
...đ READING BOOK đ...
Lima putaran pun selesai, Kaisar menghampiri Berlin yang memang sudah dari tadi menunggu dengan membawa satu botol air mineral dan roti.
"Apakah tak ada yang lain selain roti!" Ucap Kaisar menatap roti yang kini sudah berada ditangannya.
"Ma-maaf, aku tak tau mau beli apa!" Berlin langsung menunduk, "Tapi aku beli tisu kok!" Berlin memperlihatkan dua bungkus tisu dimana satu tisu basah dan satu lagi tisu kering.
"Hmm...cukup pandai!" Puji Kaisar dan hal itu membuat pipi Berlin bersemu.
"Kalian pacaran!" Tanya Raihan dengan wajah yang bingung.
"eng...!"
"Apa urusanmu!" Ketus Kaisar.
"Hah, baiklah kembali sekarang kekelas masing-masing!" Pasrah Raihan yang tak ingin membuat masalah pada Kaisar.
Raihan pun pergi meninggalkan tempat, sedangkan satpam itu dari awal sudah pergi menyelesaikan kerjaannya yaitu memeriksa keadaan sekitar.
"Ikut aku!" Ucap Kaisar yang berjalan lebih dahulu.
Berlin hanya menurut, ia mengikuti langkah besarnya Kaisar menuju ketempat yang sepertinya ketoilet.
"Nga-ngapain di-disini!" Gugup nya menatap ke sekitar terutama Kaisar dengan takut.
"Emangnya kau pikir aku mau ngapain!" Ucap Kaisar yang mendekati Berlin.
Perlahan gadis itu mundur kebelakang dan hal itu membuat Kaisar tersenyum dalam hati karena ingin melihat reaksi gadis culun itu.
Tak
Kedua tangan kaisar memutuskan pergerakan Berlin didinding. Terlihat Berlin sudah gemetar akibat ulah Kaisar, Berlin menatap Kaisar perlahan dengan takut-takut.
Kaisar menatap wajah Berlin, "Sepertinya salep nya dipakek!" Batinnya.
Wajahnya perlahan mendekat, ia sungguh sangat penasaran apakah gadis culun seperti Berlin merasakan yang namanya puber seperti berpikir aneh-aneh.
Dan benar saja Berlin menutup matanya dan dengan wajah pasrah seakan menerima sesuatu, Kaisar tersenyum miring dengan reaksi Berlin.
"Heh... ternyata seorang cupu memiliki otak yang kotor juga, kau pikir aku mau melakukan hal itu!" Sinis Kaisar yang langsung menjauhkan diri dari Berlin dan membuka lemari penyimpanan.
__ADS_1
Biasanya para siswa/i akan meletakkan barang yang tak penting untuk dibawa pulang atau tak sempat dibawa, tapi untuk Kaisar ia hanya mengisi baju cadangan dan buku.
Perlahan mata Berlin terbuka, ia menatap kaisar dengan kesal karena ucapan Kaisar yang seperti itu. Menurut kalian jika berada diposisi Berlin akan melakukan hal itu atau langsung mendorongnya ya?...
"Tunggulah disini, jika kau mau masuk juga nggak apa!" Ucap Kaisar yang langsung menghilang dari balik pintu toilet.
Wajah Berlin bersemu ia sangat malu, kenapa kakak seniornya itu begitu asal berbicara seperti itu padanya.
Tak berselang lama, Kaisar pun keluar dengan baju yang berbeda. Ia langsung begitu saja melempar pada Berlin tanpa melihat Berlin siap menerima baju itu.
"Buang bajunya di tempat sampah, aku malas untuk membawanya pulang!" Ucap Kaisar sambil memperbaiki rambutnya.
"Ta-tapi ini kan masih..."
"Terserah mau kau apakan, tapi dengan satu syarat jangan membawanya pulang!" Ucap Kaisar yang langsung pergi meninggalkan Berlin begitu saja.
Berlin hanya menatap kepergian Kaisar, ia memasukkan baju itu kedalam kantong plastik tempat roti dan air tadi. Ia berencana akan memberikan pada anak tetangganya yang saat ini masih SMP, mungkin logo bajunya bisa ditukar saja.
Berlin pun berjalan perlahan meninggalkan toilet itu, tapi seseorang langsung mendorongnya dengan sangat kasar.
