Benci Menjadi Cinta

Benci Menjadi Cinta
Bab 71


__ADS_3

...🍃 READING BOOK 🍃...


Kini disebuah rumah sakit yang cukup terkenal, dimana terdapat seorang wanita paruh baya yang masih belum sadar juga dari koma nya.


Dia Tami, wanita itu tiba-tiba ditabrak oleh sebuah mobil saat akan menyebrang untuk berjalan menuju rumahnya. Namun apa penyebrangan itu malah membuat malapetaka untuk wanita itu.


Sudah tiga hari Berlin terus menangis menunggu kesadaran sang mama, saat ini ia sudah mendapatkan libur panjang sampai kakak kelas selesai ujian akhir.


Saat ini ia bingung harus berbuat apa, uang tabungan yang disimpan selama bertahun-tahun oleh ayah dan ibu nya saja belum cukup untuk melakukan operasi kedua, dimana selama ini mama nya menyembunyikan bahwa ia mengindap tumor di rahimnya.


Kini Yudha ayahnya sedang bekerja mencari untuk biaya sang istri, sungguh pria itu tak ingin kehilangan wanita yang begitu ia cintai itu, kenapa ia baru kali ini mengetahui penyakit istrinya itu, ayolah pria itu begitu menyesal saat ini.


Berlin sesegukan, ia menangis dalam diam dibalik lipatan tangan nya yang sudah basah, ia bingung harus berbuat apa, sedangkan ia adalah gadis yang tak pernah mengenal daerah luar dan bahkan untuk membeli sayur saja ia tak pernah karena ia hanya bisa menjadi anak rumahan.


"Berhentilah menangis!" Suara intruksi seseorang yang begitu ia kenal.


Berlin mendongakkan kepalanya, ia menatap pemuda yang ada dihadapannya dengan senyum manisnya.


"Kak Kaisar!" Ucap terkejut Berlin.


Ia langsung menghapus air matanya, ia tak ingin terlihat rapuh didepan pemuda itu meski sudah diketahui.


"Ini!" Kaisar menyodorkan sebuah kantung yang berisi es batu.


Berlin menerimanya, ia mengompres air matanya yang terus mengalir dan tak hentinya sehingga mengakibatkan matanya bengkak dan merah.


"Kayak panda!" Gelak tawa Kaisar terdengar meski begitu garing menurut nya.

__ADS_1


"Jangan menangis berlebihan, berdoa lah pada tuhan mu, apakah kau tak percaya pada Tuhan mu?" Ucap Kaisar yang langsung membuat Berlin langsung terhenyak.


Apa yang dikatakan Kaisar membuat Berlin langsung terdiam, kenapa ia menangis disini, bukan kah di syariat nya jika ada masalah selalu meminta pada Allah yang maha kuasa, apa iman nya sudah goyah sehingga tidak berdoa dan malah menangis disini selama tiga hari.


"Pergilah berdoa, biar bik Tami aku yang jaga!" Ucap Kaisar dengan tersenyum manis.


"Tap-tapi kak..."


"Udah sana, bik Tami juga orang terdekat ku!" Ucap Kaisar meyakinkan.


Berlin pun mengangguk, ia pun berpamitan langsung dan pergi meninggalkan Kaisar yang terus menatapnya hingga punggungnya hilang dibalik dinding.


...****************...


"Tante, aku enggak mau Kaisar sampai diambil oleh gadis itu, apa aku begitu banyak kekurangan dari gadis itu...hiks...hiks...!" Ucap lemah nya dengan air mata buaya.


"Cinta, Tante akan tetap menjadikan mu menantu Tante, tak akan orang miskin seperti Berlin menjadi seorang ratu di keluarga Aldebaran!" Ucap tegas Desi dengan wajah yang menyorot dendam.


Kini Cinta tersenyum smrik, ia begitu mudah membodohi wanita yang dihadapannya dengan beberapa tetes air mata, ia sungguh tak ingin Kaisar yang ia miliki harus direbut oleh gadis miskin yang bahkan seujung kuku nya saja tak ada di banding kecantikannya.


