Benci Menjadi Cinta

Benci Menjadi Cinta
bab 63


__ADS_3

...🍃 READING BOOK 🍃...


Dipagi hari nya, kini Berlin sudah bersiap dengan baju seragam sekolahnya. Ia keluar dari kamarnya menuju meja makan, terlihat sang ayah dan ibu nya sedang menunggu di ruang makan.


"Pagi ma pa!"


"Pagi nak!"


"Sarapan dulu sayang!" Ucap Tami dengan menyodorkan sepiring nasi goreng di hadapan Berlin.


"Makasih ma!" Ucap Berlin sambil tersenyum.


"Bagaimana kamu sekolah, apakah ada sesuatu yang disembunyikan?" Tanya Yudha dengan raut wajah yang cemas.


"Tidak ada ayah, ayah tenang saja!" Ujar Berlin dengan tersenyum semanis mungkin.


"Alhamdulillah ayah pun tenang, semoga perasaan ayah enggak benar!" Ujar Yudha dengan nafas lega.


"Nak ibu boleh nanya enggak?" Tanya Tami dengan raut wajah serius.


"Iya buk, katakan saja pasti Berlin jawab!" Ucap Berlin yang saat ini beraut wajah tak tenang karena tumben-tumbenan kedua orang tuanya mempertanyakan hal-hal seperti ini.


"Hmm...ini sih bukan menanya tapi lebih kearah memohon nak, mama ingin kamu jangan dekat dengan Kaisar tuan muda Aldebaran, kau tau kekuasaannya bagaimana dengan kita yang hanya rakyat jelata!" Ujar Tami dengan wajah yang sayu.


"Iya Berlin tau, kenapa ibu bisa mengatakan itu!" Ucap Berlin yang sedikit menunduk.


"Kaisar menanyakan tentang mu nak, ibu takut kau dekat dengan Kaisar, Berlin tau bahwa kaisar itu memiliki agama yang berbeda dengan kita!" Ucap Tami yang lembut.


"Berlin tau Bu, Berlin enggak terlalu dekat dengan Kaisar!" Cicit Berlin.


"Ibu harap jangan pernah berurusan dengannya, dia sudah punya tunangan nak dari keluarga Weldan, kakak nya Celsi!" Ucap Tami menjelaskan.


Deg


Sedikit sesek rasanya mendengar bahwa Kaisar telah dijodohkan, padahal ia disini tidaklah memiliki hubungan dengan pemuda itu, beberapa hari sikap Kaisar yang begitu membuat dirinya yang memang tak pernah mengenal cinta menjadi mudah untuk merasakan getaran hati.


"Ibu harap kamu mengerti dan jangan pernah dekat oke!" Ujar Tami dan diangguki oleh Berlin.


"Berlin udah mau terlambat Bu, yaudah Berlin pergi dulu ya!" Ujar Berlin yang langsung bangkit dari duduknya.

__ADS_1


"Eh habisin ini dulu, kamu saja baru memakan dua suap nak!" Ujar Tami yang menarik tangan Berlin.


"Tapi Berlin udah mau terlambat ma!" Ucap Berlin dengan wajah memelas.


"Yaudah baiklah, hati-hati jalannya!" Ucap Tami.


Berlin pun langsung menjulurkan tangannya untuk meminta salam pada kedua orang tuanya. Tami dan Yudha menerima juluran tangan itu dengan senyum hangat pada anak nya itu.


"Berlin pergi dulu ma pa!" Ucap Berlin yang langsung berlari keluar rumah.


Berlin berlari keluar dari gang, ia tidak ingin ketinggalan angkot untuk pergi ke sekolah. Ia berdiri di halte yang terdapat beberapa anak sekolahan yang sama seperti nya menunggu angkot.


"Naik ber!" Ujar seseorang yang berada diatas motor, Berlin melihat orang yang dihadapannya.


Ia tersenyum senang melihat Celsi yang menghampiri nya, dengan cepat ia naik keatas motor Celsi meski sedikit kesulitan.


"Udah!" Ucap Berlin sambil memegang pinggang Celsi.


Celsi hanya mengangguk dan melajukan motornya meninggalkan halte itu, didalam perjalanan keduanya sama-sama diam karena cukup sulit mendengar dan mengobrol saat motor melaju.


