Benci Menjadi Cinta

Benci Menjadi Cinta
Bab 44


__ADS_3

...🍃 READING BOOK 🍃...


Di kantin sekolah, dimana Kaisar beserta teman-temannya duduk disalah satu bangku dekat kaca yang menghadap kelapangan.


Farrel, Hendra dan juga Rayhan menatap pada kaisar dengan ekspresi bingung. Terlihat wajah Kaisar yang santai-santai saja dan bersikap datar seakan tak terjadi apa-apa.


"Berhenti menatap ku!" Ucap Kaisar yang merasa cukup risih jika terus ditatap seperti itu.


"Aku merasa aneh deh sama si Kaisar!" Ucap Farrel sambil menatap penuh penasaran pada Kaisar.


"Yoi, aku juga! Terlebih terdengar gosip kalo Kaisar gendong gadis cupu yang pingsan!" Ujar Hendra menimpali.


Rayhan tetap diam, ia menyimak perkataan kedua temannya itu, tanpa berniat untuk ikut bergabung.


"Terus kemana aja kamu pas pelajaran buk Martha, tau nggak kalo buk Martha marah!" Ucap Farrel yang mengingat kejadian buk Martha yang marah.


"Dan sekarang disuruh ke kantor guru untuk menemuinya!" Sambung Hendra.


"Baiklah!" Ucap Kaisar yang langsung bangkit dari duduk santainya. Ia memasuki handphone nya didalam saku dan berjalan lebih dulu.


Mereka semua pun saling tatap dan ikut berlari mengikuti Kaisar, sedangkan Rayhan yang memang orangnya pendiam memutuskan ikut juga berlari karena ia tidak ingin ditinggal.


Kini mereka berada didepan pintu kantor guru menunggu Kaisar keluar dari dalam.


Tak berselang lama Kaisar keluar Dangan wajah datarnya tanpa ekspresi, terlihat ketiganya menunggu ucapan Kaisar tentang apa yang terjadi didalam.


"Kai, apa yang dikatakan ama buk Martha?" Tanya Hendra yang cukup kepo.


"Buk Martha minta kamu jadi menantunya!" Jawab menyeleneh oleh Kaisar pada Hendra.


Seketika Hendra mendengus kesal, ia sungguh tak suka melihat anak dari buk Martha yang pendek dan kutu buku, gadis berbanding terbalik dengan tipikal gadis impiannya.


Meski waktu itu semua orang tak sengaja menemukan fotonya dari selipan buku yang dibaca oleh gadis itu, bahkan lebih tak habis pikir terdapat tulisan difotonya bahwa dia calon suami gadis itu, sehingga hal itu membuat kadang ia ditertawakan dengan gadis itu oleh teman-temannya.


"Ciah...sinyal ijo tu, kan mana tauan buk Martha yang killer itu mau kasih nilai terbaik untuk mantunya!" Timpal Farrel yang ikut mengejek.

__ADS_1


Hendra hanya dapat memasang wajah kesal dan memilih diam, jika ia membela diri maka Farrel dan yang lainnya pasti ikut menertawakan dirinya.


"Sudah ah, yok!" Ucap Kaisar yang kembali dengan mode wajah datar.


Ya begitu lah pertemanan mereka, ada kalanya bercanda dan ada kalanya memasang wajah yang sangat datar.


Semua orang sempat mengatakan bahwa mereka begitu pendiam dan dingin karena jika beberapa orang menyapanya maka mereka hanya mengangguk saja dan itu pun jika mereka dalam mood yang benar-benar baik.


Mereka berjalan kembali kelasnya, sebenarnya sekarang sedang jam kos dikarena pak Mudin guru bahasa Indonesia tak hadir karena istrinya melahirkan.


Kalian tau siapa yang menjadi ketua kelas, ketua kelas di kelas mereka adalah Rayhan. Ya, Rayhan Habibie Lubis teman se-geng, se-Cs dan berteman dengan Kaisar dan yang lainnya.


Memiliki sikap yang lebih pendiam dari pada Farrel dan juga Hendra, sikapnya sebelas dua belas sama Kaisar, bahkan kehidupan keduanya sama dimana kedua orang tua mereka sibuk dengan urusan bisnis, tapi bedanya Kaisar masih memiliki mama Desi nya.


