
...đ READING BOOK đ...
Berlin berjalan dengan perlahan melewati gang, ia cukup takut melewati gang rumahnya dimalam hari karena ia tak pernah sekali pun keluar rumah.
Saat ia melewati jalanan gang, ia melihat beberapa pemuda yang nongkrong di sebuah warung kopi yang selalu buka di malam hari.
"Tumben keluar rumah neng?" Tanya seorang pemuda dengan gaya sok ganteng.
"Ini ada urusan!" Jawab Berlin dengan gugup.
"Hati-hati neng!" Ucap pemuda itu.
Pemuda di gang rumahnya itu adalah teman sepupunya, sehingga diantara mereka sering menyapanya saat bertemu, namun mereka cukup bingung karena Berlin keluar di malam hari pertama kalinya.
Berlin berjalan tergesa-gesa, ia melihat jam di ponselnya dan ternyata ia sudah berjalan lewat 10 menit lamanya.
"Mampus ah, mana lewat sepuluh menit lagi!" Berlin panik dan langsung berlari dengan cepat menuju cafe yang sedikit lagi sampai didepannya.
Berlin menyebrang jalan dengan tergesa-gesa, ia tidak melihat kanan kirinya sehingga sebuah motor sudah melaju saja dirinya tak tahu.
"Hati-hati!" Ucap seseorang yang langsung memeluk Berlin dengan erat.
Berlin sempat syok, ia memejamkan matanya saat tubuhnya yang langsung melayang diudara.
"WOY! JALAN TU LIHAT-LIHAT!!!" Teriak pengendara itu dan langsung melajukan kembali motornya.
Berlin tetap terus menutup matanya, ia berusaha menenangkan hatinya yang syok.
"Dasar ceroboh!" Ucap seorang pemuda yang menolongnya, Berlin perlahan membuka matanya ia sepertinya mengenali suara itu.
"Kakak!" Pekik Berlin.
"Mau kemana malam-malam begini?" Pria itu menatap lekat kearah Berlin.
"Itu, ada perlu di cafe depan!" Jawab nya.
"Pulang, jangan keluar malam lagi!" Ucap pria itu dengan nada yang marah.
"Sekali ini deh kak, plissss....." Mohon nya dengan wajah memelas.
"Huh...baiklah, tapi biar kakak yang temani!" Ucap pria itu sedikit menarik Berlin.
"Eh itu...aku sendiri aja dulu ya kak, soalnya urusan penting!" Tolak Berlin dengan hati-hati.
__ADS_1
"Jangan bilang kamu ketemuan dengan pa..."
"Enggak! Siapa bilang, aku ada tugas kelompok!" Ucap Berlin memotong pembicaraan kakak sepupu nya itu.
"Hmmm...yaudah sekarang pergilah, ingat jangan larut malam!" Ucap pria itu memperingatkan.
"Oke kak!" Ucapnya dan langsung berusaha menyebrang jalan meninggalkan kakak sepupu nya.
Kak sepupunya bernama Rico derwandi, memiliki dua adik kandung yang tidak menyukai Berlin. Jarak rumah Rico dan Berlin hanya beda satu gang saja.
Rico hanya melihat sepupunya masuk kedalam cafe dengan tergesa-gesa, ia cukup ingin tau yang membuat Berlin begitu tergesa-gesa namun ia mengurungkan niatnya untuk mengikuti sepupunya itu.
Sedangkan Berlin yang sudah berada didalam cafe, celingukan mencari seseorang yang seharusnya masih berada di cafe. ia melihat sekelilingnya namun orang itu tak terlihat sedikit pun.
Drrrttt.... drrrttt
Ponselnya kembali berdering yang membuat Berlin segera mengangkatnya.
"Lama banget, telat 25 menit 30 detik, sekarang kamu datang atau tau akibatnya" Ancam seseorang yang bernama Kaisar..
"A-aku di dekat pintu masuk, kamu dimana?"Tanya Berlin dengan sedikit takut.
"Meja nomor 23, sekarang aku tunggu dalam 2 menit kamu gak datang maka akan aku pastikan hidupmu disekolah tak akan nyaman!" Ucap Kaisar dengan nada mengancam.
Dengan segera Berlin langsung berlari mencari meja, ia terus mencari dan akhirnya ia menemuka meja yang di beritahu oleh kaisar tadi.
"Buat Pr ku!" Kaisar melemparkan satu buku kearah Berlin yang masih menetralkan nafasnya.
"Baiklah!" Ucap Berlin dengan menerima buku itu, ia pun berbalik untuk kembali balik kerumah nya.
"Siapa suruh pergi, buat disini!" Ucap Kaisar menahan langkah Berlin.
