
...đ READING BOOK đ...
Kriiinggg....kringgg... kriiinggg
Kini waktu pulang sekolah pun sudah berbunyi, Berlin dan Celsi sudah siap pulang dengan tas yang disandangnya. Mereka berdua berjalan melewati beberapa kelas untuk pergi meninggalkan gedung sekolah.
Didalam berjalan, Berlin selalu diam meski Celsi terus bercerita yang menurut Berlin sangat random.
"Iss...aku dah panjang lebar cerita dan kamu nggak ada respon!" Kesal Celsi dengan cemberutnya.
"Pulang yok!" Ajak Berlin yang tak ingin memperpanjang perdebatan.
"Huh...!" Celsi hanya mendengus kesal dengan penuturan Berlin yang begitu acuh.
Mereka berdua pun melanjutkan melangkah agar segera meninggalkan gedung sekolah, namun Kaisar yang ntah kapan langsung menghadang Berlin.
"Buatin PR ku!" Kaisar langsung melempar buku nya kearah Berlin yang tak berkesiap menangkap nya dan mengharuskan Berlin harus sedikit membungkuk untuk mengambil buku itu dilantai.
"Enak aja kamu, buat sendiri!" kesal Celsi yang langsung melempar kembali buku yang berada ditangan Berlin.
Kaisar dengan siap menangkap bukunya, ia menatap kesal pada Celsi yang ikut campur dengan urusannya.
"Apa mau marah, jadi orang itu jangan ngandelin orang dong!" Sinis Celsi dengan menantang Kaisar.
"Kamu ya!!" Geram Kaisar.
Ingin sekali pria itu mencekik Celsi lalu melemparkannya ke lobang buaya.
"Udah cel, biar aku kerjakan!" Ucap Berlin yang menghalangi Celsi agar tidak kembali beradu mulut dengan Kaisar.
"Nggak ada, kebiasaan kali!" Bantah Celsi, "Sekarang bawa nggak buku kamu itu atau nggak aku robek!" Terlihat Celsi sangat kesal pada Kaisar dan bahkan begitu tidak sopan nya melempar buku kearah Berlin tanpa kata permintaan tolong.
"Kamu jangan sok hebat deh, sekarang aku berurusan sama dia bukan kamu!" Kesal Kaisar yang menarik tangan Berlin dengan kasar.
__ADS_1
"Tapi dia sahabat aku, jadi orang jangan sok berkuasa deh!" Celsi langsung menarik Berlin kembali, saat ini ia cukup emosi dengan ucapan yang dilontarkan oleh Kaisar.
"Heh...dasar, sekarang kalo aku merasa berkuasa gimana, apa kau bisa ngaturku!" Tantang Kaisar yang maju satu langkah menghadap Celsi.
Mereka berdua saling tatapan, tatapan saling ingin membunuh dan bermusuhan sangat lekat di mata mereka, sehingga membuat Berlin sedikit khawatir untuk memisahkan mereka.
Tiba-tiba teman-teman Kaisar datang dengan sedikit berlari, mereka menatap bingung saat kedua orang yang pernah bertengkar kini bertengkar lagi dan hal itu tak mereka ketahui.
"Eh itu, sebaiknya kita pulang deh kai!" Ajak Farrel dengan sedikit menarik kebelakang tubuh Kaisar, namun pria itu langsung menghempas Farrel sehingga tidak bisa menarik Kaisar lagi.
Mereka berdua terus bertatapan, terlihat mata keduanya yang sudah merah menahan amarah.
"Jangan mengira ayahmu sahabat ayahku, membuat ku takut melawan mu Kaisar!" Ujar Celsi dengan mata yang masih menatap Kaisar.
"Heh...kau pikir aku akan mengandalkan koneksi ayahku, dasar bodoh sok hebat!" Remeh Kaisar yang tersenyum miring kepada Celsi.
"Kamu ya!" Celsi langsung mengangkat tangannya keatas, mengepal ingin memukul Kaisar yang mengatakannya bodoh, namun Kaisar langsung menahannya.
