar juga maka kamu akan mama hukum!" Ancam Desi dan langsung pergi meninggalkan kamar Kaisar.


Kaisar pun dengan malasnya menurunkan kakinya dilantai yang dingin. Berjalan dengan malas menuju kamar mandi dan segera melakukan ritual mandinya.


🍂🍂🍂


20 menit pun telah berlalu.


Kini Kaisar perlahan turun tangga dengan pakaian yang sudah rapi dan tas yang hanya disandang di satu bahu. Rambut yang sedikit acak-acakan namun tetap cocok dengan stel nya.


"Morning all!" Ucap Kaisar menyapa seluruh anggota keluarga.


"Morning!" Jawab secara serentak mereka semua.


"Lama banget sih kak, aku kan jadi duluan karena takut terlambat!" Ucap Angel yang sudah menyelesaikan sarapannya.


"Hmm..." Kaisar hanya berdehem, ia langsung duduk dikursi disamping Angel.


Angel pun pergi dengan membawa tas sekolahnya, sedikit membungkuk sebagai pamitan pada sang mama.


Kaisar mengambil roti dan mengasih selai nanas yang cukup ia suka. Memakan dengan cepat dan langsung meneguk susu hangat yang berada di samping piringnya.


"Ma aku udah siap, pergi ya!" Ucap Kaisar yang langsung sedikit berlari keluar menuju Garasi mobil.

__ADS_1


"Anak itu..."Gumam Desi melihat kepergian Kaisar. Desi pun memutuskan untuk pergi kebelakang menuju taman bunga yang ia tanam.


__ADS_2