
...🍃 READING BOOK 🍃...
Kini mereka makan dalam diam di kantin rumah sakit, pikiran mereka berdua terus bergeliaran entah kemana, entah kenapa makanan yang ada dihadapan mereka begitu hambar dengan semua yang terjadi.
Peter cukup menyayangi seorang Tami, ia ada pembantu yang begitu dekat dengannya karena sifatnya yang keibuan. Kabar kecelakaan Tami membuat dirinya begitu sedikit terpukul apalagi anak Tami adalah gadis yang entah sejak kapan ia mencintai nya.
Pemikiran Berlin tidak jauh dari Kaisar, namun bedanya ia memikirkan biaya untuk sang ibu agar dia tetap bisa dirawat sampai sembuh. Sungguh tak bisa harus berbuat apa kali ini.
"Aku akan membantu biaya rumah sakit untuk bik tami!" Ucap Kaisar secara tiba-tiba seakan tau apa yang dipikirkan oleh Berlin.
Berlin menatap lekat pada Kaisar, entahlah perasaan yang sudah ia timbun dalam-dalam harus kembali mencuat hanya satu kalian dingin itu namun penuh harap.
"Untuk apa, kami sudah bisa menangani nya!" Tolak Berlin yang tak ingin membuat dirinya harus memiliki utang budi.
"Aku juga ingin membantu bik Tami dalam masa kesulitannya seperti ini, aku juga selalu merepotkan bik tami!" Ucap Kaisar dengan mata sayu.
"Huffft...terserah!" Ucap Berlin dengan nafas pasrah.
"Ternyata kamu disini ber, dari tadi aku cariin loh!" Ucap Celsi yang datang dengan sedikit berlari.
"Iya kenapa cel, kok kamu sampek berlari gitu?" Tanya Tiara dengan wajah cemas.
"Tante Tami sudah siuman, dia terus manggil kamu dan om Yudha!" Ucap Celsi dengan nafas yang ngos-ngosan.
Tiara langsung berlari tanpa mempedulikan Celsi, ia ingin menjadi pertama kali menanyakan kabar pada ibu nya ayng sudah koma selama tiga hari itu, ia tersenyum senang karena semua doa nya diijabah oleh yang maha kuasa.
Kaisar ikut berlari mengejar Berlin, sedangkan Celsi hanya terbengong dengan muka dongkol karena ditinggal dengan nafasnya yang masih ngos-ngosan.
Mereka bertiga pun langsung berjalan menuju ruangan Tami, dengan segera Berlin masuk dan langsung menghampiri sang ibu dengan air mata penuh kebahagiaan.
"Akhirnya ibu sadar juga, Berlin sangat takut!" Ucap Berlin dengan air mata yang mengalir.
Tami tersenyum tipis, ia begitu sedang karena masih dapat melihat wajah anaknya itu, ia mengelus Surai rambut Berlin dengan sayang.
__ADS_1
"Mama udah sadar kok, kamu lihat sendiri kan!" Ucap Tami meski dengan suara yang serak tersegal-segal.
"Aku tau dan Berlin sangat bahagia hari ini karena ibu sudah sadar!" Ucap Berlin memeluk langsung tubuh Tami yang masih terbaring.
Tami membalas pelukan sang anak, ia cukup kangen dengan pelukan seperti ini, meski pun ia senang saat ini tapi ia memikirkan sang suami yang mungkin saat ini kesulitan mencari biaya untuk nya dirawat disini.
"Apa kalian hidup aman, apa biaya rumah sakit ibu begitu besar?" Pertanyaan terlontar dari mulut Tami yang memang sudah dari tadi ia tahan untuk tak berbicara.
"Tidak kok Bu, ibu enggak usah mikirin itu nanti kondisi tubuh ibu malah drop lagi!" Ucap Berlin yang mengelus lembut wajah Tami.
"Mana ayah mu sayang?" Tanya Tami yang memang dari tadi tak melihat wajah suaminya itu.
"Papa kerja ma, mungkin nanti sore dia akan kesini melihat istrinya yang tersayang ini!" Goda Berlin yang membuat Tami langsung salah tingkah.
"Kamu ini ya!" Ketus Tami menepuk bahu Berlin meski itu hanya candaa.
Ia ikut tersenyum dengan tingkah sang anak yang tidak berubah, masih seperti anak kecil. Kini matanya menatap kearah belakang sang anak, terdapat tuan mudanya dan Celsi sahabat dari anaknya.
