
...đ READING BOOK đ...
"Lihatlah kau begitu tak diatur, bersikaplah seperti perempuan Celsi!" Bentak Weldan yang begitu geram dengan sikap anaknya itu.
"Aku tau!" Singkat Celsi tanpa takut dengan tatapan tajam sang ayah.
"Bersabarlah sayang, sudahlah nanti saja dibahas!" Ucap Galdis yang berusaha menenangkan Weldan.
"Kamu Kaisar, kenapa kau membiarkan Celsi merokok bukankah kau bisa melarangnya!" Ujar Aldebaran mempersalahkan Kaisar.
"Aku yang memaksa, maaf jika aku membuat masalah disini!" Ucap Celsi yang berjalan pergi keluar ingin meninggalkan kumpulan keluarga itu.
"Mau kemana kamu, tetap disini atau kau akan papa hukum!" Teriak Weldan yang begitu emosi.
Ia seorang ayah, begitu tidak menginginkan anak nya tersesat seperti itu apalagi melakukan kenakalan yang begitu ia benci, bahkan ia tidak menggunakan rokok saat ini, kenapa anak gadis nya itu melakukan hal itu.
Dirinya yang memang tak bisa menunjukkan rasa sayang membuat diriku sering kali mengekang nya, namun ku pikir itu adalah merupakan ekspresi kasih sayang.
Dirinya yang begitu mudah berinteraksi dengan Cinta membuat Celsi begitu iri, apakah ada yang terlewat darinya, padahal ia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk bersikap adil, ia begitu menyayangi Celsi namun karena gadis itu begitu bersikap dingin dan tak bisa untuk disentuh membuat ia begitu takut mendekati gadis itu.
"Kamu terlalu kasar padanya mas!" Kesal Galdis.
Ia begitu kesal mengapa saat ini harus terjadi drama keluarga di keluarga Aldebaran. Gadisnya itu begitu sangat keras kepala dan bahkan susah untuk dibilangin.
Sikapnya yang berubah sejak menginjak 13 tahun yang lalu dan begitu dingin terhadap semua orang termasuk dirinya yang merupakan seorang ibu.
"Aku akan pergi menyusulnya ma!" Ucap Cinta yang langsung bangkit.
"Baiklah, temui adek mu mama tak ingin dia terjadi sesuatu karena sekarang sudah malam!" Ucap Galdis lirih, ia cukup cemas dengan Celsi saat ini.
"Baiklah ma!" Ucap Cinta yang langsung pergi.
Sedangkan Kaisar hanya bersikap datar, ia begitu malas untuk ikut campur akan masalah ini, disini ia sudah melarang gadis itu untuk tidak merokok tetapi Celsi lah yang begitu keras kepala tak ingin di bantah.
"Kaisar! kenapa kau tetap diam, susul kedua gadis itu kenapa kau seakan tak ada salah!" Tegur kesal Aldebaran.
Kaisar pun hanya mendengus kesal, ia pun pergi meninggalkan ruang tengah itu dengan hati dongkol.
...****************...
__ADS_1
"Apakah sudah puas membaut ulah!" Sarkas Cinta dengan mata nyalang marah.
"Bukan urusanmu!" Jawab Celsi dengan wajah datarnya.
"Oh ya!"
Plak
Satu tamparan melayang di pipi kanan Celsi begitu keras, membuat sang empu langsung menghadap kesamping.
"Aww...wajahmu begitu keras, kau seorang batu! Kembali lah kedalam aku tak ingin berada begitu lama disini!" Ucap Cinta dengan tangan yang dikibaskan.
Senyum sinis terlihat jelas dari bibirnya, ia begitu membenci adeknya itu dan sekarang ia sudah membalasnya bukan. Oh itu tidaklah puas, ia masih ingin memberikan pelajaran pada gadis yang dihadapannya itu.
"Kurang ajar, kau!" Ucap Celsi yang langsung mengangkat bongkeman tinju nya dan siap untuk mengenai wajah Cinta.
Namun sebelum bongkeman itu tepat melayang diwajah gadis itu, Kaisar sudah lebih dulu menghentikan nya dengan berteriak.
"Begitu kah sikapmu terhadap kakakmu Celsi, kau terlalu kasar!" Bentak Kaisar dengan wajah marah.
Ia sungguh tak menyangka bahwa Celsi begitu kasar dan keras kepala seperti ini, untung saja dirinya menghampiri gadis itu jika tidak mungkin akan terjadi hal seperti pada Jessica dkk.
