Benci Menjadi Cinta

Benci Menjadi Cinta
Bab 62


__ADS_3

...🍃 READING BOOK 🍃...


liukan tubuh dengan tangan yang di gelombangkan, gerakan selaras dan sedikit dibuat seperti robot. itulah contoh yang di tunjukkan oleh para anak jalanan itu pada dua gadis itu.


"Cel seperti aku tidak bisa deh, itu gimana cara liukinnya!" Ujar Berlin dengan meringis melihat begitu lincah para pemuda itu meliukkan seluruh tubuh mereka.


"Jangan mudah menyerah, itu cuman contoh jadi kita harus perhatikan!" Ujar Celsi.


"Baiklah!" Jawab lesu Berlin dan kembali memperhatikan setiap gerakan yang di contohkan.


"Sudah, sekarang bagaimana apakah kalian mau mencobanya?" Tanya Refan yang langsung menghampiri dua gadis itu.


"Itu...ajarin dong dasarnya dulu secara perlahan, kita berdua belum pernah dance!" Ucap Berlin memberanikan diri.


"Baiklah, yaudah kamu aku yang ngajarin!" Ujar Refan dengan senyum manisnya.


Plakkk


"Bisa aja kau modus!" Ujar Celsi dengan menggeplak kepala Refan.


"Yaampun sakit loh, gila banget nih anak!" Jengkel Refan sambil memegang kepalanya.


"Bodo amat!" Ketus Celsi.


Berlin dan Celsi pun berjalan di tengah-tengah kerumunan mereka yang sedang menggerakkan tubuhnya.


"Mau gerakan seperti apa simpel, sederhana, atau sulit?" Tanya pegi yang menghampiri Celsi.


"Sederhana tapi luar biasa!" Ucap Celsi yang membuat mereka langsung mengangguk bersamaan.


"Baiklah kita mulai!" Ujar Refan.


Mulailah Refan menggerakkan tubuhnya dengan gerakan slomow dan diikuti oleh Celsi dan Berlin. Mereka semua bersama-sama membantu agar gerakan Celsi dan Berlin lebih bergerak luwes dari gerakan mereka yang kaku itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Disebuah kafe yang cukup ramai, interior ala remaja zaman sekarang. Berkumpul beberapa banyak remaja di dalam satu meja yang sudah digabungkan dalam empat meja panjang.


Kaisar beserta teman-temannya dari dalam sekolahnya dan beberapa sekolah luar yang dekat dengan nya. Mereka semua bercanda tawa seakan melepas kerinduan yang telah lama.

__ADS_1


"Gaes gimana kalo kita foto bersama dulu gimana?" Ujar dewa yang mengeluarkan kamera nya.


Ya dewa adalah seorang fotografer profesional, namun bersekolah ditempat lain dimana berada di sekolah sebelah.


"Suruh orang aja, ntar kau enggak masuk kayak waktu itu!" Ujar Farrel yang mendapatkan anggukan semua teman-temannya.


"Emang nya siapa yang mau fotoin!" Ujar dewa yang melihat sekitarnya.


"Sewa aja abang fotografer cafe!" Jawab Gabriel.


"Bentar!" Ujar dewa yang berjalan lebih dulu menuju tempat abang fotografer yang sedang memfoto orang lain.


Terlihat dewa sedang berbincang-bincang dengan fotografer dan akhirnya dewa menunggu sebentar lalu kembali mendekat ke kumpulan mereka tadi.




Anggap aja mereka lagi di cafe ya gaes...maaf kagak bisa cari visual yang cocok di cafe yang ramai


Beberapa ceklek foto tersimpan di kamera milik dewa, kini mereka kembali membicarakan hal gabut yang mungkin hanya diketahui oleh para lelaki.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Udara panas membuat mereka harus sampai berkeringat banyak seperti ini, bahkan mereka dilarang istirahat oleh Refan sebelum lima gerakan mereka hapalin.