Sesampainya di area sekolah dengan segera motor Celsi terparkir di parkiran motor. Tak berselang lama lima motor pun memasuki area sekolah, menjadi pusat perhatian dan yang paling banyak adalah para gadis yang memperhatikan mereka datang.


"Cel yok masuk, aku males disini!" Ucap Berlin yang langsung menarik Celsi menjauh dari parkiran itu.


Kaisar baru saja membuka helmnya, ia melihat keberadaan Berlin yang menarik Celsi untuk menjauh dari area perkiran, alisnya terangkat satu seakan ada rasa yang janggal.


"Yok Kai kelas yok!" Ucap Farrel dengan merangkul Kaisar.


Bersama-sama mereka memasuki kelasnya meninggalkan area parkiran yang ramai. Berjalan santai menelusuri koridor yang cukup ramai, seperti biasa mereka akan tetap menjadi pusat perhatian.


"Kalo jalan itu lihat-lihat!" Bentak seseorang pada seseorang yang tampak sedang terduduk dilantai dengan menunduk.


"Dasar culun enggak guna, ck...wajah jelek mu ini seharusnya tak berada disini!" Geram Jessica dengan mencekram dagu gadis itu dengan kuat.


Sedangkan ditempat tak jauh dari sana, Kaisar dkk tetap diam memperhatikan apa yang dilakukan Jessica. Namun pada akhirnya mereka memutuskan untuk mendekat melihat gadis yang begitu menyedihkan itu.


"Berlin!" Terkejut Kaisar saat sudah berada didekat.


Terlihat kepang Berlin yang sangat kacau dan kaca mata yang terjatuh dilantai, baju nya basah dengan sedikit warna kuning. Gadis itu sesegukan menangis dengan wajah yang menunduk.

__ADS_1


"Kau kok tega banget Jes, padahal cewek culun ini kan dari tadi sudah minta maaf!" Ujar Ridwan yang membantu Berlin berdiri.


"Dia tu nabrak aku, dia nya aja yang terlalu lemah!" Ujar Jessica membela diri.


"Kau akan berurusan dengan ku!" Tegas Kaisar tatapan tajam dan dingin.


Kaisar langsung menggendong Berlin ala bridal style yang membaut semua cewek yang ada disana merasa iri. Bahkan ada yang berteriak histeris dengan yang dilakukan Kaisar saat ini.


Teman-teman Kaisar terdiam sejenak, memilah apa yang dilakukan Kaisar pada gadis culun itu, Sekitar 5 menit lamanya akhirnya mereka pun sadar dari lamunannya dan langsung mencari keberadaan Kaisar.


ditempat lain, lebih tepatnya UKS. kini Kaisar menatap tajam pada Berlin yang terus menunduk takut dengan tatapan tajam nya.


"Kenapa bisa di bulyy?" Tanya Kaisar yang tak melepaskan pandangannya.


"A-aku tak sengaja nabrak!" Ucap Berlin yang gugup.


"Kenapa enggak melawan!"


"Aku tak bisa!"


"Kenapa?"


"Mereka memiliki kekuasaan sedangkan aku hanya gadis beasiswa yang culun, aku juga lemah tak memiliki kekuatan melawan!"


"Kau bodoh!"


"Aku tau aku bodoh, maafkan aku!"


Kaisar berdecih kesal mendengar jawaban dari gadis yang dihadapannya itu, kenapa ia begitu lemah dan terus menunduk jika diganggu, bahkan ia menyebutkan bodoh saja Berlin mengiyakan nya.


"Apa kau tak bisa tegas!" Sentak Kaisar yang langsung membuat Berlin langsung terlonjak kaget dan memundurkan duduknya.


"A-aku tidak bisa!" Jawabnya dengan tubuhnya yang gemetar.


"Ck...apa aku harus mengajarkan mu cara nya melawan, apa dirimu hanya mengandalkan Celsi dan disaat Celsi tak ada maka kau mudah di bully!" Sinis Kaisar yang menatap tajam pada Berlin.


"Bu-bukan..."


"Apa! Bukan kah itu semua betul, lihatlah betapa mudahnya mereka membuly mu ini tanpa ada Celsi, belajarlah mandiri jangan mengandalkan orang lain!" Ketus Kaisar dengan emosi yang masih menyelimuti, bukan emosi pada Berlin tetapi pada perbuatan Jessica.

__ADS_1


"Kau bisa pergi!"


__ADS_2