
...🍃 READING BOOK 🍃...
Kini adalah hari Minggu, ia sudah janjian dengan Celsi sebelum pulang tadi untuk bermain dengan anak jalanan, kini ia dan celsi ingin mengucapkan terima kasih atas semua yang mereka lakukan meski mereka selalu saja mengatakan ikhlas dan tak apa-apa.
Berlin sudah siap dengan output nya, ia memakai celana lebor jens dan baju tipis dengan dilapisi baju manset. Ia menggulung rambutnya dengan menyisihkan setiap sudut satu rambut, jangan lupa kaca mata bulatnya dan pelembab bibir.
Kini ia langsung keluar dari kamarnya, ia melihat sang ayah masih berada dirumah karena hari ini adalah hari Minggu jadi ayahnya akan mendapatkan cuti selama dua hari (Sabtu dan minggu) dan kembali bekerja dihari Senin, sedangkan sang ibu ia tidak akan bisa cuti karena ia adalah pembantu rumah tangga.
"Eh udah rapi aja nak, mau kemana hmmm?" Tanya Yudha lembut sambil membelai pipi tembem Berlin..
"Aku mau pergi dengan Celsi yah, boleh kan?" Jawabnya dan kembali bertanya dengan wajah penuh harap.
"Kalo ayah larang anak ayah sekarang udah cantik, jadi sayang kalo terus dirumah!" Goda Yudha dengan senyum hangatnya.
"Ah ayah Ihh...udah ah, ayo serapan dulu!" Ucap Berlin mengalihkan pembicaraan.
"Yaudah yok sayang!"
Kedua anak dan ayah itu pun makan dengan tenang dan Dian tanpa ada yang akan memulai pembicaraan saat dimeja makan.
Sedangkan di keluarga Aldebaran, kini satu keluarga sedang makan dalam diam, namun jangan salah mata sang mama menatap tajam kearah Kaisar, sedangkan yang ditatap hanya bersikap acuh.
Setelah selesai makan, kini adalah masa persidangan untuk Kaisar oleh kedua orang tuanya, ralat oleh sang mama sedangkan papa nya hanya membiarkan keputusan istrinya karena apapun keputusan nya pasti baik untuk anaknya, karena bagaimanapun seorang ibu membutuhkan ruang untuk dirinya sendiri mengatur anaknya.
Kini Kaisar duduk berhadapan dengan sang mama diruang tengah, mama menatap tajam dan menyelidik kearahnya seakan ia terlalu besar melakukan kejahatan.
"Ngaku sama mama sekarang!" Ucapnya Desi yang begitu tak dimengerti oleh Kaisar.
"Apanya ma, mama ngomong apa Kaisar kurang ngerti!" Ucap Kaisar dengan wajah tenangnya.
"Apa kamu yang membuat panggung acara sekolah kamu roboh?" Tanya Desi dengan mata elangnya seakan ia mencari kebohongan dari mata Kaisar.
"Iya!" Jawab nya singkat.
__ADS_1
Namun hal itu langsung membuat Desi semakin geram, bagaimana sang anak dengan tega membuat panggung roboh dan untung nya tak ada memakan korban jiwa.
"Kamu tau apa yang kamu lakukan berbahaya, apa tujuan mu Kaisar!" Hardik Aldebaran dengan wajah pitamnya.
Ya begitu lah Aldebaran, kalo sekali marah jangan salah lagi, bahkan bumi saja bisa ia jungkir balik karena kemarahannya.
"Itu urusan ku, apa kalian harus tau juga!" Sarkah Kaisar dengan wajah memerah menahan marah.
"Urusan mu, jangan merasa besar dengan yang kau lakukan, kau bahkan dapat memakan korban jiwa Kaisar!" Kemarahan Aldebaran semakin memuncak mendengar ucapan dari anaknya.
"Aku tak ingin keluarga malu akibat tantangan bodoh yang bersangkutan dengan adekku, ku harap mama dan papa tidak perlu mencari nya!" Ucap Kaisar dengan wajah datar.
"Baiklah, satu lagi! Siapa Berlin?" Tanya Desi dengan wajah serius.
Kaisar tetap diam, dari mana sang mama mengetahui nama Berlin, sedangkan ia tidak pernah sedikitpun mengucapkan nama Berlin saat dirumah.