"Ck...dasar culun jal**g!" Hina nya dengan tatapan remeh.
Berlin menatap orang yang melakukan hal itu, ia terkejut seorang perempuan yang pertama kali bertemu dengannya lemah lembut, kini begitu kasar dan bahkan sangat pemarah.
"A-aku bukan begitu!" Belanya yang langsung bangkit.
"Lalu..Ck jangan munafik deh, kau gadis rendahan yang mendekatinya karena sebuah kekuasaan dan ketampanan seorang Kaisar!" Hinanya lagi dengan tatapan yang begitu sinisnya.
"Tapi aku bukan yang mendekatinya!" Belanya yang sangat sakit hati.
"Kau pikir aku bodoh, jika kau tanya kesemua orang apa orang itu percaya dengan mu?" Ucap Cinta yang menjongkok menatap sangat benci pada Berlin.
"Aku peringatkan untuk sekali ini, jika kau mendekati Kaisar lagi maka aku tak akan tinggal diam!" Ucapnya menekan dagu Berlin dengan sangat kuat.
Berlin merasakan sakit didagunya, ia berusaha melepasnya dan akhirnya terlepas meski Cinta melepasnya dengan hempasan.
Cinta langsung pergi meninggalkan Berlin, ia tersenyum miring melihat gadis culun yang begitu disayang oleh adeknya itu.
Ucapan Cinta dan seluruh hinaan nya sangat menyakitkan, Berlin menangis berusaha meredam suaranya agar tidak terdengar oleh banyak orang.
"Hey how are you!" Ucap seseorang yang menjulurkan tangannya.
__ADS_1
Berlin mendongak dengan air mata yang mengalir, ia dengan segera menghapus air matanya.
"Kenapa kau menangis nona!" Ucapnya yang sedikit celat khas orang luar negeri.
"Nggak apa!" Berlin langsung bangkit tanpa menerima juluran tangan lelaki itu dan langsung pergi meninggalkannya begitu saja.
Lelaki itu hanya tersenyum kecut, ia cukup kecewa karena juluran tangannya tak diterima gadis itu.
"Sepertinya aku pernah melihatnya!" Gumamnya menatap kepergian Berlin.
...----------------...
Berlin berjalan dengan cepat, takut ia akan bertemu dengan beberapa orang yang akan mencari masalah dengannya, salah satunya yaitu Jessica.
"Hay culun!" Sapa Jessica.
Baru saja di pikirkan dan ternyata orang yang berusaha ia hindari malah menghampirinya.
"Allahuakbar!" Terkejut Berlin, ia memegang dada nya yang berdetak dengan cepat.
"Mau kemana hayo!! kok bisa disini sih" Ucap Jessica merangkul Berlin.
Seketika tubuh Berlin bergetar dan tubuhnya semakin membungkuk berusaha agar rangkulan Jessica terlepas.
"Hmm...apa nih kok dibawa-bawa, nyuri ya!!" Jessica langsung menarik plastik hitam yang berada ditangan Berlin.
Jessica menatap baju itu, ia memegang baju itu yang menurutnya menjijikan.
"Nyuri baju cowok toh, gimana sini aku cariin!" Ucap Jessica memperlihatkan baju putih sekolah itu kehadapan teman-temannya yang juga tertawa lepas.
Berlin semakin menunduk, ia sangat malu dan kesal dengan Jessica yang mempermalukannya, padahal ia akan berniat baik tepi semuanya hilang karena permaluan ini.
"Kembalikan!" Berlin berusaha mengambilnya, Jessica malah mengoper nya ke temannya.
"Hhhhhh...!" Tawa Jessica semakin pecah saat melihat ekspresi Berlin.
"Eh bentar deh Jes, ini bau bajunya kayak parfum kak Kaisar deh!" Ucap Fanya yang menerima baju itu.
Ia cukup tau dengan bau khas Kaisar dan hal itu tak lazim bagi para cewek disekolahan ini.
"Seriusan!" Jessica langsung menghampiri baju itu, ia menghirup bau parfum dari baju itu.
__ADS_1
Jessica menyadari itu, ia menatap tajam kearah Berlin dan wajahnya seketika memerah. Padahal disini ia hanya bosan dan lebih memutuskan untuk bermain-main sebentar sebelum jam masuk datang.