Benci Menjadi Cinta

Benci Menjadi Cinta
Bab 57


__ADS_3

...🍃 READING BOOK 🍃...


Tepat di sudut kantin dekat dengan jendela terdapat Kaisar berserta teman-temannya terus berbincang di meja kantin, namun perbincangan mereka pun teralih saat melihat dua gadis yang tadi pagi mereka perbincangkan.


"Eh itu gadis cupu ama Celsi kan!" Tunjuk Ridwan pada Celsi dan Berlin yang terlihat berdebat sepertinya memperdebatkan tentang tempat duduk.


"Eh iya ya, suruh aja tu bocil kesini dari pada nggak ada tempat duduk!" Ujar Hendra.


Plaak


Satu geplakan di kepala Hendra, pelakunya adalah Farrel, " Umur dia sama kau sama ya jangan sok tua!" Ujar Farrel ketus.


"WOI SINI AJA DUDUK!" Teriak Ridwan.


Bukan hanya Celsi dan Berlin saja menatap kearah bangku Kaisar, tapi seluruh kantin karena mereka mendengar Ridwan berteriak dengan kata 'woi' bukan nama.


"Etsdah nama semua orang yang natap sini dah!" Ringis Ridwan saat melihat sekitarnya.


"Kau salah bodoh, mangkanya manggil nama bukan woi jadi orang itu pinter dikit!" Ucap Hendra yang merasa kesal.


"Celsi mari dah!" Teriak Farrel.


Mereka semua hanya tau pada Celsi bukan Berlin karena biasanya mereka hanya memanggil Berlin dengan sebutan gadis cupu.


Celsi pun mendekat sambil menarik paksa Berlin yang sepertinya enggan untuk mendekat, terlihat Celsi yang sudah mendekat dan menatap bingung pada mereka yang memanggilnya.


"Ada apa!" Ketus Celsi dengan wajah yang siap mencakar.


"Eh garang nya, santai dong bre kita makan bareng aja!" Ujar Ridwan sambil menepuk bangku yang berada disampingnya.


Celsi berpikir-pikir namun gerakan tangan Berlin yang memberi kode. Celsi langsung duduk begitu saja, ia ingin membalaskan dendam nya karena Berlin sudah membuat dirinya kesal.


Berlin terdiam, ia bingung harus berbuat apa, terlebih ia menjadi tatapan tajam Kaisar yang terus memperhatikannya.

__ADS_1


"Duduk!" Ujar Kaisar menarik kursi plastik duduk di dekatnya.


Berlin gelagapan, ia pun duduk di samping Kaisar yang terus menatapnya. Berlin tak tau harus berbuat apa, diposisikannya saat ini begitu tak memungkinkan dirinya bersikap biasa saja karena dirinya salting.


Celsi menatap ke gelagapan Berlin, ia tersenyum senang karena sudah bisa membalaskan dendam nya saat ini.


"Eh ber, tadi katanya mau pesen sesuatu tapi mager, jadi minta tolonglah seseorang untuk beliin!" Ujar Celsi yang memanas-manasi.


Berlin menatap tajam pada Celsi, padahal saat ini ia sudah panas dingin dengan jantung yang deg deg an tak karuan. Ia belum pernah di dempet oleh dua cowok apalagi most warted SMA Nusa bangsa ini.


Disamping nya adalah Raihan dan disampingnya yang sebelah kiri adalah Kaisar, bahkan kini mereka berlima menatap dirinya yang panas dingin, bahkan sahabat nya itu senyum senang melihat dirinya panas dingin.


"Ini makan!" Ucap Kaisar memberikan makanannya pada Berlin.


Berlin terpaku ia menatap kearah Kaisar yang berwajah datar dan sedikit tersenyum tipis. Oh ayo lah ia ini seperti seorang sandera yang di paksa makan dan terus diawasi.


"A-aku eng-enggak laper kak!" Jawab Berlin dengan gemetaran.


"Makan!" Ucap Kaisar dengan mata tajam.


Berlin mulai mengetik semua yang ia rasakan bahkan umpatan untuk sahabatnya ia berikan, padahal ia sebenarnya bukan orang yang mudah mengumpat.