"Nyerah...serius, nyerah banget dah, mana pinggang ku mulai sakit lagi!" Gerutu Celsi sambil melambaikan tangan.


"Hahahaha... princess kita tepar, padahal dia pernah melakukan hal lebih dan ini baru dance loh!" Ledek Tier yang diikuti oleh yang lain tertawa.


Celsi menatap tajam pada Tier yang berani meledeknya, pemuda itu meneguk air ludah nya dengan berat dan berpura-pura mengambil cemilan.


"Hahahaha...skakmat enggak tuh, mana tu muka kayak pantat kuali lagi!" Ledek pegi pada Tier yang membuat semua orang tertawa lepas, sedangkan Tier hanya bersungut kesal.


Berlin ikut terkekeh kecil melihat candaan mereka semua, cukup senang bisa bergaul dengan anak jalanan yang sangat ramah seperti ini, padahal dulu ia berpikir bahwa anak jalanan itu begitu berandalan.


"Panas ya!" Ujar Refan pelan yang memberikan dua lembar tisu disaat Berlin sedang ikut tertawa mendengar candaan teman-temannya.


"Hehehe iya nih, makasih!" Berlin menerima tisu yang di berikan Refan.

__ADS_1


Refan tersenyum manis pada Berlin, ia menatap wajah lugu dan imut Berlin yang tampak begitu merah karena sinar matahari yang memang menyengat.


"Ehemmm...kayaknya ada yang mau pdkt!" Sindir Yeldi yang membuat Refan langsung menggaruk tekuknya yang tak gatal.


"Ingat sebelum mau deketin sahabat ku, maka harus melewati seleksi ku yang ketat!" Bantah Celsi dengan mata yang menatap semuanya.


"Mampus, sepertinya macan betina lagi menjaga wilayah!" Celetuk pegi yang langsung mendapat pelototan dari Celsi.


"Eh udah ah ngapain malah ribut!" Ujar Berlin yang tak enak hati.


"Btw kok bisa temenan ama Celsi?" Tanya Figo yang memang dari tadi hanya menyimak saja.


"Kita bersahabat, enggak tau sih tapi kita sangat dekat!" Jawab Berlin yang membenarkan perkataan temanan menjadi bersahabat.


"Sejak?" Tanya Tier yang cukup kepo.


"Hmm...sejak kelas 8 Smp" Jawab Berlin.


"Wah lama juga ya, kalo kita sih baru dua tahun!" Ujar pegi yang antusias.


"Kok Celsi bisa begitu dekat dengan kalian?" Tanya Berlin yang memang sudah dari tadi pertanyaan itu berputar dikepala nya.


"Celsi nolong anak jalanan dengan membangun warung kopi ini khusus untuk kita, untuk pakci sih memang pengurus nya sih, kita sering manggil Celsi dengan panggilan princess karena dia adalah gadis yang istimewa disini!" Jawab Refan yang menjelaskan.


Berlin mengangguk, ia tersenyum bangga pada Celsi yang tampak hanya bersikap biasa saja.


"Hebat!" Ujar Berlin yang langsung memeluk dari samping Celsi.


"Biasa aja kali, jadi salting deh!" Ujar Celsi yang dramaquen.


"Ku pukul ya cel kalo kayak gini lagi!" Kesal Berlin yang langsung kembali duduk seperti semula.


"Hehehe...yaudah kita pulang yok!" Celsi hanya cengir dan langsung mengajak Berlin pulang, Berlin hanya mengangguk karena ia juga melihat langit yang sudah mau gelap.


"Daaa....aku pergi!" Ujar Celsi yang melambaikan tangan.


"Iya... hati-hati!" Ucap Tier yang melambaikan tangan bersama dengan yang lain mengikuti.


Dengan segera Berlin dan Celsi menuju motor, dan akhirnya motor Celsi melesat meninggalkan daerah yang jauh dari kerumunan.

__ADS_1


__ADS_2