Benci Menjadi Cinta

Benci Menjadi Cinta
Bab 46


__ADS_3

...🍃 READING BOOK 🍃...


Sudah seminggu lamanya Berlin bersekolah dan melakukan kegiatan sehari-hari nya, kini geng Jessica Cs semakin gencar mem-bully nya.


"Kak boleh kah aku meminta?" Tanya Berlin.


Ya kini Berlin dan Kaisar berada di perpustakaan sekolah, ia akan mengajarkan Kaisar pelajaran yang kemungkinan besar masuk Ujian Nasional.


Kaisar mendongak, menatap tertegun pada mata lentik Berlin yang membuat dirinya merasakan debaran didada


*Deg...


'Apa ini, tidak mungkin kan*' Batin saat merasakan detak jantungnya yang tiba-tiba berdetak begitu kuat.


"Kak" Panggil sekali lagi oleh Berlin dan kini Kaisar pun sadar dari lamunannya.


"Ah ya, kenapa?" Tanya Kaisar yang sedikit gugup.


"Apa aku boleh minta sesuatu?" Tanya Berlin.


"Hmm...boleh, tapi jangan aneh-aneh!" Ucap Kaisar dengan wajah datarnya.


"Hmm...kan tinggal seminggu lagi aku mengajar kakak, boleh kah aku..."


"Enggak!" Tolak Kaisar ketus begitu saja.


Hal itu membuat Berlin langsung tersentak karena mendengar penolakan kaisar sebelum dirinya mengucapkan semua ucapan nya.


"Aku tau kau pasti meminta untuk berhenti bukan, kau pikir aku bodoh! Aku membayarmu untuk mengajarkanku!" Ujar Kaisar dengan nada datar dan dingin khas dirinya.


Sebenarnya ia sudah bosan untuk belajar ini, tapi ia tak rela jika tidak berdekatan seperti ini dengan Berlin. Ia sungguh candu akan senyum gadis itu, perhatiannya bahkan cara dia berbicara.


"Kakak bisa memotong setengah harga kok!" Ucap Berlin yang masih tetap kekeh.


"Kenapa...hah...udah bosan ngajarin, ingat kita sesuai perjanjian!" Bentak Kaisar yang mendekati Berlin.


Berlin ketakutan dengan sorot mata Kaisar yang begitu tajam, ia memundurkan tubuhnya dengan sedikit dorongan kaki, dimana ia kini duduk di kursi panjang perpustakaan.


"K-ka-kak!" Gugup Berlin yang sungguh takut.

__ADS_1


Namun kaisar tetap diam, matanya menatap tajam pada Berlin. kakinya ditekuk menaiki kursi panjang itu, tatapan mata nya tetap sama sangatlah tajam kearah Berlin.


"A-aku a-ak-akan tetap ngajarin ka-kak!" Tubuh Berlin sedikit gemetaran, tangannya mendingin dan bibirnya memucat.


Kini ia tidak dapat mundur lagi karena saat ini ia sudah benar-benar tersudut oleh barisan buku yang entah sejak kapan berada disana.


Kaisar semakin mendekat, bahkan kini mereka mengikis jarak diantara mereka. Berlin berusaha mengatur nafas agar Kaisar tidak mengetahui bahwa ia cukup takut.


Sedangkan didalam hati, Kaisar tersenyum manis melihat tingkah lucu Berlin yang ketakutan. Seperti anak anjing yang kedinginan dan ketakutan.


Kaisar semakin mendekatkan wajahnya yang membuat Berlin seketika menutup matanya. Ntah dari naluri mana, kini bibir Berlin malah sedikit maju.


Tik


Satu jentikan jari mengenai bibirnya, hal itu membuat Berlin langsung membuka mata dan mengelus bibirnya yang cukup perih akibat jentikan jari itu.


"Pikiran yang kotor, ternyata cewek culun begitu menginginkannya!" Ucap datar Kaisar dan dingin.


Pemuda itu bersikap biasa saja seakan tak terjadi apa-apa, bahkan kini lelaki itu sedang membaca buku tepat disampingnya.


Sedangkan Berlin hanya dapat merasa kesal akibat perbuatan kaisar yang mempermainkan nya, padahal ia sebenarnya tak berpikir begitu hanya saja emang otak aja yang rasa konslet.


"Kak pulang yok!" Ajak Berlin.


Berlin hanya dapat mendengus kesal, ia ingin melampiaskan emosinya. seketika ntah dari keberanian apa, ia mengolok-olok Kaisar dari belakang tubuhnya. Ia bergerak seakan ingin menimpuk kepala Kaisar bahkan mengujulurkan lidah nya.