"Ambilah bunga ini!" Ucap seorang gadis sambil tertunduk tak berani memperlihatkan wajahnya.


Kaisar menatap bingung pada gadis dihadapannya, pasalnya gadis itu tiba-tiba memberikan sebuah bunga mawar dihadapannya dan menyuruhnya mengambil bunganya.


"Hayo...ada apa ini, apakah kamu menembak Kaisar!" Ucap Hendra yang langsung merebut bunga dari tangan gadis itu.


"Ayolah, jangan bunga lagi coba lah kau sedikit menegakkan kepala mu mungkin Kaisar akan memperhatikan mu cantik!" Ucap Hendra menggoda gadis itu, yang membuat gadis itu langsung blushing.


Gadis itu perlahan mengangkat wajahnya, ia menatap dengan rasa takut kearah Kaisar yang berwajah datar dan dingin.


"Coba katakan sekarang, kenapa kau menyuruh kaisar mengambil bungamu?" Tanya Hendra yang merangkul bahu gadis itu.


Seketika gadis itu langsung gemetaran, ia sungguh tidak sanggup diperlakukan seperti ini oleh most warted saat ini. Bahkan ia kaku ditempat dengan mulut yang masih tertutup.


"Aku terima, tapi lain kali jangan memberikan apa-apa padaku!" Ucap Kaisar yang datar berjalan lebih dulu meninggalkan gadis itu yang mematung.


sedangkan Hendra ia langsung melepas bahu gadis itu dan berkedip sebelah mata pada gadis itu dengan bunga mawar yang ada di mulutnya.


"Pitchu...semangat!" Ucap Hendra yang menggunakan tangannya yang seakan sedang menembak.


keempat orang lelaki itu telah pergi, tetapi gadis itu tetap diam ditempat seakan tubuhnya tidak bisa digerakkan saat itu.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kini didalam UKS, Berlin baru saja sadar. Saat ini Celsi sedang menyuapkan sesuap demi sesuap bubur yang ia beli dikantin.


"Sudah, aku tak ingin makan lagi!" Ucap Berlin yang menolak suapan bubur itu lagi.


"Baru lima sendok Berlin, sini aaa....!" Ucap Celsi yang masih memaksa menyuapkan sesuap sendok kedalam mulut Berlin.


"Udah ah, udah kenyang!" Tolak Berlin dan dengan terpaksa Celsi meletakkan mangkok bubur itu di atas nakas.


"Oh iya, siapa yang bawa aku kesini cel?" Tanya Berlin yang cukup kepo.


"Kaisar!" Jawab santai Celsi dan seketika air Berlin yang baru saja akan ia telan harus berhamburan keluar mendengar ucapan Celsi.


"Berlin!!! ah kan basah!" Kesal Celsi sambil mengipas-ngipas tangan nya pada roknya yang sedikit basah.


"Kamu sih bikin terkejut aja bilang nama kak Kaisar segala lagi!" Dengus Berlin.


"Tapi emang tu bocah yang bawa kamu!" Ketus Celsi.


Berlin pun tersenyum tipis, cukup senang karena yang membawanya adalah Kaisar. Ntahlah, ntah sejak kapan ia cukup senang jika ada yang bersangkutan dengan Kaisar.


"Sekarang bilang, siapa yang ngelakuin itu semua?" Kini Celsi langsung mengintimidasi Berlin yang padahal baru sadar.


"Nggak tau!" Jawab Berlin.


"Jawab Berlin, aku tau orangnya tapi aku mau denger langsung dari mulutmu itu!" Kesal Celsi karena sahabat nya itu tak mau menjawab dengan jujur.


"Sungguh aku tak tau, waktu aku dikuncikan aku tak melihat siapa-siapa sampai akhirnya air jatuh dari atas yang membuat bajuku basah!" Jawab Berlin sambil menunduk.


"Bukan air tapi itu kotoran got!" Kesal Celsi, "Denger suara mereka nggak!" Lanjutnya menanyakan.


Berlin hanya mampu menggelengkan kepalanya, hal itu membuat Celsi membuang nafas dengan kasar. Berlin sungguh tak mau memberi tahu pelakunya, padahal jika gadis itu memberitahukan nya maka ia akan memberi pelajaran pada mereka.


"Haish...baiklah!" Pasrah Celsi.

__ADS_1


__ADS_2