
...🍃 READING BOOK 🍃...
Kaisar berjalan dengan santai, ia cukup merasa senang karena hari ini kantin tak begitu ramai sehingga memudahkannya untuk lebih leluasa memesan.
Kaisar berjalan bersama para teman-teman nya yaitu, Hendra, Geo, dan juga Rayhan.
Bukan Raihan ya tapi Rayhan, oke jangan asal dipersamakan ya☺️.
"Kai dengar cerita nggak?" Ucap Geo yang saat itu sedang melihat mading sekolah di ponselnya.
"Hmmm...!"Kaisar hanya berdehem, ia malas untuk merespon gosip temannya itu.
"Ini sepertinya karena kamu deh kai, lihat deh!" Gio menunjukkan sebuah Vidio kearah Kaisar.
Lelaki itu cukup syok karena Celsi yang begitu kejam membuat para gadis itu jatuh dan bahkan sampai pingsan.
"Ini seriusan!" Terkejut Kaisar.
"Ya...lihat deh tu cewek culun yang duduk!" Tunjuk Gio pada layar ponselnya yang menunjukkan Berlin.
"Bahas apa sih!" Hendra langsung merangkul Gio dan ikut nimbrung dalam pembahasan mereka kali ini.
"Nggak usah kepo deh!" Ketus Gio yang merasa bahwa Hendra begitu mengganggu mereka.
"Santay dong bro, bagi napa tu info, masa cuman Kaisar yang dibagi!" Sungut Hendra.
"Lihat deh!" Gio memberikan ponselnya pada Hendra dan diterima langsung oleh Hendra.
Sedangkan Kaisar, ia menatap Berlin dan seorang gadis memasuki ruang UKS dengan Berlin yang sudah sangat kacau seperti pada vidio tadi.
"Apa bener itu karena ku!" Batinnya memikirkan.
Perlahan dengan langkah yang tak diketahui, kaisar malah berjalan memasuki ruang UKS itu.
Terlihat para teman Kaisar bingung arah jalannya, mereka menurut tanpa berniat ingin menegur Kaisar untuk kembali berjalan sesuai dengan tujuan awal mereka.
"K-kak Kaisar!" Terkejut Berlin saat melihat Kaisar berdiri tegak menatap tajam padanya.
Kaisar hanya diam, ia terus menatap lekat seluruh tubuh Berlin yang berantakan dan lepek, bahkan seperti seseorang yang terjatuh dari lobang sampah.
"Ngapain Kai?" Tanya Hendra merangkul bahu Kaisar sambil menatap kearah Berlin.
"Kenapa?" Tanya Rayhan yang membuka suara.
"Eh itu kenapa!" Tunjuk Hendra pura-pura tak tau dengan menghampiri Berlin.
"Ah itu...!" Berlin bingung harus menjawab apa, apa ia harus menjelaskan bahwa ini adalah ulah Jessica Cs yang membuly nya.
__ADS_1
"Balik!" Instruksi Kaisar yang langsung berjalan lebih dulu.
Mereka semua pun langsung berlari mengikuti kaisar.
"Sampai jumpa!" Hendra melambaikan tangan dengan Berlin yang ikut juga membalasnya.
Kaisar berjalan cepat dengan kaki panjangnya, mereka yang berjalan santai mengharuskan berjalan dengan cepat mengikuti langkah kaisar yang cepat.
"Kai, kamu aman!" Tanya Geo menghampiri Kaisar.
"Hmmm...." Dehem Kaisar
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dijam pelajaran, kini Berlin duduk di kursinya dengan Celsi yang tak ada ia lihat saat ini duduk disampingnya.
"Kamu masih marah sama aku cel!" Batin Berlin dengan wajah yang sangat sedih.
Tak
Sebuah spidol mengenai wajahnya, ia langsung mendongak menatap pelaku yang melakukan hal itu. Spidol itu tepat mengenai keningnya sehingga membuatnya merasakan sakit di keningnya.
"Apa aku menyuruhmu untuk memenung dijam pelajaranku!" Ucap guru pengajar yang memang terkenal killer.
Berlin langsung bangkit, "I'm sorry sir!" Ucap Berlin yang langsung membungkuk.
"Get out of my class, you may not enter before my lesson is over!" Ucap guru itu yang langsung menunjuk kearah pintu.