"Akan aku buang kehutan jika terus mengejek ku dari dari belakang!" Ucap Kaisar tanpa mengalihkan pandangannya dari Berlin.


Sedangkan Berlin ia pun menarik lalu membuang nafas hanya untuk bisa menetralkan rasa kesalnya.


"Serah!" Sungut Berlin yang langsung menatap lurus kedepan dengan tangan dilipat dan pipi yang terus komat Kamit nggak jelas.


Kaisar yang tak mampu menahan senyumnya pun, akhirnya tersenyum. Sungguh sangat lucu melihat ekspresi wajah Berlin saat ini.


"Ah ini cobaan, kenapa nih cewek imut banget yak" Batin Kaisar yang terus melompat-lompat.


"Udah aku pergi dulu!"Kesal Berlin yang langsung berdiri diatas bangku lalu berjalan diatas meja dan melompat untuk turun lagi.


Semua itu diperhatikan oleh Kaisar, lelaki itu begitu sangat merasa gemas pada Berlin, namun harus ditahan demi sebuah gengsi.

__ADS_1


Kaisar tetap santai, ia pikir Berlin akan kembali lagi untuk memintanya mengantar gadis itu.


Sedangkan ditempat Berlin, gadis itu terus mengomel disepanjang jalan. Dirinya yang memang selalu pendiam kini mengomel layaknya seorang emak-emak.


Jika orang terdekat Berlin mengetahui gadis itu mengomel, pasti semua mereka akan tak percaya dan bahkan akan menganggap bahwa Berlin telah digantikan.


"Apa-apaan dia tu, merasa sok berkuasa...pengen rasanya nih ngejambak rambutnya yang gemoy itu atau botakin tu kepala!" Ngomel Berlin dengan rasa kesalnya.


"Itu wajah datar banget seakan nggak terjadi apa-apa, huh...tak garuk tu wajah mampus...!" Lanjut Berlin yang mengomel.


Gadis itu disepanjang perjalanan terus mengomel, sampai hingga diparkiran dirinya pun bingung sendiri karena pasalnya tak ada lagi penghuni sekolah saat ini.


"Ah pasti sudah jam 5!" Ucap Berlin menebak.


Ia melihat jam di ponselnya, ternyata benar sekarang sudah jam 5 dan gadis itu menambah kesal karena Kaisar tak mengikuti langkah kakinya.


"Dasar cowok nggak peka, udah tau orang mau pulang... eh enggak nganterin lagi!" Kesal Berlin sambil *******-***** ujung bajunya.


"Udah ah, males nunggu tu orang lebih baik jalan dulu!" Finish Berlin dan berjalanlah dirinya menuju depan sekolah yaitu halte bus.


Ditempat Kaisar, pemuda itu yang sibuk membaca buku pun harus mengalihkan pandangannya ke pintu. Ia masih berharap bahwa Berlin untuk kembali lagi merajuk padanya untuk diantarakan.


Namun sudah hampir setengah jam gadis itu tidak ada menghampiri nya, hal itu membuat ia menjadi khawatir, terlebih kan sekarang sudah hampir setengah enak.


"Ah sial tu cewek!" Umpatnya yang langsung menutup buku yang ia baca dengan kasar dan mengangkut beberapa buku ditangannya.


Ia berjalan dengan sedikit berlari menuju tempat parkiran motornya, yang ia lihat tak ada satu orang pun yang berada disana.


"Ah kemana tu cewek, pasti bener-bener pergi!" Ucap Kaisar berlari menghampiri motornya.


Ia langsung menunggangi motornya dan segera melanjutkan nya keluar dari kawasan sekolah, ia akan mencari Berlin yang pergi meninggalkan nya begitu saja.


Saat sudah lewat dari gerbang, Kaisar melajukan motornya dengan pelan, melihat halte bis yang berisi satu orang dan orang itu adalah orang yang ia cari.


"Naik!" Instruksi Kaisar yang saat ini masih berada di motornya yang masih hidup.


Berlin tetap diam, ia lebih baik mengacuhkan Kaisar dengan ponselnya.


"Berlin...naik!" Ucap Kaisar yang meninggi.

__ADS_1


Dengan terpaksa Berlin pun berjalan kearah motor Kaisar dan bersusah payah menaiki motor itu. Berlin memasang wajah kesalnya dan menatap permusuhan pada Kaisar.


Kaisar tak peduli, ia pun melajukan motornya menjauh dari sekolah menuju rumah Berlin.


__ADS_2