
...🍃 READING BOOK 🍃...
Weldan menatap kearah kaca depan dengan wajah yang menahan amarah, ia sudah berusaha untuk tidak emosi tapi sang anak begitu tidak bisa diajak kompromi.
"Mau ngapain malam-malam begini berhenti ditengah jalan, apa kau mau jual diri!" Hardik Weldan.
"Aku ada urusan!" Jawab Celsi dengan wajah datarnya.
"Keluarlah keluar, sekalian kau tak usah pulang, aku tak ingin memiliki anak yang begitu tak bisa diatur!" Bentak Weldan dengan mata yang menyalang marah melalui kaca depan.
Celsi tetap diam, ia pun keluar dari mobil sang ayah. Tanpa menunggu Celsi berbalik mobil sang ayah sudah melaju dengan sangat kencang meninggalkan dirinya.
"Huh...!" Ia hanya dapat menghembuskan nafasnya.
Apa ia salah bersifat seperti itu, ia juga ingin dimengerti namun apa, mereka semua tidak ada satu pun menanyakan perasaannya. Apakah hatinya masih bisa mempercayai seseorang sedangkan di keluarga nya saja tidak ada satu pun yang menyayanginya dengan tulus.
"Sister ini motor mu, kenapa wajahmu begitu kusut!" Ucap seorang pria dengan wajah sangarnya.
Pria itu membawa motor milik Celsi yang berada di markas, motor itu adalah hasil dari balapan liar waktu itu meski banyak motor lain yang masih belum terpakai.
"Enggak apa, apakah ada balapan sekarang?" Tanya nya yang mengambil motornya dan pria itu berpindah menaikkan motor yang di bawa oleh temannya.
"Sepertinya tidak ada, kenapa sister apakah kamu lagi ada masalah!" Tanya nya lagi dan Celsi hanya menggelengkan kepalanya.
"Yok ke markas, aku kangen sama mereka semua!" Ucap Celsi yang langsung menjalankan motornya lebih dulu dan diikuti oleh motor satunya.
Ya Celsi masuk dalam salah satu geng motor, sifatnya yang begitu mudah marah kalian pikir dari mana, ya dari sifat yang sudah ditanam saat ia masuk dalam geng motor.
Ia akan bersifat sangat cerewet ketika saat bersama Berlin sahabatnya, ia lebih percaya pada gadis itu meski pada akhirnya pernah merasa kecewa akan ucapan Berlin saat itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kini di dalam sebuah kamar bernuansa putih hitam, Kaisar terbaring dengan menatap langit-langit kamarnya. Ntah apa yang ia pikirkan namun sesekali ia sedikit tersenyum.
Tangannya terus meraba-raba hingga ia tersenggol handphone nya. Ia pun langsung membalikkan tubuhnya dan menarik ponselnya itu untuk mendekat.
"Sepertinya aku harus turunin nih gengsi!" Ujarnya sambil mengetik nama seseorang.
Gadis cupu
Ya itu nama kontak yang diberikan Kaisar pada Berlin, ia mendapatkan nomor Berlin dengan berlagak seandainya ada keperluan.
__ADS_1
Cupu
Ia mengirim pesan dengan panggilan itu, ia menunggu pesan itu dijawab oleh orang yang diseberang sana.
Hmm...kenapa kak
Balas Berlin, hanya itu yang dibalas Berlin tapi apa yang dilakukan Kaisar. Ia langsung duduk dan berteriak dengan gembira.
Hmm...nelpon sebentar
Balas Kaisar lagi, ia menunggu balasan Berlin dari seberang sana. Ia merasa cukup kecewa karena gadis itu sedang online tetapi kenapa balas begitu lama.
Baiklah kak, tapi mau bahas apa Balas Berlin.
Lama bener balesnya, bales siapa sih😠 Balas Kaisar yang merasa kesal.
Eh kan cuman beda satu menit kak Balas Berlin.
Kaisar tetap merasa kesal, kenapa Berlin tak menjawabnya di menit itu, kenapa harus setelah satu menit pesan itu ia kirim.
Tetap saja lama, kamu kalo ada pesan aku itu di jawab cepet Balas Kaisar.
Enggak Balas Kaisar.
Kaisar yang awalnya memiliki mood yang bagus untuk mengirim pesan pada Berlin, namun harus merasa kesal karena gadis itu tak menjawab pesan nya setelah satu menit nganggur.
