
...đ READING BOOK đ...
" Udah-udah sini duduk ngapain disitu saja sih sayang!" Tami menghampiri Celsi dengan merangkul bahunya.
Tami membawa Celsi duduk disampingnya, seakan kini Berlin terlupakan padahal dirinya masih berada diambang pintu.
"Tan, Celsi bawa see food loh!" Ujar Celsi yang bergegas membuka plastik yang ia bawa.
"See food? Malam hari kayak gini dimana kamu beli sayang?" Tanya Yudha dengan menatap kotak yang satu persatu di keluarkan dari plastik oleh Celsi.
Berlin pun ikut duduk di samping ayahnya, wajahnya sedikit ditekuk karena ayah dan ibunya tidak menganggap dirinya lagi.
Celsi dengan semangat membuka satu persatu kotak, ia memperlihatkan beberapa makanan yang ia bawa dari restoran.
Begitu banyak makanan yang menggugah selera, Tami dan Yudha sampai melongo karena pasalnya bagaimana menghabiskan nya jika sebanyak ini.
"Ini kamu beli dimana sayang, kayak mewah banget!" Ujar Tami yang sedikit mencuil kerang oseng yang ada didekatnya.
"Ini itu Celsi beli di restoran see food dan untuk saja Celsi dari sana!" Jawabnya dengan semangat.
"Kamu jangan beli apa-apa mahal-mahal, nanti uang kamu habis karena beli ini makanan!" Tegur Yudha yang tak ingin Celsi terbebani oleh mereka semua.
Mereka tidak tahu bahwa Celsi anak orang kayak yang menyamar menjadi anak biasa, Tami dan Yudha hanya mengetahui bahwa Celsi sahabat anaknya dan sekolah ditempat yang sama.
"Nggak kok tan tenang, baru gajian!" Ujar Celsi yang berbohong.
"Gajian apa, dia bohong ma!" Ucap Berlin yang dari tadi diam memperhatikan.
__ADS_1
"Apaan sih ber, mana ada...Wlee!" Celsi membantah dengan menjulurkan lidahnya mengejek Berlin, terlihat gadis itu merengut kesal akibat ejekan Celsi.
"Udah-udah, kalian kayak anak kecil...bentar tante ambil piring sama sendok untuk makan!" Ujar Tami dan mereka semua mengangguk menyetujuinya.
Terlihat Berlin penasaran dengan rasanya, dirinya yang sudah sebesar ini belum pernah memakan makanan yang seperti ini, sehingga ia sangat penasaran.
"Ini gimana rasanya ya?" Tunjuk Berlin pada lopster saus tiram itu.
"Ini lopster saus tiram, rasanya sama kayak udang dan bahkan lebih enak!" Jawab Celsi menjelaskan.
"Udang, berarti aku nggak bisa makan dong!" Berlin murung karena dirinya yang alergi dengan udang dan dipastikan untuk yang ini ia tidak bisa makan.
"Udah, makan aja untuk obat ntar aku beli di apotik!" Ucap Celsi yang tak ingin melihat sahabatnya murung.
"Sebaiknya kamu jangan melakukan itu sayang, papa takut kamu akan sesak nafas karena alergi itu!" Tegur Yudha yang cukup khawatir dengan Berlin.
Berlin menundukkan kepalanya, ia merasa kecewa karena tidak dapat memakan makhluk laut yang aneh itu.
"Piring datang!!" Tami datang dengan membawa beberapa piring dan sendok garpu juga. Dengan semangat ia duduk disamping Celsi.
"Eh anak mama kok murung sih, napa coba!" Ucap Tami saat melihat wajah anaknya itu.
"Kamu boleh makan, dengan satu syarat obat alergi kamu harus ada sekarang!" Ucap Tami dan hal itu membuat Berlin tersenyum lebar mendengar penuturan sang mama.
"Tapi sayang, nanti dia pasti sesak nafas karena alergi itu!" Bantah Yudha yang sangat khawatir dengan Berlin.
"Udah nggak papa sesekali!"