Sedangkan Berlin yang ingin menghalaunya, akhirnya lega karena Kaisar dapat menahan serangan Celsi karena ia tidak ingin karena dirinya sahabatnya juga mengalami kesulitan.
"Buat tugasku, kau masih menjadi budak ku untuk dua bulan lagi!" Ujar Kaisar melempar bukunya lagi dan pergi bersama teman-temannya.
Berlin langsung mengambil buku yang tergeletak di lantai karena kaisar melemparkannya, ia menghela nafas berat harus pasrah dengan perilaku yang diberikan Kaisar padanya.
"Isss...kamu kok nggak lawan sih, bikin kesel aja!" Celsi yang langsung melangkahkan kakinya menuju bangku yang disediakan.
Berlin menghampiri, ia ingin menenangkan hati sahabatnya itu, meski ia tidak yakin bahwa ia tidak akan mendapatkan amukan dari sahabat nya itu.
"Kamu lawan dong, kan ada aku jadi jangan takut!" Kesal Celsi dengan nafas yang ngos-ngosan menahan amarah.
"Aku tidak bisa!" Lirih Berlin menunduk merasa bersalah.
"Huh...dia itu kalo nggak dikasari pasti nggak mau baik, jadi kamu jangan mau diperbudak dong!" Ketus Celsi memegang buku Kaisar lalu melemparkannya.
__ADS_1
Berlin langsung bangkit dari duduknya mengambil buku itu, ia tidak ingin buku itu semakin rusak dan ia harus memperbaikinya atau bahkan lebih parah harus mengulang dari awal.
"Ngapain sih diambil...sudah biarin aja, biar tau tu orang!" Celsi masih kesal dengan Kaisar terlebih pada sahabatnya yang mau-mau saja di anggap budak begitu saja.
"Nggak bisa cel, ntar rusak aku yang ganti lagi!" Ucap Berlin yang kembali duduk disamping Celsi.
Celsi hanya dapat menghela nafas berat, ia harus mengendalikan emosinya untuk memberi Berlin pengertian agar tidak mau dengan mudah di perlakukan oleh orang lain semena-mena.
"Aku bawa air, apa kamu mau cel?" Tawar Berlin yang langsung sibuk mengambil air minum yang berada disamping saku tas nya.
"Makasih!" Celsi masih menggunakan nada ketus, namun Berlin hanya tersenyum, ia tau bahwa sahabatnya itu sangat khawatir pada dirinya sehingga bersikap seperti itu.
Setelah Celsi menyegarkan tenggorokan nya, ia pun memberikan nya pada Berlin kembali.
"Aku menjadi budaknya bukan keinginan ku, aku mohon kau mengerti Celsi ku sayang!" Berlin bernada lembut menggenggam tangan Celsi.
"Kenapa coba, jelaskan padaku padahal kau bisa menolak loh Berlin!" Celsi membutuhkan penjelasan yang pasti, ia tidak habis pikir sahabatnya ini begitu mudah menjadi budak orang.
"Dia memaksaku dengan kekuasaannya, kau tau bukan! aku hanyalah seorang anak pekerja bangunan dan pembantu, seharusnya aku tak mengusik orang itu..." Jelas Berlin.
Manik matanya menelusuri setiap inci wajah Celsi yang tampaknya semakin emosi mendengar ucapannya.
"Tapikan..."
"Aku sudah berkata bukan, cuman tiga bulan doang kok!" Berlin langsung memotong ucapan Celsi yang sepertinya ingin membantah dirinya lagi.
"Alasan!"
"Aku sudah membuat perjanjian!" Jawabnya.
"Lalu kenapa kau bisa terjerat ama tu orang?" Tanya Celsi yang semakin kepo dengan Berlin yang menjadi seorang budak selam tiga bulan.
"Karena aku mengatakan dia gila!" Ucap Berlin mengedipkan satu matanya. "Sekarang kita pulang, seperti nya sudah hampir sore!" Ajak Celsi dengan langsung bangkit dari duduk nya.
__ADS_1
Terlihat Celsi sudah sedikit tenang karena penjelasan Berlin yang cukup membuat Celsi menerimanya dan memahami posisi Berlin saat ini.