
...đ READING BOOK đ...
"Celsi, loh si kaisar nya mana?" Tanya Desi yang takut anaknya kabur dan membuat dirinya malu didepan sahabatnya itu.
"Nggak tau tan, mungkin saja pergi ke bawah!" Acuh Celsi yang langsung memainkan ponselnya, ia mengirim pesan pada Berlin agar kebosanannya hilang.
Celsi yang berusaha tetap cuek, namun mereka semua menatap intens kearah Celsi dengan tatapan bertanya-tanya.
"Eh tante Desi nanya itu, kok sikap kamu kayak gitu!" Ujar Cinta yang menegur Celsi.
Sebenarnya gadis itu tak berniat menegur Celsi, tapi karena ia ingin mencari muka yaudah ia lakukan, apalagi mereka memang tidak akur berdua.
"Maaf tan, tapi aku memang nggak tau!" Ucap Celsi yang langsung berdiri dan ingin keluar.
"Mau kemana?" Tanya Galdis yang khawatir pada anak gadis nya itu.
"Cari angin ma, disini terlalu pengap!" Celsi menatap kearah Cinta dan Angel lalu kembali berjalan melangkahkan kakinya.
Celsi adalah anak bungsu yang tak terlalu dekat dengan ayah dan mamanya, setiap hal yang ia perbuat akan menjadi kesalahan karena sang kakak yang selalu mencari masalah.
Ntah dari mana kebencian yang terpancar dari Cinta, padahal dulu begitu menyayangi kakaknya, namun karena hal itu ia menjadi tak menyukainya dan bahkan ia tidak menganggap bahwa ia memiliki seorang kakak.
Terlihat setelah kepergian Celsi, semua orang menatap dengan lekat kearah gadis itu. Gadis yang dulu sangat ceria dan bahkan dekat dengan Aldebaran, kini menjadi gadis yang pendiam dan susah untuk didekati.
"Apa kamu masih marah sama mama sayang, katakan apa salah mama!" Galdis menangis dalam hati.
Cukup sakit jika sang anak begitu pendiam dan menutup diri, gadis itu sejak masuk ke SMP kelas 3 selalu mendiami dirinya dan bahkan untuk makan malam saja jika tidak dipaksa untuk makan bersama maka gadis itu tidak akan turun kebawah.
Celsi berjalan gontai, ia pergi duduk di sudut ruangan lantai dua itu dan mendudukkan pinggulnya di sofa yang sudah tersediakan.
Celsi lebih tertarik dengan ponselnya, karena pesannya saat ini telah di balas oleh sahabatnya itu.
"*Besti ku Seperti nya itu enak deh!" Pesan Berlin*.
Celsi mengirim sebuah foto makanan dan juga foto dirinya, ia menanyakan bahwa 'Yang mana kamu pilih', namun Berlin malah lebih fokus dengan makanannya.
"*Apa kamu nggak mau bilang aku cantik! đ¤*" Balas Celsi yang mengirim emot yang mengatakan bahwa dia marah.
"*Sepertinya males sih, tapi mau gimana lagi...Besti ku jelek!đ¤Ĩđ¤Ŗđ¤Ŗ*" Berlin membalasnya lagi dan hal itu membuat Celsi terkekeh.
"\*Males...đ"
"Ululululu...bisa ngambek juga rupanya, bestiku sangat cantik membuahana\*!" Balas Berlin dan hal itu membuat Celsi kembali terkekeh.
Berlin mampu mengembalikan mood nya dan sekarang ia merasa terhibur, namun ia sudah bosan berada ditempat ini.
"*Besti kamu sekarang dimana*?" Tanya Celsi pada pesannya itu.
"*Dirumah nih, kesini dong sekalian ya makanan...hehehe*!"
__ADS_1
"*Oke*..."
Kalian tau perasaan Berlin saat ini gimana?
Ditempat lain, Berlin yang sedang duduk di ruang tengah terkekeh sendiri karena dirinya mempermainkan sahabatnya, namun pada saat pesan yang terakhir membuat dirinya panik.
Pasalnya sekarang sudah menunjukkan jam pukul 21:45 wib dan jika Celsi kesini otomatis sahabat nya itu akan pergi malam hari dan ia begitu khawatir dengan keselamatan nya.
"Eh kok kelihatan khawatir sayang, apa ada yang kamu pikirkan?" Tanya Tami yang memang duduk disamping Berlin.