"Ta-tapi ini...." Ucapnya menatap kearah buku itu.
"Cepat!!" Ucap Kaisar dengan menekankan ucapannya.
Perlahan Berlin duduk dengan rasa takut di depan Kaisar, ia takut dengan tatapan tajam kaisar kearahnya.
"Lakukan cepat, kau telah membuang waktu ku yang berharga, dalam 30 menit belum selesai, maka kau tau akibatnya!" Ucap Kaisar dengan mengancam Berlin.
Dengan cepat Berlin membuka buku itu dengan gugup, ia membaca dengan teliti dan menulis dengan cepat tugas yang diberikan kaisar padanya.
Ia hanya mengandalkan satu buku yang ada di di meja sebagai isi dari soal yang berada dibuku tulis. Sedangkan Kaisar, ia malah asik dengan dunianya sendiri dengan memainkan ponselnya.
__ADS_1
"Cepat sedikit, kau membuatku menunggu ini semua dan membuat semua pacarku ngambek padaku!" Kesal Kaisar pada Berlin.
Berlin hanya diam, ia menahan kesal didalam hatinya. Ia lebih memilih melanjutkan membuat tugas kaisar dari pada melawan ucapan dari cowok itu.
30 menit telah berlalu....
"Lama amat sih, padahal cuman dua puluh lima buah doang!" Kesal Kaisar yang sudah bosan dengan ponselnya.
"Tunggu lah sebentar, tinggal tiga soal lagi ini semua akan selesai!" Ucap Berlin yang masih sibuk menulis semua isinya.
Kaisar pun menunggu hingga tugasnya selesai dikerjakan, ia terus memperhatikan Berlin yang menulis dengan cepat namun tulisannya sangat rapi.
"Ini!" Berlin menyerahkan buku tulis dan buku cetak kepada Kaisar. Ia langsung bangkit dari duduknya dan melakukan perenggangan sedikit pada jari-jari lentiknya.
"Aku pulang, tolong jangan lakukan seperti ini lagi karena saya masih memiliki aturan dari orang tua!" Ucap Berlin memperingatkan pada Kaisar.
"Disini aku yang berkuasa dan kau... Hanya lah sebagai budak!" Tunjuk Kaisar dengan menekankan kata 'budak' diucapkannya.
"Ah aku mengerti!" Ucap Berlin yang menunduk.
Kaisar pergi begitu saja meninggalkan Berlin, ia tidak mempedulikan gadis itu pulang dengan apa dan bagaimana. Saat ini Kaisar hanya memikirkan para gadisnya yang marah padanya karena tak menepati janji ketemuan hari ini.
"Sial, ini gadis meminta putus seharusnya aku yang mengatakan hal itu!" Gumam Kaisar yang terus sibuk dengan ponselnya.
Sedangkan ditempat dimeja no 23, Berlin masih tetap diam ditempat, ia sepertinya belum berniat untuk beranjak dari sana.
"Maaf mbak, ini makanan dari teman anda silakan dibayar!" Ucap pelayan cafe itu dengan memberikan sebuah bill.
"Eh maaf mbak, bukannya ini sudah dibayar ya!" Ucap Berlin yang sedikit panik.
"Belum mbak, kata temannya mbak yang membayar nya!" Ucap pelayan itu menjelaskan.
"Baiklah, berapa kak! Bisa gak kali kasih saya hutangan dulu, besok saya kesini lagi membayarnya!"Ucap Berlin menerima bill itu dan dirinya yang tak membawa uang sepeser pun harus mengatakan hal itu.
"Jadi bagaimana ini mbak, disini sungguh tidak memperbolehkan berhutang sepeserpun" Ujar pelayan cafe itu yang tak ingin mendapat masalah.
"Plisss...sekali ini aja, saya gak bawa duit soalnya!" Mohon Berlin.
"Gak bisa mbak, apa anda gak bawa uang yang terselip sedikit pun?" Tanya ramah pelayan itu.
"Saya buru-buru kesini, jadi lupa untuk membawa uang!" Jelas Berlin.
"Baiklah, bagaimana kalo mbak nyuci beberapa gelas dibelakang sebagai bayaran, disini tak ada menerima utangan mbak!" Ujar pelayan itu memberi saran.
__ADS_1
Dengan helaan nafas yang panjang, Berlin pun hanya mengangguk menyetujui nya dari pada dirinya akan berurusan dengan petugas keamanan.
Saat ini Berlin sangat kesal dengan Kaisar, ia akan membalas ini jika ia memiliki kesempatan. Dengan langkah gontai berjalan kebelakang sesuai arahan dari pelayan cafe.