Cinta menangis sesenggukan didalam pelukan Kaisar, oh no ini seperti drama bukan, dimana harus si korban yang mendapatkan hinaan.
Cinta memegang pipinya yang kebas, ia melihat di layar ponselnya dan untuk wajahnya tak menampakkan jejak tangan sang kakak.
Ia masuk kedalam kediaman Aldebaran dan langsung duduk begitu saja, tak peduli dengan tatapan tajam sang ayah begitu menusuk tapi ia lebih memfokuskan diri pada layar ponsel.
Tak berselang lama Cinta masuk dengan Kaisar berada diperlukannya. Gadis itu sesenggukan dan seakan paling tersakiti.
Celsi hanya berdecih kesal, melihat sekilas wajah yang sok paling lemah dan membuat dirinya merasa mual.
"Kamu kenapa sayang!" Tanya Desi dengan raut wajah cemas.
Cinta tetap diam, namun arah matanya menatap Celsi membuat semua orang mengartikan bahwa itu adalah ulah gadis bar-bar itu.
"Celsi kenapa kakak mu!" Teriak Weldan yang begitu tidak bisa menahan amarah lagi.
"Aku tak melakukan apa-apa!" Jawabnya datar.
__ADS_1
"Coba katakan sama tante kamu kenapa coba?" Tanya Desi sambil mengelus rambut Cinta.
"A-aku enggak apa-apa kok tan!" Ucapnya sambil melirik kearah Celsi.
"Baiklah, jangan menangis lagi oke, lihatlah matamu sembab dan cantik mu akan berkurang!" Ucap Desi dengan tersenyum manis, namun dalam hati ia tidak menyukai anak kedua dari sahabat nya itu dan untung saja kaisar tak jadi menikah dengan gadis itu.
Cih gadis itu berdecih, saat ini ia sungguh melihat drama secara langsung dan bahkan kini ia seakan menjadi seorang gadis psikopat yang membuat seorang gadis lemah menangis.
"Sekarang sudah malam, kita pulang dulu maaf untuk kejadian semua ini dan semoga kalian tak tersinggung!" Ucap Weldan yang ingin mengakhiri pertemuan ini.
Ia cukup malu dengan keadaan saat ini, keluarga begitu kacau dan semua ini dilihat oleh sahabatnya. Lebih baik pertemuan ini di selesaikan setidaknya semua tingkah memalukan ini tidak berlangsung begitu lama.
"Oh yaudah, hati-hati dijalan, ingat kau membawa tiga orang bidadari dalam satu mobil!" Ucap Aldebaran sambil melakukan pelukan persahabatan.
"Tentulah, yaudah makasih atas jamuan makan malamnya ya, maaf jika merepotkan selama kami berada disini!" Ucap Weldan dengan berusaha tersenyum manis.
"Tak masalah, kami senang disini karna kalian mau berkunjung di rumah ini!" Aldebaran.
Pelukan itu pun terurai dan kini Weldan dan yang lainnya saling bersalaman meski dengan Celsi yang hanya bersikap acuh dan tak melakukan apa-apa.
"Yaudah kami pergi dulu!" Ucap Weldan dengan merangkul Galdis.
"Baiklah, kami akan antar kalian kedepan!" Ucap Aldebaran.
Mereka semua pun secara bersamaan berjalan kedepan menuju pintu depan, dalam perjalanan Weldan dan Aldebaran terus berbincang tentang bisnis dan Desi begitu antusias juga berbicara dengan Galdis dan juga Cinta.
"Yaudah kita pergi dulu, sampai ketemu lain waktu!" Ucap Weldan.
Aldebaran hanya melayangkan senyum dan akhirnya mobil Weldan pun pergi menjauh meninggalkan kediaman keluarga Aldebaran.
"Kau memalukan Kaisar!" Sentak Desi dan langsung pergi begitu saja.
Sedangkan didalam mobil yang dikendarai oleh keluarga Weldan, mereka semua diam tak bersuara dengan pikiran masing-masing.
"Hentikan mobil disini pa!" Ucap Celsi.
Weldan menatap kearah kaca depan dengan wajah yang menahan amarah, ia sudah berusaha untuk tidak emosi tapi sang anak begitu tidak bisa diajak kompromi.
"Mau ngapain malam-malam begini berhenti ditengah jalan, apa kau mau jual diri!" Hardik Weldan.
__ADS_1