Oke kak Balas Berlin.
Kaisar semakin kesal, kenapa Berlin tak membujuknya atau apalah, ini malah hanya membalas pesan singkat itu.
Telpon Pesan kaisar yang langsung memencet tombol calling.
Panggilan pun tersambung, Berlin langsung mengangkat panggilan itu takut jika Kaisar marah kepadanya hanya karena terlambat mengangkat.
"Hallo kak!" Sapa Berlin saat panggilan itu disambung.
"Jawab dengan jujur, kenapa pesan aku satu menit di anggurin!" Ucap Kaisar dengan nada yang sedikit kesal.
"Ah itu, aku tak melakukan apa-apa kak, kan cuman satu menit doang!" Jawab Berlin dengan sedikit gelagapan.
"Bodo amat, yang penting itu waktu, kau tau satu menit itu memiliki 60 detik dan kau buang dengan sia-sia" Ketus Kaisar.
__ADS_1
"Ah itu...!" Ujar Berlin yang tak tau harus menjawab apa.
Kaisar begitu overprotektif, padahal hanya satu menit begitu di permasalahkan, bagaimana jika ia tidak membalas satu hari pasti dirinya akan langsung di gantung.
"Apa mau jelasin apa, aku itu dengan berbaik hati mengirim pesan padamu padahal semua cewek selalu duluan yang ngirim pesan padaku!" Ucap Kaisar yang mengomel panjang lebar.
Terlihat dari seberang sana Berlin hanya menghela nafas berat, ayolah dirinya bukanlah seorang kekasih dari Kaisar Aldebaran tetapi ia seakan memiliki hubungan dengan Kaisar.
"Ah anu..."
"Kau itu harus bersyukur, seorang Kaisar yang begitu dikejar sama para gadis kini mengirim pesan padamu, dasar cupu sok cantik, aku begitu baik padamu!" Ujar nya yang masih mengomel seperti seorang emak-emak.
Setelah Kaisar menyelesaikan omelannya itu, kini panggilan tersambung dengan keduanya saling diam seakan larut dalam pikiran masing-masing.
"Ah itu kak, apakah ada pelajaran yang mungkin kakak tak mengerti atau apakah ada sesuatu yang ingin kakak sampaikan, jika tidak ada panggilan ini bisakah di matikan!" Ucap Berlin yang berusaha sehalus mungkin dan berhati-hati dalam berbicara.
"Kau dihukum, sekarang alihkan ini ke Vidiocall!" Tintahnya tanpa ingin dibantah.
Dengan terpaksa Berlin pun melakukannya, ia pun menerima alihan panggilan itu ke Vidiocall dan memperlihatkan langit-langit kamarnya.
"Mana wajahmu Berlin!" Pekik Kaisar yang semakin kesal.
Lihatlah, dirinya ingin melihat wajah gadis itu saat ini tapi apa Berlin malah memperlihatkan langit-langit kamarnya, mana ia sudah berharap untuk melihat wajah gadis itu.
"A-aku melepas kepang rambut aku, aku tak ingin memperlihatkan nya!" Ucap Berlin sedikit gugup.
"Berlin perlihatkan atau sekarang aku akan kerumah mu dan menyelinap ke kamarmu itu!" Ancam Kaisar.
Berlin yang tau ancaman Kaisar yang tak main-main pun, langsung dengan segera memperlihatkan wajahnya yang tak terlihat seperti biasanya.
Kaisar terdiam, ia tertegun melihat wajah Berlin yang begitu berbeda. Satu kata yang ada dalam pikirannya adalah Cantik.
"Kak! Kak kaisar!" Panggil Berlin dengan melambaikan tangan. Pasalnya Kaisar terus terdiam ntah kenapa saat melihat dirinya.
"Ah itu cantik!" Ucapnya dengan wajah yang masih bengong.
"A-apa kak!" Tanya Berlin yang memang tak begitu mendengar apa yang diucapkan Kaisar.
"Ah tak ada!" Ujar Kaisar dengan sedikit gelagapan.
Percakapan mereka pun terus berlangsung hingga kaisar memaksa untuk panggilan itu terus berlangsung hingga pagi hari, meski Berlin sudah beralasan tak memiliki paket yang banyak namun dengan begitu tiba-tiba paket 50 GB masuk kedalam ponsel Berlin.
__ADS_1