"Makasih ya Celsi dan tuan muda!" Ucap Tami dengan senyum tulusnya.
"Tante enggak usah berterima kasih, Celsi ikut senang saat Tante sadar!" Ucap lembut Celsi yang membalas senyuman tulus dari Tami.
"Bibi harus tetap berhati-hati saat nyebrang, tak boleh sampai terjadi seperti ini lagi!" Kaisar malah memperingatkan dengan wajah tegas.
"Makasih tuan muda, bibi mungkin terlalu ceroboh nyebrangnya!" Balas Tami yang tersenyum lembut.
"Kau ini orang baru sadar itu menanyakan keadaan, ini malah menegur...huh...dasar!" Jengkel Celsi dengan mata yang memutar muak.
Kaisar tak membalasnya, ia memperhatikan wajah Tami tak sepucat saat masih koma, bahkan kini wanita paruh baya itu sedang mengobrol dengan Berlin menyalurkan kerinduan antara mereka berdua.
Sungguh suasana yang begitu sangat diinginkan Kaisar, ia ingin keluarganya berkumpul dengan nyaman dan berbincang selain tentang bisnis.
"Aku keluar dulu!" Ucap Kaisar yang langsung melangkah begitu saja tanpa mendengar ucapan bibi Tami yang menanyakan ia mau kemana.
__ADS_1
Saat ini Kaisar lebih baik pergi keluar membeli buah untuk bik Tami dari pada harus berada disana yang membuatnya iri dengan keromantisan kedua ibu dan anak itu yang belum pernah ia rasakan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Disebuah ruangan yang begitu dingin dan tertutup itu harus digunakan untuk aktivitas panas dua orang yang beradu kasih. Mereka berdua sama-sama menikmati aktivitas diantara mereka berdua, sudah hampir 1 jam mereka melakukannya namun belum juga ada puas diantara mereka berdua. Sudah berbagai gaya telah dilakukan untuk menikmati aktivitas panas itu, hingga mereka berdua ambruk di ranjang yang berantakan.
"Kau sangat nikmat baby, i will always want you!" Bisik pria itu dengan suara seraknya.
Dia adalah Abraham, seorang pria 30 tahun yang merupakan seorang CEO di perusahaan cabang perfilman. Kini ia sedang melakukan aktivitas panas dengan seorang gadis yang ingin menjadi seorang bintang papan atas.
Dia Cinta, yang bernama lengkap Ayunda Cinta Weldan, meski tanpa menggunakan nama latar belakangnya. Ia berhubungan badan dengan pria itu demi menjadi bintang kalangan atas demi menjadi sempurna di mata keluarga Aldebaran.
Ia ingin menambah kesempurnaan dirinya yang merintis karir dengan begitu cemerlang meski baru akan tamat sekolah dua Minggu lagi.
Dengan dia menjadi bintang ternama, ia akan menguatkan kedudukan dirinya menjadi menantu keluarga Aldebaran, ia tidak main-main dengan tekadnya bahkan rela membiarkan keperawanan nya pada pria yang sudah beristri ini.
"Apa kau akan menjadi kan aku seorang bintang kelas atas?" Tanya Cinta dengan nafas tersegal-segal karena masih begitu lelah.
"Tentu, karena kau telah memuaskan ku!" Ucap pria itu dengan mengecup lembut kening Cinta.
"Bagaimana dengan istrimu jika ia mengetahui hal ini?" Tanya Cinta yang berusaha berhati-hati dalam berucap.
"Aku tak peduli padanya sayang, ia begitu berantakan setelah memiliki anak, kau begitu menggoda dari pada sampah itu!" Sarkah Abraham dengan wajah kesalnya.
"Oh benarkah, apakah aku begitu menggoda?" Goda Cinta yang mengelus-elus dada bidang Abraham.
Sungguh gadis itu meski pertama kali merasakan hal ini, tapi entah kenapa ia merasakan kenikmatan saat berhubungan dengan pria dihadapannya itu, setidaknya tidak ada rasa penyesalan dari nya yang begitu besar.
"Kamu menggoda ku sayang!" Ucap Abraham yang kembali menghimpit Cinta.
"Seperti nya begitu!" Timpal Cinta.
Terjadilah pergulatan panas diantara mereka di kamar yang sudah kembali dingin menjadi panas kembali karena kegiatan panas yang sudah dimulai kembali.
__ADS_1