"Jawab Kaisar!" Ucap Desi dengan suara yang sedikit tinggi karena tidak mendapatkan jawaban dari sang anak.
"Tidak siapa-siapa, dari mana mama dapat nama itu?" Tanya kaisar kini beralih pada sang mama.
Ia langsung melempar satu amplop coklat, yang mungkin sebuah bukti yang begitunya begitu penasaran. Dengan sekali mengeluarkan, terdapat semua foto tentang dirinya dengan Berlin, bahkan dari 3 bulan yang lalu.
"Dari mana mama mendapatkan nya?" Tanya Kaisar.
Kini tangan Kaisar terkepal menahan amarahnya, ia sungguh benci dengan sifat mamanya yang selalu kepo dengan kehidupannya. Ayolah ia ingin kehidupan normal dimana memiliki mama yang hanya kepo sedikit saja.
"Aku tak ingin menjawab, sekarang aku minta jauhi gadis itu dan kau akan menikah setelah selesai ujian ini!" Ucap Desi dengan wajah yang begitu datar.
Sebenarnya Desi sudah sangat marah dengan anaknya itu, ia sudah tau semua nya dan semakin lama dibiarkan kaisar malah semakin dekat dan terus berusaha mendekati gadis itu, ia tidak bisa juga menyalahkan gadis itu karena sebenarnya yang salah disini Kaisar anaknya sendiri.
"Aku tak bisa!" Tolak Kaisar yang langsung berdiri.
"Dia tidak seiman dengan kita Kaisar!!" Teriak Desi yang kini emosinya sudah memuncak.
__ADS_1
"Aku tidak peduli, aku bahkan rela pindah agama demi nya!" Jawab Kaisar yang kini ikut berteriak.
Plakkk
Sebuah tamparan begitu keras melayang di pipi mulus Kaisar, yang membuat nya langsung menatap kesamping. Sang ayah kini menatap murka padanya, bagaimana anaknya begitu mudah mengatakan akan berpindah agama.
"Kau sadar apa yang kau ucapkan Kaisar!!" Ucap Aldebaran penuh penekanan dengan emosi yang meluap.
"Ya aku sadar, apa papa tau aku sudah hampir gila dengan semua ini, aku butuh kebahagiaan!" Lirih nya memegang pipinya yang panas.
"Kebahagiaan macam apa yang kau cari, kekayaan! Bahkan sudah ku beri, Kekuasaan! Sudah ku usahakan semampu ku, Kasih sayang! Aku selalu memberi semuanya meski aku begitu sibuk, Cinta! Bukankah tunangan mu begitu baik." Ucap Aldebaran dengan wajah yang begitu amarah, tapi ia harus tetap tenang karena saat ini jika sampai saja ia bertindak berlebihan maka membuat sang anak trauma.
"Aku hanya ingin mendapatkan kebahagiaan dari pilihanku, jangan mengganggu urusan ku dan biarkan aku menjalani hidupku dengan senang!" Ucap Kaisar yang langsung pergi begitu saja tanpa mendengar ucapan kedua orang tuanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kini Berlin dan Celsi sudah berada di tongkrongan anak jalanan, mereka duduk menikmati kelapa muda dingin dibawah sinar matahari pagi.
"Eh gimana, apa kalian menang?" Tanya Refan yang baru saja datang dengan membawa dua batang coklat.
"Panggungnya roboh!" Jawab lesu Celsi.
"APA!" Tanya mereka serentak dengan ucapan Celsi.
"Lah kok bisa?" Tanya nya sambil memberikan satu batang coklat kepada Celsi.
"Makasih!"
"Enggak tau, mungkin ada baut yang lepas!" Ucap Celsi yang mengambil secara logika saja.
Refan pun juga memberikan coklat kepada Berlin dan Berlin menerima nya dengan senang hati. Tanpa berniat untuk ikut gabung perbincangan, Berlin memutuskan untuk memakan coklatnya sedikit demi sedikit.
"Untuk kita mana?" Tanya pegi dan Tier.
__ADS_1
"Beli sana, tempat adek lampu lalu lintas!" Ucap Refan yang mendengus kesal