Sreek


Tiba-tiba ponsel Berlin sudah berada di tangan Kaisar, Berlin menatap kearah ponselnya dengan memelas dan akhirnya menyuapkan somay dengan tangan yang gemeteran.


"Anjir...gemeteran nggak tuh tangan!" Ejek Hendra saat melihat tangan Berlin menyuap.


Ntah mengapa mereka semua suka melihat Berlin saat ini yang sedang takut dan gemetaran, bahkan mereka tetap diam melihat Celsi dan Berlin seakan memberikan kode yang sepertinya hanya mereka saja yang tau.


"Kalian jangan liatin anak orang kayak gitu, kasihan ntar pingsan!" Ledek Farrel dengan tawanya.


Mereka semua ketawa namun akhirnya berhenti saat melihat tatapan tajam Kaisar yang begitu menghunus, mereka pun akhirnya berpura-pura memakan makanan pesanan nya, untuk Celsi gadis itu sudah mengambil roti yang memang ada dibeberapa meja dan meja tempat Kaisar menyediakan roti.

__ADS_1


Tatap-tatapan dan ledek- ledekan akhirnya selesai juga, Berlin masih enggan untuk pergi karena saat ini kakinya masih lah sangat gemetar karena terus diberi tatapan intimidasi oleh mereka semua dan ditambah semua orang yang juga menatapnya.


"Cepet ah jangan lebay, maka nya itu balasan karena membuat aku kesal!" Ujar Celsi yang membantu Berlin berdiri.


Berlin hanya dapat melayangkan tatapan kesalnya, sungguh saat ini kakinya gemetaran dan kesemutan sehingga sulit untuk berjalan.


"Beneran tu kaki lemes ber, ah seriusan kau padahal aku cuman main-main dan mereka aja yang ngikut natap kau kayak gitu!" Ucap Celsi yang tak habis pikir melihat sahabatnya itu sungguh tak bisa berjalan karena lemas.


"Kau keterlaluan sih, masa iya kita makan di tengah-tengah mereka, mana terus ditatap lagi apalagi harus habisin tu somay dalam tatapan mereka semua!" Gerutu Berlin yang begitu kesal.


"Hehehe nggak apa lah sesekali, lain kali enggak deh tapi kalo terjadi mau gimana lagi!" Cengir Celsi dan Berlin hanya dapat mendengus kesal.


Berlin yang sudah merasa baikan pun akhirnya bangkit dari duduknya, namun belum saja ia berdiri dengan benar tiba-tiba seseorang begitu saja langsung mendorong Berlin hingga gadis itu tersungkur kebawah.


"Sstttt!" Ringis Berlin merasakan pinggulnya yang merasa berdenyut karena jatuh.


"Apa-apaan sih kau, pengen ku patahin tu tangan!" Bentak Celsi yang begitu marah.


Dia Jessica dan antek-anteknya, empat gadis yang begitu angkuh berdiri dihadapan Berlin yang sedang terjatuh, salah satunya disana adalah Angel adeknya Kaisar.


"Jangan sok hebat deh, ini orang yang mau kau bela heh... menjijikkan!" Ujar Angel dengan gaya angkuhnya.


"Enak enggak duduk disamping most warted, mana sok malu-malu kucing lagi!" Ejek Diana dengan mata yang berdelik kesal.


"Eh lihat deh beneran kayak kucing nggak sih, yang garuk-garuk sampah gitu!" Sinis Fanya.


"Memang bener banget kalian girls!" Ujar Jessica yang tersenyum penuh kemenangan.


Celsi yang merasa geram pun mendorong tubuh Jessica sehingga membuat mereka semua pun ikutan terjatuh.


"Ups...sengaja gimana dong!" Ujar Celsi yang berpura-pura merasa bersalah, namun disela-sela itu Celsi tersenyum kemenangan.


Celsi membantu Berlin bangkit, ia tau bahwa saat ini pasti Berlin merasa sakit pada pinggulnya terlebih kan kaki Berlin merasa masih gemetaran saja.

__ADS_1


Mereka semua pun bangkit dari lantai, kembali mereka semua melayangkan tatapan tajam pada Berlin dan Celsi ingin sekali membuat mereka tersiksa saat ini juga.


__ADS_2