Celsi dan Tami pun mengambilkan makanan itu kedalam piring sesuai permintaan masing-masing. Saat ini Berlin di beri satu kotak berisi lopster agar Berlin puas memakannya.
Terlihat mereka berbincang-bincang dengan menyuapkan see food itu kedalam mulut mereka. Sedangkan Berlin berusaha membuat kulit lopster karena ia begitu penasaran dengan rasanya.
Perlahan daging lopster ia masukkan kedalam mulut dan satu yang ia rasa adalah dagingnya empuk dan enak.
"Ternyata ini lebih enak ya!" Ujar Berlin yang makan lopster dengan senyum manisnya.
__ADS_1
"Daging lopster lebih enak loh dari udang namun protein nya lebih besar lopster dari pada udang sehingga orang yang memiliki alergi pada udang pasti lebih mudah terjangkiti jika memakan lopster!" Jelas Celsi dan Berlin hanya mengangguk menikmati lopster ditangannya.
Namun saat tinggal sesuap lagi, Berlin mengalami sesak nafas, tangannya dan juga seluruh wajahnya panas meremang.
"Hah...hah...panas!" Lirih Berlin dan hal itu langsung membuat Tami dan Yudha yang sibuk makan langsung menghampiri Celsi.
"Eh Berlin...anak ini!!!" Celsi langsung menahan tubuh Berlin yang akan terjatuh.
Terlihat Yudha yang langsung berlari menuju kamar Berlin dan sepertinya mengambil obat alergi. Wajah Tami begitu cemas dan tanpa sadar air matanya jatuh sendiri, begitu juga Celsi yang langsung menghampiri Berlin dengan muka yang sangat cemas.
Tami terus berteriak pada Yudha untuk segera datang, namun obat alergi itu tak ditemukan membuat Yudha cukup lama berada dikamar Berlin.
"Mas Yudha cepat mas...Hiks...hiks..." Tami menangis takut kehilangan, ia tidak tega melihat anaknya begitu berat menarik nafas dengan bentolan merah pada setiap wajah dan tangan berlin.
"Iya bentar!" Teriak Yudha, kini kamar Berlin yang rapi menjadi sangat berantakan akibat Yudha dan akhirnya obat itu ditemukan di selipan buku yang ada di meja belajar.
Yudha langsung berlari, ia tergesa-gesa memberikan obat itu dan langsung berlari kembali menuju dapur untuk mengambil air.
Berlin begitu tersiksa, seharusnya ia mengikuti apa yang diperingati oleh sang ayah tadi, air mata ketiga gadis itu terus mengalir seakan pasti terjadi sesuatu, tapi hal itu apa?
"Ini sayang, berusahalah untuk mengunyah pil itu agar cepat beraksi!" Ucap Yudha memasukkan pil yang ada ditangan Tami.
Berlin berusaha mengunyahnya tapi ia tidak bisa, sesak nafas semakin terasa sekarang dan ruam diwajahnya semakin banyak.
Tarikan nafas yang panjang dan Berlin langsung tak sadarkan diri, hal itu membuat mereka semua panik dan bingung harus berbuat apa.
"Hiks...hiks...Berlin jangan kayak gini, sadarlah!" Tangis Celsi tak terbendung melihat keadaan sahabatnya itu.
Ia menyesal telah membawa makanan itu, ia sangat merasa bersalah karena membuat Berlin tak sadarkan diri seperti ini.
"Ba-bawa kerumah sakit, ayo...!" Ujar Yudha yang langsung menggendong Berlin dengan putus asa.
Celsi dan Tami mengikuti Yudha, Celsi langsung mengarahkan Yudha agar menggunakan mobilnya untuk pergi kerumah sakit.
"Sini om!" Yudha langsung memasukkan nya kedalam mobil dengan Tami yang sudah siap menerima kepala Berlin agar tidak terantuk.
__ADS_1
Setelah semua nya dilakukan, Yudha langsung masuk ke mobil bagian depan tempat Celsi mengemudi.
Mobil pun melaju, Celsi begitu khawatir bahkan saat ini ia menggunakan kecepatan tinggi dan tidak peduli dengan kendaraan sekitar yang merasa terganggu.