Ia berpura-pura lemah saat ini, ia akan terus meracuni otak Desi demi mencapai tujuannya dimana ia akan selalu mendapatkan belaan dari wanita itu sama seperti ayahnya yang mudah termakan omongannya.


"Tapi Kaisar telah memilih gadis itu, apa aku sungguh masih bisa bertahan tan!" Lirihnya yang masih dengan air mata yang semakin deras.


Desi tak tega melihat gadis kecil yang menjadi teman kecil Kaisar menangis begitu pilu dihadapannya, ia langsung memeluk dan menenangkannya agar gadis itu tak menangis lagi.


"Tenang, Tante akan melakukan apa saja demi kamu sayang, udah jangan nangis lagi kita makan dulu oke!" Ucap Desi menenangkan.

__ADS_1


Cinta hanya mengangguk dan mereka pun mulai memakan makanan yang telah terhidang dengan rapi di meja mereka.


Sedangkan ditempat lain, dimana kini Berlin duduk dengan kaki bersimpuh. Ia menatap lurus dengan air mata terus mengalir. Tangan nya sudah menampung dan bermonolog dalam hati.


"Ya Allah yang maha kuasa, maha pendengar dan maha mengetahui, sesungguhnya hamba mu ini begitu tak berdaya dihadapan mu, aku begitu bodoh datang kepada mu setelah masalahku semakin begitu berat, aku sudah menjalankan semua perintah mu dan kini engkau menguji ku dengan cobaan begitu berat. Ya Allah, apakah ini ujian yang harus ku jalani, ku mohon kepada mu berikan aku kemudahan dan jalan yang lurus agar menyelesaikan ujian ini. Yang tuhan yang maha kuasa, engkau adalah tuhan yang adil dan Maha memberikan kemudahan, mudahkan semua urusan ku dan selamat kan nyawa ibu ku, sungguh aku belum sanggup untuk kehilangannya meski kau menyayangi nya. Robbana atina fi dunnya hasanah wakina ajabannar...amiiin!"


Hati nya sudah tenang, kini pikirannya sudah begitu dingin. Ternyata benar, semua masalah dengan memohon pertolongan dan kemudahan padanya maka akan menenangkan pikiran.


Kini air mata yang dari tadi mengalir sudah berhenti, ia memutuskan untuk keluar dari mushola rumah sakit itu karena tak ingin membuat Kaisar menunggu dirinya lama.


Ia segera keluar dari mushola itu setelah melepas mukenahnya, ia berjalan cepat sesungguhnya setiap detik maupun menit ia tidak ingin meninggalkan sang mama cukup lama seperti ini.


"Sudah?" Tanya Kaisar saat melihat wajah Berlin yang sudah tampak begitu cerah dari sebelumnya.


Berlin mengangguk dan tersenyum kearah Kaisar, "Makasih kak, Berlin sungguh bahagia karena kakak mau kemari menjenguk ibu!" Ucap Berlin.


Namun senyum Kaisar pudar, disini ia bukan hanya menjenguk Tami tapi juga melihat keadaan gadisnya yang lagi terpuruk meski saat ini ia sibuk untuk memulai ujian akhir semester dengan nilai tinggi.


"Udah makan?" Tanya Kaisar dengan tatapan lekat menatap manik mata Berlin.


"Hmm...itu...!" Berlin sungguh tak bisa menjawabnya, ia sibuk terus menangis hingga ia lupa bahwa ia belum makan dari kemaren sore sampai sore ini.


"Yaudah yok makan dikantin rumah sakit!" Ajak Kaisar yang langsung menarik tangan Berlin.


Berlin langsung menahannya, ia menggeleng menolak dan matanya menatap kearah ruang sang ibu.


"Udah enggak papa, kita cuman makan sebentar dikantin nanti baru kembali lagi!" Ucap Kaisar yang mengetahui keraguan Berlin dari sorot matanya.

__ADS_1


"Baiklah kak!" Pasrahnya.


Berlin pun berjalan mengikuti Kaisar, dengan tangan pemuda itu yang selalu menggenggam nya seakan dirinya adalah seorang anak kecil yang harus dijaga agar tak hilang.


__ADS_2