Dengan terpaksa Berlin berjalan dengan kaki yang sedikit pincang keluar kelas. Berdiri di dinding kelas yang pintunya ditutup.
...----------------...
Ditempat lain, dimana Celsi duduk dengan satu batang rokok ditangannya. Menghisap asap rokok lalu dikeluarkan, wajahnya tampak tanpa ekspresi sedikit pun.
"Kau sangat hebat!" Puji seseorang yang membuat Celsi menatap sekilas ke orang itu.
"Aku kagum dengan mu, bukankah kau terlalu bar-bar saat itu!" Lanjutnya lagi yang duduk disamping Celsi.
"Pergilah, jangan berbicara dengan ku saat ini!" Ketus Celsi dengan nada dinginnya.
"Aku hanya menikmati langit dan ikut duduk disampingnya saja!" Ucapnya yang menatap kelangit dengan senyum manisnya.
Celsi menatap lelaki dihadapannya, ia mengerutkan keningnya, "Namaku Ziro Samuel Mus!" Ucap Lelaki itu menjulurkan tangan nya, namun Celsi tak menanggapi hal itu.
"Hmm...Baiklah!" Ziro kembali menarik tangan nya dan tersenyum manis.
Celsi bangkit dari duduknya, menjatuhkan potong rokoknya dan menginjaknya hingga mati. Celsi kemudian berjalan meninggalkan atap sekolah.
__ADS_1
Ya memang saat ini ia berada diatap sekolah, dimana biasanya digunakan untuk para anak nakal merokok dan bahkan cabut.
"Siapa namamu!" Teriak Ziro yang langsung bangkit ingin menyusul Celsi.
"Celsi!" Gadis itu pun langsung pergi meninggalkan tempat itu dan berjalan dengan santai.
"Interesting enough and I'm sure you will belong" Gumam lelaki itu tersenyum manis.
......................
Kini pulang sekolah, dimana perlahan semua penghuni sekolah meninggalkan bangunan sekolah termasuk Berlin.
Ia berjalan dengan pincang keluar kelas dan tas yang menyangkut di bajunya.
"Berlin, dipanggil ke ruang kepala sekolah!" Ucap seorang lelaki yang menghampirinya.
"Oke makasih!" Ucap Berlin yang sedikit menunduk.
Berlin pun memutar arah, ia berjalan menuju keruang kepala sekolah sesuai petunjuk orang lelaki itu.
Berlin cukup kesusahan dengan kakinya yang pincang, terlebih perjalanan dimana letak ruang kepala sekolah yang cukup jauh.
Ceklek
Pintu Berlin buka, terlihat Celsi dan kepala sekolah berada didalamnya. Hawa antara keduanya saling tak berkontribusi satu sama lain dan hanya hawa kemarahan yang begitu pekat.
"Kalian harus bertanggung jawab atas teman kalian yang terluka!" Ucap kepala sekolah.
"Oke!" Santai Celsi dengan wajah santainya.
Berlin bingung harus berbuat apa, sedangkan ia juga harus berobat untuk mengobati lukanya dan itu tidak mungkin tak menggunakan uang.
"Ta-tapi saya...!"
"Tak ada alasan, kalian telah melukai 4 siswa secara langsung, terutama kau Celsi!" Tatapan tajam kepala sekolah terhadap Celsi.
"Jika saya terluka juga, apa anak anda juga akan bertanggung jawab!" Ucap Celsi dengan datar menatap rendah pada kepala sekolahnya itu.
"Ya tentu!" Jawabnya.
"Saya minta 100 juta untuk pengobatan saya sekarang juga!" Ucap Celsi dengan angkuhnya.
"Hah...kau tak mengalami sesuatu, apa kau ingin memorot saya Celsi!" Ucap kepala sekolah yang dengan nada yang meninggi.
"Anda sebaiknya berhenti menjadi kepala sekolah karena anda begitu tak bertanggungjawab dan tidak ada keadilan sedikit pun!" Tantang Celsi yang berdiri tepat dihadapan kepala sekolah.
"Jaga sopan santun mu, aku ini kepala sekolah dan lebih tua dari mu!" Bentak kepala sekolah.
__ADS_1
"Hanya orang yang bisa menghargai ku yang akan aku hargai dan anda tak sedikit pun menghargai ku!" Ucap Celsi yang menatap membunuh mengarah pada kepala sekolah.