"Ah tidak ma, tapi ini katanya Celsi mau kesini!" Ucap Berlin dengan wajah lesu nya.
"Lah emangnya kenapa? Kan bagus kalo sahabat kamu datang!" Tami mengerutkan keningnya menatap bingung pada anaknya itu.
"Tapikan gimana ya, ini kan sudah malam bu!" Cemas Berlin dengan wajah yang kusut.
"Udah biarkan saja, masih jam segini nggak apa itu mah!" Ucap Tami menenangkan anaknya.
Kini Celsi menunggu pesanannya sambil memainkan ponselnya, ia duduk di kursi yang disediakan hanya untuk menikmati pemandangan pantai dari balik kaca putih.
Celsi terus memainkan ponselnya tanpa ia sadar bahwa seseorang menatapnya bingung dari jarak yang tak terlalu jauh.
"Ini mbak pesanannya!" Ucap pelayan itu memberikan satu plastik yang berisi makanan
Celsi menerimanya, ia hanya mengangguk dan langsung pergi karena semua makanannya sudah ia bayar sebelum pesanan datang.
Celsi berjalan santai, ia tidak mempedulikan orang sekitarnya, namun satu teriakan yang membuat dirinya berhenti dan menghela nafas kesal.
"Celsi! Kamu mau kemana!" Teriak kaisar pada saat Celsi melewati meja nya.
"Bukan urusanmu!" Sarkas Celsi dan langsung pergi meninggalkan Kaisar yang bingung.
Kaisar ingin mengikuti Celsi, tapi karena ia masih lapar membuat dirinya mengurungkan niatnya itu dengan kembali menikmati makanannya.
__ADS_1
Celsi berjalan dengan santai keluar restoran, saat ini untung ia menggunakan mobil sendiri karena ia tidak ingin bergabung dengan keluarganya itu.
Celsi berjalan menuju parkiran, ia menenteng plastik yang besar. Sesampainya di mobilnya, ia langsung memencet tombol keamanan mobil dan langsung masuk segera melajukan mobilnya.
Saat diperjalanan, ia tidak lupa untuk mengirim pesan pada mamanya agar sang mama tak mengkhawatirkan nya.
"*Aku pergi dan kaisar berada dibawah*" Pesan singkat itu langsung di lihat oleh mamanya, namun ia langsung mematikan ponsel dan tidak peduli dengan balasan yang diberikan oleh mamanya.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi dan untung saja saat ini tidak terjadi kemacetan meski sesekali macet itu terjadi.
Butuh waktu setengah jam sampai di rumah Berlin, saat mobilnya berhenti tepat di depan rumah sahabatnya itu dan ternyata sahabatnya menunggu dirinya dengan badan yang menggila dan wajah yang pucat tersorot oleh lampu mobilnya itu.
Celsi langsung mematikan lampu itu dan keluar dari mobil menghampiri Berlin.
"Kamu ngapain nunggu disini sih!" Kesal Celsi yang membantu Berlin untuk berdiri.
"Aku nggak nunggu kamu kok, cuman lihat bintang doang!" Ucap Berlin dan Celsi pun menatap kelangit tapi yang ia dapat hanya langit yang hitam.
Celsi memincingkan matanya menatap tajam pada gadis dihadapannya saat ini, sedangkan Berlin hanya terkekeh malu karena kebohongannya langsung terbongkar.
"Masuk gih, bentar aku ambil sesuatu!" Ucap Celsi dan Berlin hanya mengangguk.
Celsi langsung berlari kembali ke mobilnya, ia membuka pintu disebelah kemudi dan mengambil makanan yang ia bawa tadi.
"Cel padahal tadi aku bercanda loh!" Ujar Berlin saat menatap plastik yang berada ditangan Celsi.
"Cuman lagi bosan aja, apalagi ini untuk tante Tami sama om Yudha!" Ujar Celsi dan hal itu membuat Berlin mendengus kesal.
Perlahan Celsi dan Berlin masuk kedalam rumah.
"Assalamualaikum..." Salam Celsi dengan sedikit membungkuk.
"Kamu Kristen bodol!" Tegur Berlin dan hal itu membuat Tami dan Yudha tertawa mendengar teguran anaknya itu.
Celsi menatap bingung, ia sedikit memiliki signal yang rusak sehingga ia lupa bahwa ia adalah Kristen.
__ADS_1
"Oh iya, aku kan kristen!" Ucap Celsi yang baru loading dan akhirnya terkekeh melihat kebodohannya.