
...đ READING BOOK đ...
Kepala sekolah itu mengepal dengan erat tangannya, merasa kesal dengan ucapan Celsi padanya.
"Kamu telah membuat anak saya koma!" Ucap kepala sekolah yang sudah sangat geram.
"Lalu anda akan membelakangkan kasus yang dilakukan anakmu pada orang lain!"Ucap Celsi yang bernada tinggi.
"Aku tau dan sadar bahwa aku adalah seorang orang yang miskin dan tidak memiliki kekuasaan, tapi apa anda tau apa yang dilakukan anak anda terhadap saya!"Ucap Berlin yang sudah tak bisa menerima lagi perlakuan Jessica dan teman-temannya termasuk kepala sekolah nya juga.
"Heh...itu kamu tau, jadi seharusnya kau tau caranya bersikap!" Ujar angkuh kepala sekolah itu.
"Anak anda melakukan hal yang keterlaluan, apakah itu cara anda mendidik nya!" Ucap Berlin yang mendekati kepala sekolah, berani menatap tajam.
Ia adalah manusia, yang memiliki hati dan perasaan. Ia bisa marah dan sedih, ia juga bisa tertawa dan tersenyum. Tapi kenapa saat ia terus diam semua orang yang berkuasa selalu menganggap remeh dirinya dan bahkan membuat nyawanya yang berharga ini hampir hilang.
"Jangan pernah menegurku cara mendidik anak ku, bahkan dirimu saja tak sebaik dirinya!" Ucap kepala sekolah yang sudah sangat marah.
"Itu yang anda bilang baik, terus bagaimana dengan saya yang diam anda hina seperti itu!" Ucap Berlin yang sudah sangat marah.
"Kalian saya keluarkan dari sekolah karena membuat beberapa siswi terluka!" Pasrah kepala sekolah yang langsung duduk di bangkunya kembali.
"Atas hak apa anda mengeluarkan mereka dari sekolah ini, kau sungguh tak adil Wandi, apa aku harus melakukan tindakan!" Ucap seseorang dengan suara baritonnya.
Mereka semua menatap kebelakang, Celsi hanya menatap datang dan dingin, tetapi untuk Wandi dan Berlin tampak syok dengan perkataan lelaki itu.
"Tuan Surya, biar aku jelaskan!" Ucap Wandi yang gugup menghampiri perlahan Surya.
"Kau saya pecat, kau tak seharusnya menjadi kepala sekolah!" Ucap Surya yang langsung keluar dari ruangan kepala sekolah itu.
__ADS_1
"Kalian keluar!" Bentak kepala sekolah.
Berlin dan Celsi pun langsung keluar dan menemukan dua orang berseragam polisi yang langsung masuk kedalam ruangan kepala sekolah.
Dua orang berseragam itu keluar dengan Wandi yang diborgol tangannya dan menatap tajam pada kedua gadis yang juga menatapnya.
Celsi berjalan melewati Berlin, wajahnya datar tanpa ekspresi.
"Celsi!" Panggil Berlin yang langsung memegang pergelangan tangan Celsi.
Celsi langsung menghempaskan tangan Berlin dan berjalan meninggalkan Berlin tanpa menghiraukan panggilan yang berulangkali oleh Berlin.
"Cel! Celsi!!!" Berlin berlari mengejar dengan kaki pincang nya pada Celsi yang berjalan dengan langkah cepatnya.
Berlin langsung menghadang Celsi dengan tangan yang direntangkan.
"Maafkan aku cel!" Lirih Berlin air mata yang sudah menetes.
Gadis itu menatap dengan rasa bersalah pada Celsi, ia hanya memiliki satu sahabat dan kini sahabat nya itu pergi menjauh darinya.
...----------------...
Berlin perlahan berjalan meninggalkan bangunan sekolah, jalannya pincangnya. Tubuhnya saat ini sangat lemas, masalah terus terjadi hari ini dan kini ia benar-benar sudah sangat dibenci oleh semua orang atau mungkin mereka tak ingin melihatnya lagi sekolah disini.
Sekolah tetap ramai, dimana mereka sepertinya sangat kepo akan masalah hari ini. Mereka menunggu apakah Celsi dan Berlin akan dikeluarkan dari sekolah atau tidak.
Semua orang yang ada disana menatap Berlin yang berjalan lemas dan mereka menyimpulkan bahwa Berlin sudah dikeluarkan dari sekolah.
"Apa aku begitu dibenci, ini semua bukan salahku!" Teriak batin Berlin yang terus menunduk karena merasakan semua tatapan mengarah padanya.
__ADS_1
Ntah perasaan nya atau tidak, tubuhnya semakin lama semakin lemas dan membuat Berlin perlahan menutup mata dan terjatuh ditempat.
Semua yang ada disana langsung mengelilingi tanpa berniat membantu, karena diantara mereka bingung harus berbuat apa.
Tak jauh dari sana, Kaisar dan para teman-teman nya keluar dari bangunan sekolah. mereka menatap bingung dengan semua kerumunan itu.
"Minggir kalian semua!" Teriak seseorang yang langsung mendorong kerumunan itu agar memberikan jalan.
"Celsi!" Batin Kaisar.
Ya itu adalah Celsi, gadis itu mengikuti Berlin. Ia masih memiliki hati nurani karena melihat sahabatnya itu memiliki wajah yang begitu pucat. Apa sahabat? Apa kata sahabat bisa dipergunakan oleh Celsi saat ini meski ia sedang sangat kecewa pada Berlin?"
"Bantu angkat ke mobil ku!" Tintah Celsi yang langsung dilakukan oleh beberapa orang.
Mereka pun membawa Berlin memasuki mobil Celsi, meski saat ini mereka sangat syok karena Celsi bilang mobilnya, namun mereka semua tak peduli karena keadaan saat ini sangat genting.
"Antar kerumah sakit pak!" Ucap Celsi yang saat ini sudah berada didalam mobil dengan kepala Berlin yang ada di pangkuannya.
"Maaf non, tuan berpesan untuk segera mengantar anda tak lewat dari jam 4, kini sudah melewati batas dan mungkin kita akan sampai dirumah jam 5!" Jelas sopirnya itu yang tak ingin mengambil resiko karena menuruti permintaan nona mudanya itu.
Ya dia seorang sopir yang dicarikan kembali oleh Weldan sehingga tidak memiliki sifat yang sama seperti sopir yang kemaren yang memang sangat menurut dan mengikuti apa yang diucapkan Celsi, namun hal itu membuat sopirnya menjadi dipecat.
"Biar semua nya aku tanggung pak, kumohon dia sudah pingsan seperti ini!" Ucap Celsi dengan wajah memelas.
"Tapi non..."
"Pak kumohon!" Celsi memotong ucapan sopirnya itu dengan wajah yang sangat sedih.
Dengan terpaksa sopir itu menghela nafas berat dan mengangguk menyetujui permintaan nona mudanya itu.
__ADS_1
Mobil pun berjalan meninggalkan area sekolah, namun dari kejauhan Kaisar terus menatap kepergian Celsi dan memutuskan untuk segera mengikuti karena ia seperti begitu tertarik untuk kepo dengan keadaan kondisi gadis culun itu.